Tas Belanja Untuk Bunda

Tas Belanja Untuk Bunda“Sayang, nanti ikut Bunda belanja bulanan ya?” ajak Bunda.

“Benar, nih, Bunda!” seru Anik.

“Iya! Sana rapi-rapi dulu. Kita berangkat sekarang,” lanjut Bunda.

“Siap, Bunda.”

Bunda hendak bulanan di supermarket. Biasanya Bunda belanja bersama Ayah, tapi kali ini Bunda mengajak Anik untuk menemaninya.

Tidak menunggu lama mereka pun tiba di supermarket yang terdekat. Anik langsung menarik tangan Bunda menuju bagian rak kebutuhan sehari-hari. Saat itu Bunda sedang mengunci mobil yang sedang di parkir dengan memasang alarm.

“Ayo, dong, Bunda cepatan!” ucap Anik sambil menarik tangan Bunda.

“Tunggu, dong, Sayang! Bunda lagi menguci mobil dulu,” jawab Bunda.

“Oya, Anik lupa! Nanti kalau nggak dikunci mobilnya bisa hilang ya, Bund?”

Bunda hanya tersenyum mendengar ucapan Anik.

“Ya, sudah yuk kita langsung ke rak kebutuhan sehari-hari,” ajak Bunda.

Tiga puluh menit pun berlalu. Akhirnya kebutuhan sehari-hari selama sebulan pun sudah terkumpul di troli belanja. Sekarang Bunda dan Anik sudah di depan kasir.

“Selamat pagi, Bu?  Eh, ada adik manis! Silakan barang-barangnya dikeluarkan dari troli. Mbak mau hitung dulu ya,” ucap penjaga kasir menyapa.

“Silakan, Mbak, dihitung,” tukas Bunda.

“Pakai kantong plastik tidak, Bu?” tanya penjaga kasir lagi.

“Iya, pakai saja, Mbak! Maklum bawaannya banyak,” jawab Bunda singkat.

“Kantong plastiknya dua ratus rupiah ya, Bu.”

Anik yang mendengar pun heran. “Plastiknya kok bayar, ya?” gumamnya.

“Ya, sudah tidak apa-apa, Mbak,” kata Bunda lagi.

Akhirnya semua kebutuhan sehari-hari selama sebulan itu pun dibungkus rapi di kantong plastik. Tinggallah Bunda dan Anik membawanya ke dalam mobil.

“Bunda, kok, kantong plastiknya pakai bayar segala. Bukannya seperti biasanya setiap kali Bunda belanja pasti dapat plastiknya?” Anik bertanya sekaligus heran.

Bunda lagi-lagi tersenyum. Bunda akhirnya menjelaskan.

“Iya, Sayang! Sekarang peraturan pemerintah seperti itu. Jika kita belanja dimanapun dikenakan membayar untuk plastiknya. Tapi tidak dipaksa lho,” ujar Bunda.

“Oya, satu lagi pemerintah melakukan ini agar kita bisa menjaga kelestarian lingkungan. Tujuannya untuk menghemat kantong plastik yang kita pakai. Jika memang kita tidak ingin membayar kantong plastik itu kita bisa membawanya dari rumah. Jadi hemat kantong plastikkan. Ingat lho kantong plastik benda yang paling lama terurai. Jika selama setahun kantong plastik tidak terurai bisa-bisa menggunung dan berakibat banjir,” lanjut Bunda.

“Ih, seraaam ya, Bunda!” Anik bergidik seusai mendengar penjelasan Bunda.

“Iya! Kita pulang yuk, Sayang? Sudah siang nih!”

“Ya, sudah Bunda sini Anik saja yang bawa. Anik kuat kok bawanya.”

Sejak saat itu Anik pun terus memikirkan bagaimana jika uang kantong plastik yang dikeluarkan Bunda lebih baik dikumpulkan saja. Lalu disumbangkan ke panti yatim piatu. Tapi bagaimana ya caranya? Lagi-lagi Anik mulai mencari caranya.

Oya, bukankah Mamanya Sarah seorang penjahit. Kenapa aku tidak minta tolong saja pada Sarah, teman kelas sebangkuku itu. Siapa tahu ia mau membantuku?

Anik sekarang mendapatkan jawabannya. Setiap sepulang sekolah Anik selalu ke rumah Sarah untuk mengumpulkan kain-kain perca itu. Apalagi Mama Sarah juga ingin membantunya untuk menjahiti tas belanja yang akan Anik berikan untuk Bundanya itu. Tentunya Anik sangat gembira sekali.

Tidak menunggu lama akhirnya tas belanja itu pun jadi. Mama Sarah yang menjahitkan tas belanja untuk Anik yang akan diberikan Bunda nanti. Ternyata Mama Sarah lihai sekali menjahit tas belanja dari kain perca. Itu terlihat dari jahitannya yang rapi dan juga diberikan ikon lucu orang tersenyum. Anik sangat menyukainya.

Sebulan kemudian Bunda kembali belanja bulanan di supermarket. Anik kali ini ingin sekali ikut belanja pada Bunda. Apalagi ia ingin memberikan sesuatu pada Bunda saat nanti di supermarket. Ia ingin memberikan tas belanja kain perca itu pada Bunda.

“Pakai kantong plastik tidak, Bu?” tanya penjaga kasir.

“Tidak, Kakak! Anik sudah bawa tas belanjaannya,” timpal Anik.

Bunda yang melihat Anik membawa kantong belanjaan terkejut sekaligus terharu. Apalagi kantong belanjaannya itu begitu unik. Ada gambar ikon tersenyum.

“I-ya, Mbak! Tidak usah kami sudah bawa kantong belanjaannya dari rumah.”

“Oya, Bu! Tidak apa-apa.”

Seusai belanja bulanan kebutuhan sehari-hari Bunda pun menghampiri Anik. Bunda pun memberikan uang pada Anik sebagai pengganti kantong plastik yang digunakan oleh Bunda. Bunda bukan hanya memberikan dua ratus rupiah saja tapi sangat lebih. Anik pun menerimanya dengan senang.

“Bunda sebenarnya uang kantong plastik yang Bunda berikan ini. Semua akan Anik berikan pada yang membutuhkan. Anik akan menyumbangkannya ke panti yatim-piatu biar uang ini tambah bermafaat untuk mereka.” Anik pun akhirnya menjelaskan tujuan ia membuat tas belanja untuk Bunda. Bunda pun mendukungnya.

Mulai saat itu setiap kali belanja bulanan Bunda selalu memberikan uang untuk pengganti kantong plastik pada Anik untuk dikumpulkan lalu diberikan pada yang membutuhkan. Jadi sambil belanja Bunda tidak lupa untuk beramal. Dan semua itu karena ide unik Anik membuat tas belanja.

Oleh Zubeir el-Awwabi