Abdullah bin Amru bin Al-Ash – Selalu Taat Kepada Rasulullah

Namanya Abdullah, seorang pemuda yang pandai dan cerdas. Putra dari sahabat nabi yang bernama Amru bin Al-Ash. Dia lebih dulu masuk Islam dibandingkan sang ayah.

Abdullah bin Amru bin Al-Ash

Abdullah mengenal Nabi Muhammad ketika sebagai seorang yang jujur dan berperangai baik. Dia pun tak ragu mempelajari bahwa ajaran yang dibawa Muhammad. Hati nuraninya yang jernih segera menerima Islam, dan menolak agama nenek moyangnya. Dia masuk Islam ketika ayahnya belum mendapatkan hidayah Allah.

Abdullah belajar Islam langsung dari Rasulullah. Setiap ayat yang diajarkan Rasulullah, segera dihafal dan dipahami maknanya. Ketika Islam telah sempurnya, Abdullah pun telah menghafal Al-Qur`an dengan sempurna pula.

Abdullah sangat taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia mengisi hari-harinya dengan amal shalih dan ibadah, serta puasa dan shalat. Abdullah lebih sering berada adalah di masjid untuk berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Tapi, ketika ada seruan jihad, Abdullah akan berada di barisan depan pasukan kaum muslimin. Setelah perang usai, dia pun kembali ke masjid dan meneruskan ibadahnya.

Hanya ada dua tempat yang disukainya; di medang perang untuk berjihad bersama Rosululloh memerangi orang kafir, dan di masjid untuk berdzikir, membaca Al-Qur`an, sholat, dan bermunajat kepada Allah.

Hingga suatu hari, Rasulullah memanggil Abdullah dan bertanya, “Wahai Abdullah, benarkah engkau selalu berpuasa setiap hari dan shalat pada malam hari serta tidak pernah tidur?”

“Benar, wahai Rasulullah,” jawab Abdullah.

“Cukuplah bagimu berpuasa tiga hari dalam satu bulan,” kata Rasulullah.

“Saya bisa lebih dari pada itu, wahai Rasul,” jawab Abdullah.

“Kalau begitu puasalah dua kali dalam sepekan,” kata Rasulullah lagi.

“Saya masih sanggup lebih dari pada itu, wahai Rasul,” jawab Abdullah.

“Jika demikian maka lakukanlah puasa yang lebih mulia, yaitu puasanya nabi Daud, berpuasa sehari dan berbuka di hari berikutnya,” sabda Rasulullah. Lalu, beliau melanjutkan sabdanya, “Aku tahu bahwa engkau mengkhatamkan Al-Qur’an sepenuhnya dalam sehari semalam. Maka khatamkanlah Al-Qur’an setiap sebulan sekali, atau sekali dalam sepuluh hari, atau sekali dalam tiga hari. Aku berpuasa dan aku berbuka, aku bangun untuk shalat malam dan aku juga tidur, aku pun menikahi perempuan. Maka barangsiapa tidak suka dengan sunnahku maka bukan termasuk dari golonganku.”

Baca juga : Mus’ab bin Umair – Si Tampan nan Shalih

Abdullah pun mengikuti perintah Rasulullah. Bagi Abdullah, tak ada perintah yang ditaati selian perintah Allah, dan tak ada perkataan yang pantas diikuti, selain sabda Rasulullah. Abdullah selalu taat dengan nabi Allah dan tunduk patuh pada perintah Allah.

Rasulullah juga pernah berpesan, “Lakukanlah apa yang Rasulullah perintahkan dan taatilah ayahmu.”

Pada masa kekhalihfahan Ali bin Abi Thalib, kaum muslimin terpecah menjadi dua golonga, yaitu golongan Ali dan golongan Muawiyyah. Abdullah diperintahkan ayahnya, Amr bin Al-Ash, untuk ikut dalam pasukan Muawiyyah memerangi Ali pada perang Shiffin. Sebenarnya, Abdullah tidak mau memusuhi sesama kaum muslimin, namun Abdullah ingat dengan pesan Rasulullah agar menaati ayahnya. Akhirnya, Abdullah pun menuruti ajakan ayahnya. Dan saat perang, Abdullah tidak menembakkan sebatang anak panah pun.

Semoga kisah ketaatan beliau bisa menjadi teladan bagi kita semua. Wallahu a’lam.