Liburan Yang Tak Sia-sia – Kisah Berhikmah

Liburan sekolah telah tiba, bertepatan dengan bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Aku sangat senang. Liburan ini, ayah akan mengajakku ke tempat Pakde Yusuf. Rencananya, kami akan berangkat dua hari setelah Idul Fitri, sekalian silaturahim ke keluarga pakde Yusuf, kakak dari ibuku.

Liburan Yang Tak Sia-sia - Kisah Berhikmah

Desa tempat tinggal Pak Dhe Yusuf terkenal dengan tanah pertaniannya yang subur. Hasil pertaniannya banyak. Ada sayuran, seperti wortel, tomat, kol, timun. Ada pula buah-buahan semacam semangka, melon, strawberry. Aku tak sabar pergi ke sana.

Hari yang ditunggu pun tiba. Aku, ayah, ibu, dan Bila, adikku bersiap-siap. Karena jaraknya cukup jauh, kami berangkat pagi-pagi sekali. Ayah ditemani om Yudi yang siap bergantian menjadi sopir.

Setelah delapan jam perjalanan, kami pun sampai di tempat tujuan. Pemandangannya sungguh indah. Sawah menghampar begitu luas. Berbukit-bukit. Di bagian atas bukit, masih hutan yang lebat.

“Selamat datang di desa. Wah, ini pasti zulfi, dan ini si kecil Nabila,” sapa pakdhe menyambut kami datang.

“Pakde….!” Aku dan Nabila berlari menuju pakdhe. Pakdhe menyambut dengan pelukan. Sedangkan ayah dan om Yudi menurunkan barang-barang bawaan.

Kami semua masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, budhe dan kak Nisa sedang menyiapkan makanan. Kami pun makan bersama sambil bercerita macam-macam.

Sore harinya…

“Zulfi, ayo ikut kakak jalan-jalan,” ajak kak Nisa.

“Ke mana, Kak?” tanyaku.

“Ke tempat paling jorok yang akan kamu lihat,” jawab kak Nisa, sambil menarik tanganku. Mau tak mau, aku pun mengikuti kak Nisa. Kami berjalan ke arah belakang rumah.

Di sana, kulihat banyak tumpukan sampah daun yang berbau busuk. Iihh…benar-benar jorok!

“Ngapain sih kita ke sini. Bau,”  kataku sambil menutup hidung.

“Eh, meskipun bau, inilah yang menjadikan tanaman di sini subur. Termasuk sayur yang kamu makan tadi. Ini adalah tempat pembuatan pupuk kompos,” jawab kak Nisa.

Aku baru ingat, Kak Nisa adalah mahasiswa pertanian. Jadi nggak heran, jika dia paham betul seluk-beluk pertanian. Termasuk cara membuat kompos.

“Yuk, kakak ajarin cara membuat kompos. Nanti, kalau kamu kembali ke rumah, bisa kamu praktekkan di rumah atau di sekolah,” ajak Kak Nisa. Aku pun mengikuti ajakannya. Memang, sudah lama aku ingin tahu cara mengolah sampah organik.

“Sekarang, kita masukkan daun-daun ini ke dalam tong, sampai setinggi batas ini,” kata kak Nisa, memberi petunjuk.

Ternyata di dalam tong, sudah ada tumpukan yang menyerupai tanah. “Itu kompos yang sudah jadi. Fungsinya untuk mempercepat pembusukan,” kata kak Nisa menjelaskan sebelum kutanya.

Setelah selesai, kak Nisa pun menutup tong tersebut. “Nah, sudah selesai. Kita tinggal tunggu kompos ini jadi.”

“Berapa lama, kak?” tanyaku.

“Kira-kira sebulan,” jawab kak Nisa.

“Wah, aku nggak bisa melihatnya, dong. Kan aku cuma tiga hari di sini,” kataku.

“Ooo, kalau itu gampang. Yuk, kita lihat kompos yang sudah jadi,” ajak Kak Nisa. Kak Nisa mengajakku ke tong yang lain. Dibukanya tong itu, dan terlihatlah tumpukan kompos yang sudah jadi.

“Nah, inilah hasilnya. Tinggal disaring saja, yang kecil-kecil bisa langsung digunakan sebagai pupuk, yang besar-besar dikumpulkan untuk dijadikan bahan membuat kompos  lagi. Begitu seterusnya,” jelas kak Nisa.

Wah, ternyata membuat kompos tidak terlalu sulit. Tinggal kemauan saja. Aku pun berniat melakukannya di rumah, memanfaatkan sampah sisa sayuran dan daun-daunan yang gugur dari pepohonan.

Liburan di rumah pakdhe kali ini memang singkat, cuma tiga hari.  Tapi, aku mendapat pengalaman yang sangat banyak. Kak Nisa mengajariku membuat kompos. Pakdhe mengajakku panen sayuran. Benar-benar menyenangkan.  Liburan yang tak sia-sia.

(kak adhe)