Abdullah bin Hudzafah – Mencium Kepala Kaisar  

Abdullah bin Hudzafah – Suatu ketika, Amirul Mukminin Umar bin Khattab mengirimkan pasukan Islam untuk ke negeri Syam. Waktu itu, negeri Syam dikuasai oleh pasukan Romawi. Khalifah Umar ingin membebaskan Syam dan mengembalikannya ke pangkuan Islam.

Abdullah bin HudzafahAbdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang panglima Islam yang ikut dalam pembebasan Syam. Beliau memimpin pasukan untuk menyerang Kaisariah di wilayah Palestina, di tepi Laut Tengah. Namun, atas takdir Allah subhanahu wa ta’ala, pasukan Abdullah bin Hudzafah gagal. Hingga beliau ditangkap dan dijadikan tawanan oleh tentara Romawi. Beliau pun dihadapkan kepada Kaisar Romawi.

Kaisar tahu, Abdullah bin Hudzafah adalah sahabat Nabi yang teguh pendiriannya. Karenanya, Kaisar ingin membujuk Hudzafah agar meninggalkan Islam dan memeluk Nasrani. Berbagai tawaran diberikan oleh Kaisar agar Hudzafah mau berpihak kepadanya. Namun, semua tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Hudzafah. Beliau tetap memegang teguh keimanannya.

Abdullah bin Hudzafah pun dikurung dalam penjara. Oleh tentara Romawi, beliau diberi makanan dan minuman haram, yaitu daging babi dan khamer (minuman keras). Beliau pun tak menyentuh makanan dan minuman tersebut, hingga merasa sangat kelaparan dan lemah raganya.

Baca juga : Cita-cita Tinggi Umar bin Abdul Aziz

Tentara Romawi lalu mengeluarkan beliau dan menghadapkannya kepada Kaisar.

“Apa yang membuatmu enggan minum arak dan makan daging babi padahal engkau dalam kondisi terpaksa dan kelaparan?” tanya Kaisar.

Abdullah bin Hudzafah menjawab, “Ketahuilah! Dalam kondisi darurat, makanan itu memang halal bagiku. Namun, aku tidak mau memakannya, sehingga aku tidak memberikanmu kesempatan untuk bersorak melihat kemalangan Islam.”

Sang Kaisar lalu memerintahkan pengawalnya untuk menyalib Abdullah bin Hudzafah. Setelah itu, Kaisar memerintahkan pasukan pemanah untuk melesakkan anak panah dari posisi yang dekat darinya. Kaisar masih menawarkan agar beliau memeluk agama Nasrani. Namun, beliau tetap menolaknya.

Kali ini, Heraklius memerintahkan pasukannya untuk merebus air di dalam kuali besar dan dinyalakan api di bawahnya. Ketika air di dalam kuali telah mendidih, didatangkanlah seorang tawanan muslim, lalu ia diceburkan ke dalamnya, maka dagingnya pun meleleh sehingga tinggal tulang kerangka. Kemudian tawanan muslim yang kedua diceburkan di dalamnya sedangkan Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu melihatnya.

Kemudian Kaisar memerintahkan agar Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu dilemparkan ke dalam air mendidih. Ketika hendak dilempar, Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menangis. Kaisar pun mengira, Abdullah bin Hudzafah ketakutan.

Kaisar pun memanggil beliau dan bertanya, “Mengapa engkau menangis?”

Abdullah bin Hudzafah menjawab, “Aku menangis karena aku hanya memiliki satu jiwa. Seandainya aku memiliki jiwa sebanyak rambutku ini, pastilah akan aku korbankan untuk menebus agamaku. Sehingga, semuanya mati di jalan Allah.”

Kali ini Kaisar mengakui kekalahannya. Dia tidak mampu memalingkan iman Abdullah bin Hudzafah.  Harta, pangkat, kekuatan, dan semua yang dimiliki Kaisar, tak ada artinya dihadapan seseorang muslim hebat yang tidak bersenjata dan tidak menyandang apa-apa seperti Abdullah bin Hudzafah.

Maka, Kaisar pun berkata, “Wahai Ibnu Hudzafah! Maukah engkau mengecup kepalaku? Aku akan membebaskanmu dan melepaskanmu?”

Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Baiklah, dengan syarat engkau harus melepaskan semua tawanan kaum muslimin yang berada di dalam penjara-penjara kalian.”

Kaisar pun menyanggupinya. Abdullah bin Hudzafah pun berdiri dan mencium kepada Kaisar. Kaisar pun membebaskan Abdullah bin Hudzafah bersama tawanan kaum muslimin lainnya.

Peristiwa ini lantas diceritakan kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Umar bin Khattab

Lantas Umar radhiyallahu ‘anhu berdiri menghampiri Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu, lalu berkata, “Adalah menjadi kewajiban setiap muslim untuk mencium kepala Ibnu Hudzafah, dan akulah orang yang pertama yang akan memulainya.’

Umar bin Khattab pun berdiri dan mencium kepala Abdullah. Sahabat lainnya mengikuti.