Abdullah Bin Umar, Kesederhaan Putra Khalifah

Abdullah Bin Umar, Kesederhaan Putra Khalifah-majalah anak islam

Dia adalah Abdullah bin Umar, putra dari Umar bin Khattab. Umar merupakan sahabat nabi yang sangat mulia dan menjadi khalifah pemimpin kaum muslimin yang kedua. Abdullah bin Umar pun meneladani kemuliaan sang ayah. Dia dikenal sangat sederhana dan selalu bersedekah dengan apapun yang dimilikinya.

Abdullah bin Umar tergolong orang yang kaya. Dia adalah seorang pedagang selalu jujur dalam setiap perniagaannya. Selain itu, dia juga menerima gaji dari Baitul Mal. Namun, harta itu tidak dinikmatinya sendiri. Harta yang diperolehkan dibagi-bagikan kepada para fakir, miskin, pengemis, dan orang-orang yang membutuhkan.

Suatu hari, Abdullah bin Umar pergi ke pasar. Di sana, beliau membeli makanan untuk kudanya dengan berhutang kepada pedagang. Perbuatannya dilihat oleh seorang pedagang pasar yang bernama Ibnu Wail.

Ibnu Wail terheran-heran melihat Abdullah bin Umar membeli makanan kuda dengan cara berutang. Benarkah dia tidak mempunyai uang, padahal baru kemarin dia melihat Abdullah menerima tunjangan uang 40.000 dirham dari Baitul Maal. Selain uang, Abdullah juga menerima pakaian yang tebal dan bagus.

Ibnu Wail pun segera menemui keluarganya. Dia kuatir, uang itu telah hilang sehingga Abdullah harus utang kepada penjual makanan kuda.

Keluarganya menjawab, “Tidak sampai matahari terbenam pada hari itu, Abdullah telah membagibagikan uangnya kepada orang yang membutuhkan. Sedangkan pakaian bagus mula-mula ia mengenakannya, lalu ia kembali ke rumah tanpa mengenakannya lagi. Pakaian itu telah ia berikan kepada orang yang lebih membutuhkan.”

Ibnu Wail tertegun. Kemudian ia bergegas kembali ke pasar. Di pasar, dia berseru kepada para pedagang, “Wahai sekalian pedagang, di manakah kalian menempatkan dunia? Lihatlah Ibnu Umar, ia telah menerima 40.000 dirham dan langsung ia bagi-bagikan! Hingga keesokan harinya ia membeli makanan kuda dengan berutang.”

Pada hari yang lain, Abdullah bin Umar kedatangan tamu dari jauh.

Sang tamu membawakannya oleholeh berupa pakaian yang sangat bagus. “Pakailah pemberianku ini dan tinggalkan pakaian lusuhmu itu wahai saudaraku,” kata sang tamu.

Dengan santun Abdullah menjawab, “Wahai sahabatku, bukan aku menolak pemberianmu, namun aku hanya kuatir terhadap diriku sendiri. Aku takut pakaian ini akan membuatku menjadi sombong dan bermegah diri, sedangkan Allah tidak menyukai kedua sifat itu.”

Begitulan Abdullah bin Umar. Sahabat nabi yang tak silau dengan kemewahan dunia. Tak suka mengumpulkan harta. Tak gemar bermewah-mewah. Dia lebih suka bersedekah dan berderma, karena lebih menyukai kehidupan di akhirat yang penuh kenikmatan.

 

Baca juga: Umar bin Khattab Memeanggul Gandum Untuk Rakyatnya