Abu Darda’ Menyambut Hidayah Allah

Abu Darda’

Abu Darda dan Abdullah bin Rawahah sudah bersahabat sejak lama. Setelah datangnya dakwah Islam, Abdullah memutuskan menjadi muslim. Sedangkan Abu Darda tetap dalam kemusyrikan. Namun, keduanya tetap bersahabat. Abdullah ingin mengajak sahabatnya itu memeluk Islam.

Suatu hari, usai kembali dari perang Badar, Abdullah bin Rawahah mengunjungi rumah Abu Darda’. Namun, Abu Darda tidak berada di rumahnya. Abu Darda masih berada di pasar untuk berdagang. Abu Darda adalah pedagang yang sukses dan kaya.

Mengetahui si tamu adalah sahabat suaminya, Ummu Darda mempersilakan Abdullah masuk. Setelah itu, Ummu Darda masuk ke dalam rumah, meninggalkan Abdullah sendirian di ruang tamu.

Abdullah bin Rawahah menyelinap masuk ke kamar patung sesembahan Abu Darda. Dikeluarkannya kapak yang sengaja dibawanya. Lalu dihancurkannya patung itu hingga berkeping-keping. Abdullah berkata, “Ketahuilah, setiap yang disembah selain Allah adalah batil!” Setelah itu, dia pergi meninggalkan rumah Abu Darda.

Ummu Darda yang mendengarkan suara berisik segera menghampiri kamar tempat patung berada. Alangkah terkejutnya dia melihat patung suaminya telah hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai. Dia pun menangis ketakutan.

Tidak lama kemudian, Abu Darda pulang dari pasar. Dilihatnya istrinya duduk dekat pintu kamar patung sambil menangis. “Mengapa engkau menangis?” tanya Abu Darda.

“Sahabatmu, Abdullah bin Rawahah datang kemari ketika engkau sedang di pasar. Dia telah menghancurkan patung sembahanmu,” jawab Ummu Darda.

Abu Darda menengok ke dalam kamar patung. Dilihatnya patung itu sudah berkeping-keping. Seketika timbul amarahnya. Dia berniat mencari Abdullah untuk membalasnya. Namun, setelah berpikir sejenak, rasa marahnya mulai hilang. Dia lalu berpikir, “Seandainya patung itu benar Tuhan, tentu dia sanggup membela dirinya sendiri.”

Datanglah hidayah dari Allah ke dalam hati Abu Darda. Dia sadar selama ini dia disesatkan oleh ajaran nenek moyangnya. Tidak mungkin patung yang lemah pantas untuk dijadikan tuhan sesembahan.

Dia pun bergegas mencari Abdullah bin Rawahah. Kali ini, dia tidak ingin membalas dendam. Dia bertemu Abdullah untuk minta diantarkan menemui Rasulullah.

Di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, Abu Darda menyatakan masuk Islam, agama yang benar dan diridhai Allah.

Abu Darda beriman dengan Allah dan Rasul-Nya dengan tulus dan sebenar-benarnya iman. Dia sangat menyesal, karena tidak sejak awal masuk Islam. Karena itu, dia bertekad belajar dengan sungguh-sungguh, tak kenal waktu. Dia lebih mementingkan belajar daripada berdagang. Hingga kemampuannya melebihi orang yang lebih dahulu masuk Islam.

“Sebelum masuk Islam, saya menjadi seorang pedagang. Maka, setelah masuk Islam, saya ingin menggabungkan berdagang untuk beribadat. Demi Allah, yang jiwa Abu Darda dalam kuasa-Nya, saya akan menggaji penjaga pintu masjid supaya saya tidak luput salat berjamaah, kemudian saya berjual beli dan berlaba setiap hari 300 dinar. Saya ingin menjadi pedagang, bila perdagangan dan jual beli tidak menganggu saya untuk dzikrullah (berzikir).”

Itulah kesungguhan Abu Darda. Dia rela meninggalkan perniagaan demi meraih ilmu dan kebaikan akhiratnya.

 

BACA JUGA: Abdullah Bin Umar, Kesederhaan Putra Khalifahabu darda’