Anak Hebat, Anak Mandiri

Anak Hebat, Anak Mandiri

Kemarin, pagi-pagi. Ada anak tetangga berteriak, memanggil ibunya. Dia minta diambilkan baju seragamnya, dari lemari. Sudah diambilkan, minta dipakaikan. Mandinya dimandikan. Padahal dia ini sudah sekolah. Sudah kelas satu, naik ke kelas dua. Yaa Allah…

Kemarin, siang hari. Ada anak pulang sekolah. Turun dari sepeda motor ojek. Menggedor-gedor pintu rumahnya. Memanggil-manggil ibunya. Minta tolong dibukakan sepatunya. Dibawakan tas sekolahnya. Terus, diambilkan baju gantinya. Setelahnya, anak kelas tiga itu kabur, bermain bersama kawannya. Yaa Allah…

Sore-sore, sepulang dari main sepak bola. Badannya basah kuyup. Celana bajunya kotor berlumpur. Berdiri di depan rumah. Dan berteriak, “Ibu, cepat ambilkan baju. Ibu, cepaaat!” terus memanggil hingga didengar banyak orang.

Ibunya keluar, sambil menggendong bayi. Ternyata baju yang diambilnya salah. Diteriakin lagi, “Bukan baju itu. Yang warna merah. Cepat!” Ibu itu balik lagi masuk mengambilkan baju yang dimaksud. Masih menyuruh juga, menghidupkan keran airnya. Kemudian ia mandi di teras, di pancuran. Si anak kelas enam itu, masih teriak lagi. Dan kini menyuruh ibunya mengambilkan sabun dan shamphoo. Yaa Allah…

Bagaimana menurut kalian, tingkah laku anak-anak seperti itu? Itulah contoh anak-anak yang manja. Tidak mandiri. Merepotkan orangtua. Makan disuapin. Mandi dimandiin. Mau pake baju diambilin, dipakein. Tentu saja, kalian tak ingin menirunya, kan?

Yuk, belajar mandiri. Mandiri itu hebat, lho! Mandiri itu baik. Baik sekali.

Anak Hebat Itu Mandiri

Tidak mandiri artinya manja. Semua yang dilakukan harus dibantu. Ada orang lain yang selalu membantu melakukan. Harus ibu yang melakukan, tidak peduli ibunya sedang repot atau tidak. Tidak peduli ayahnya lagi sibuk ataukah senggang. Pokoknya! Tidak mau sendiri, tidak bakal pernah mandiri.

Manja berseberangan dengan mandiri. Biasanya, anak manja adalah anak yang belum bisa mandiri. Dan jika berkeinginan sesuatu, harus ada. Harus dikabulkan. Jika belum atau tidak terkabul, maka mudah marah. Gampang sewot. Merengek, menangis. Pake guling-guling lagi… Bahkan ada juga yang sampe ‘mengancam’ orang tuanya, “aku gak mau sekolah lagi,” “aku gak pergi ngaji lagi,” “aku mau kabur, pergi dari sini,” ….

Semua-semua, harus orang lain. Harus ibu, harus ayah. Harus orang lain yang melakukan. Dari mulai bangun tidur, mandi, pake baju, sarapan, siapin buku, brangkat ke sekolah. Bahkan di sekolah saja masih minta ditungguin. Di rumah, tidak mudah diajak kerja bantu ibu atau ayahnya. Ini pasti tidak baik.

Tidak mau menyapu. Tidak mau membersihkan kamar. Tidak mau merapikan meja belajar. Tidak mauuu … semua. Akhirnya, tidak banyak bisa melakukan kecuali jika dibantu ibu atau ayahnya. Dan, ketika makan sendiri pasti belepotan. Makan pake soto sajah, nasinya berjatuhan. Menyisakan toge dan soun. Menyisakan kuahnya. Berantakan di mana-mana. Malu ah…

Yuk, belajar mandiri dari sekarang. Menjadi pribadi yang mandiri itu indah. Biasa melakukan aktivitasnya sendiri. Tanpa merepotkan banyak orang. Dilakukan sendiri, untuk sendiri. Orang suka. Dan ini baik. Berpahala, pasti.

Untuk sebuah kebaikan itu, tidak boleh menunggu lama. Harus segera diwujudkan. Jangan tunggu waktu. Begitu tahu, yuk tunaikan. Ayo, jadi pribadi mandiri! Sebaliknya, jika ada keburukan, harus segera ditinggalkan, jangan dikerkan terus-menerus.

Mandiri itu tidak manja. Mandiri itu bertanggung jawab, mengerjakan sendiri urusan pribadinya. Dari mulai merapikan membersihkan kamar tidur. Mandi dan pake baju sendiri. Ambil piring, dan makan sendiri. Mengembalikan ke tempat cucian. Mempersiapkan buku-buku pelajaran yang dibawa. Dan siap berangkat sekolah, sekalipun harus naik angkot atau ojek.

Usia kamu, kisaran tujuh hingga dua belasan tahun kan? Kamu harus sudah mulai mandiri. Segala sesuatu dicoba dengan melakukan sendiri. Apapun. Tidak bermanja-manja lagi. Ngrepotin banyak orang. Yuk belajar mandiri. Sekarang!

Are you ready? Let’s go…!