Bapak Berbaju Hitam dan Bau – Kisah Berhikmah

Bapak Berbaju Hitam dan Bau

Shalat Maghrib berjamaah selesai dilaksanakan. Alif bersiap untuk pulang bersama teman-temannya. Tapi, ayah memanggilnya.

“Alif sini..”  panggil ayah.

“Ya, Abi,” jawab Alif. Dia segera manghampiri ayah.

“Tadi ketika shalat, kamu dan teman-teman kok ramai sekali di belakang?” tanya ayah.

“Itu, Abi…emm…!”

“Ingat, saat shalat jangan bikin gaduh, ya! Mengganggu jamaah yang lain,” ayah menasihati Alif.

“Iya, Bi! Itu tadi temen-temen yang rame, aku enggak kok,” jawab Alif. “Teman-teman pada ramai karena ada bapak pakai baju hitam, badannya bau sekali. Mungkin dia nggak pernah mandi. Jorok!”

“Astaghfirullah Aliif, kamu gak boleh ngomong gitu,” tegur ayah.

“Beneran bi, Alif gak bohong coba Abi deketin bapak itu,” jawab Alif.

“Meskipun benar, tapi kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Jangan menertawakan orang lain, hanya karena dia jelek atau bau. Mungkin bapak itu belum sempat mandi, karena ingin segera shalat berjamaah. Ingin meraih pahala. Jangan kau ulangi ya!” kata ayah tegas.

“Iya, Abi…!” jawab Alif.

===

Esok sorenya, teman-teman Alif masih saja menertawakan bapak berbaju hitam dan bau. Terutama Mail. Dia yang paling suka mengejek dan menertawakan si bapak berbaju hitam.

Seperti malam itu, Mail dan teman-temannya sudah menunggu di masjid. Bukan waktu sholat yang mereka tunggu, melainkan si bapak bau yang biasanya datang ke masjid lebih awal.

“Eh itu si bapak bau datang. Iya awas jangan deket-deket, nanti bisa pingsan kamu…!” seru Mail. Dia dan teman-temannya pun tertawa terbahak-bahak.

Bapak itu hanya tersenyum, lalu melangkah masuk masjid.

Kecuali Alif. Dia tak mau lagi ikut menertawakannya. “Sudah. Kita tidak boleh lagi menertawakan bapak itu.”

“Ah kamu Alif, emang dia bapak kamu, ya!” jawab Mail ketus. Anak-anak lainnya tertawa.

Hingga suatu sore, Alif mendengar kabar bahwa Mail dirawat di rumah sakit. Dia terjatuh ke sungai. Alif lalu mengajak ayahnya untuk menjenguk ke rumah sakit.

Di kamar tempat Mail dirawat terlihat ramai. Dan, Alif melihat ada bapak berbaju hitam yang sering diejek teman-temannya. “Kenapa dia ada di sini?” Alif bertanya-tanya dalam hati.

“Gimana putra, bapak?” kata ayah Alif, sambil menjabat tangan ayah Mail.

“Belum sadarkan diri, tapi alhamdulillah selamat pak. Bapak inilah yang menolongnya. Kalau tidak ditolong bapak ini, mungkin Mail tidak selamat.” Tangan ayah Mail meraih bahu bapak berbaju hitam di sampingnya.

Deg, Alif terkejut! Ternyata dia yang menjadi pahlawan penolong Mail. Tak terasa air mata Alif mengalir karena haru.

Dia memandang tubuh Mail yang terbaring pingsan. “Andai kau buka matamu sekarang Mail, kau akan sangat menyesali perbuatanmu,” kata Alif dalam hati.

Alif ingin meminta maaf pada bapak tersebut karena dulu pernah menertawakannya, namun bapak sudah berpamitan pergi.

 

– Kak Fatih –