Belajar dari Hujan

akhlak

Musim kemarau sudah berganti musim hujan. Saat kemarau, udara terasa panas. Gerah. Tiada hujan. Sulit air. Di tempatmu begitu juga kan? Sepertinya sama.

Pepohonan mengering. Daun-daunnya berguguran. Dahan dan rantingnya rapuh. Perlahan tanaman itu menjadi layu dan mati. Sawah dan ladang menjadi tandus. Sumber air mengering. Sampai-sampai jarang mandi, karena tak ada air.

Di Sumatera, hutannya terbakar. Asapnya tebal, membumbung tinggi menutupi langit. Teman-teman kita di sana banyak yang sakit akibat pernafasannya terganggu.

Lalu, banyak yang menyelenggarakan shalat Istisqa, berharap agar Allah menurunkan hujan. Apakah di tempatmu juga dilaksanakan shalat Istisqa? Apakah juga kamu pernah hadir ikut shalat Istisqa?

Subhanallah, Mahasuci Allah. Allah mengabulkan permohonan para hamba-Nya. Hujan yang diharap pun turun. Musim kemarau segera berakhir, berganti dengan musim hujan.

Kawan,

Hari ini, tidak sejengkal tanah pun yang kering. Tiada lagi kekurangan air. Hujan pun turun hampir setiap hari. Pepohonan kembali menghijau. Dedaunannya terlihat segar.

Saat hujan, apa yang kalian inginkan? Yap, pasti hujan-hujanan. Bermain di bawah guyuran hujan. Memang asyik, tapi seringkali dilarang orang tua, kan? Karena khawatir kalian akan sakit, masuk angin, atau pilek.

Padahal, berhujan-hujanan itu nggak bikin sakit, lho! Mandi hujan itu baik. Berbasah-basah dengan air hujan itu sehat. Asal tahu diri, tidak boleh berlebihan. Jangan berlama-lama hingga kedinginan. Tidak baik juga jika dilakukan setiap hari.

Dan, sambil berhujan-hujanan, kita bisa belajar juga. Saat hujan kamu akan tahu, apa akibat orang yang membuang sampah sembarangan. Mari perhatikan got atau kali kecil yang melintas di depan rumahmu. Ketika kemarau, got itu tak berair. Saat hujan, air meluap hingga ke jalan. Mengapa? Karena terhalang sampah. Sampah yang dibuang sembarangan.

Kali yang di depan rumah dan di pinggir jalan adalah dibangun untuk penampungan air saat terjadi hujan. Jika penuh sampah, kemana air harus melintas? Akhirnya jalan-jalan menjadi banjir. Dan sampah pun berserakan di mana-mana. Mengikuti arus air.

Belum lagi jika sampah itu terbawa arus masuk ke sungai. Akhirnya ke laut. Kemudian lautnya menjadi kotor. Laut menjadi tak elok lagi dilihat karena penuh sampah. Bahkan ikan pun tidak lagi mau ke tepi. Ikan pun tidak tahan lagi berada di pinggir. Mungkin karena bau dan beracun.

Ngomong-ngomong soal hujan, banyak orang yang salah mengira. Katanya hujan itu menjadi penyebab banjir. Katanya, hujan selalu membawa musibah. Katanya, hujan itu yang menjadi penyebab sakit perut, masuk ingin. Panas, demam, meriang. Ini tidaklah benar.

Ketahuilah kawan! Rasul saja menyuruh umatnya untuk berbasah-basah mandi air hujan. Apalagi hujan di hari pertama. Di awal musim. Sungguh sangat baik sekali. Banyak manfaatnya. Banyak juga khasiatnya. Jadi bukan sekedar boleh, bahkan dianjurkan.

Yuk berbasah-basah dengan air hujan. Jangan percaya lagi dengan perkataan orang yang menjelekkan hujan. Karena hujan adalah anugerah Allah. Banyak memberikan manfaat. Baik untuk manusia, hewan ataupun alam raya ini. Tanah-tanah tandus menjadi subur. Tanaman pun senang dengan adanya hujan. Tentu tidak akan mengalami kehausan. Tidak bakal juga kelaparan. Hahaha

Dari musim hujan inilah kamu bisa belajar dan banyak tahu. Bahwa ternyata akan bergembiralah bunga atau tanaman di sekitar rumah jika tersiram air. Tentu segar dan akan leluasa tumbuh kembangnya. Karenanya ketika kamu disuruh ayah atau bundamu menyiram tanaman, bergeraklah segera. Sambutlah perintah ini dengan baik dan tulus. Selain kamu berpahala karena memberi makan dan minum kepada tanaman, kamu juga membahagiakan orang tuamu karena berbakti kepadanya. Ok?

Wallahu A’lam