Belajar itu Harus Sabar

 

Belajar itu Harus Sabar – Belajar itu harus sabar nggak boleh tergesa-gesa dan ingin cepat bisa. Belajar adalah proses. Bukan terburu-buru ingin melakukan ini, melakukan itu. Mari ikuti prosesnya, niscaya kamu akan merasakan hasilnya. Menikmatinya. Duh indahnya.

belajar itu harus sabar

Banyak anak belajar membaca. Didesak ayahnya. Dipaksa bundanya untuk segera bisa. Dimasukkan ke bimbingan belajar membaca. Atau dihadirkan guru privat membaca ke rumah. Belajarnya rutin tiga hari sepekan. Hasilnya?

Sudah bisa membaca. Namun, tidak pernah lagi membaca. Tentu karena tidak ada minat. Atau tidak juga diransang minatnya. Atau karena tidak menikmati prosesnya, di saat belajar. Hanya bertujuan bisa membaca. Dan lagi tidak berada di lingkungan orang-orang yang suka baca. Tidak biasa melihat orang membaca.

Akhirnya, sudah bisa baca. Selesai. Titik.

Juga soal belajar membaca alQuran. Tidak harus segera bisa. Tidak harus cepat. Tidak usah tergesa. Karena kebanyakan orang, semangat hanya saat belajar membaca. Begitu sudah bisa membaca, tidak lagi merutinkannya. Apalagi ketika kamu sudah masuk kelas 4, 5 atau 6, maka akan muncul banyak alasan. Lebih lagi jika sudah lulus, tidak ada lagi waktu untuk membaca alQuran.

Habis waktunya untuk bermain atau nge-game. Giliran waktu untuk membaca alQuran, alasan menghindar selalu ada. Ya tugas sekolah, ya PR Matematika, ya PR Bahasa Indonesia, ya …  Moga kamu tidak termasuk gerombolan orang-orang yang malas membaca, tak suka membaca.

Justru yang harus dinikmati itu proses belajarnya. Baik belajar membaca huruf Latin maupun Arab, tentu hebat bukan karena cepatnya bisa. Sungguh yang penting adalah tumbuhnya minat baca. Dan berkembang. Sehingga kamu tidak akan merasakan cape dengan membaca. Bahkan membaca adalah bagian dari tradisi. Hingga naik ke tingkat ; habits.

Baik membaca alQuran maupun buku pengetahuan, keduanya berpotensi pahala. Pada keduanya banyak kebaikan. Pada keduanya ada ilmu baru yang akan kamu dapatkan. Dan ketika baca itu dilanjut dengan memahami apa yang dibaca, niscaya kamu akan terasah untuk terbiasa membaca. Dan enjoy. Menikmati. Sungguh banyak membaca luaslah ilmunya.

Mari selalu menikmati proses belajar. Jangan keburu-buru ingin cepat bisa. Ketergesa-gesaan adalah tidak baik. Ketergesa-gesaan bukan dari cermin keshalihan. Ketergesa-gesaan pastilah bisikan syetan. Nah lo. Namun, tidak boleh juga menyengaja-lambatkan.

Justru yang terasa berat dari belajar adalah ketika kamu harus merutinkannya. Ketika harus dilakukan terus menerus. Berulang. Setiap hari setiap waktu. Karenanya, harus ada waktu yang disiapkan. Dipaksakan ada.

Jika tidak sabar belajarnya, akan tidak sabar pula melakukan mengamalkannya.

Justru, hal yang penting setelah belajar adalah mempraktekkannya. Tugas wajib setelah belajar adalah mengamalkan. Melakukan segala kebaikan yang sudah kamu ketahui. Bisa jadi ilmu soal kebaikannya hanya sekali dipelajari. Dan kamu faham. Kemudian kamu bisa melakukan kebaikan tersebut berulang-ulang. Dan terus diulang lagi. Hingga pahala pun berlipat.

Misalnya, soal belajar shalat. Ini mesti sudah dipelajari sejak kecil. Kemudian dibiasakan. Hingga akhirnya merasa berdosa, kalau kemudian tidak melaksanakan shalat. Jangankan tidak melaksanakan, untuk shalat terlambat saja (masbuq), ada perasaan kurang nyaman. Itulah sebuah kebiasaan baik.

Belajar shalat, tidak kemudian harus langsung sempurna dari A hingga Z. Berproses. Perlahan, bertahap. Sesuai kemampuan. Hal yang sudah diketahui, kemudian diulang diamalkan. Dan terus diamalkan sesuai waktu dan rakaat, tentunya. Sampai betul memahami. Mengerti. Dan terbiasa.

Baca juga : Belajar itu Menyenangkan

Bagaimana Takbiratul Ikram yang benar, misalnya. Gerak tangannya seperti apa? Setinggi bahu, telinga atau lebih tinggi lagi? Jemari tangan harus terbuka direnggangkan ataukah tertutup rapat? Kemudian ketika tangan dilipat, apakah harus di atas dada atau perut? Haruskah tangan kanan menggenggam tangan kiri? Apakah juga bahwa saat meletakkan tangan posisi kanan selalu di atas tangan kiri? Dan seterusnya.

Nah, jika sudah faham urusan satu. Sudah bisa menikmati. Sudah terbiasa. Baru kemudian kita siap mempelajari gerakan lainnya. Atau bab berikutnya. Perlahan, pasti. Insya Allah, hasilnya maksimal.

Belajar lain lagi ; cara berwudhu yang baik. Kamu harus memperhatikannya ketika sang guru menjelaskan. Atau ketika ayah maupun bundamu yang mengajarkan. Bila perlu, melotot, jangan berkedip. Hahaha… sehingga kamu bisa benar-benar faham.

Belajarlah, amalkan. Nikmati prosesnya, jangan tergesa untuk segera semua tahu. Fahami dulu dengan baik. Pastikan bisa mewujudkan membiasakan dalam aturan yang sudah ditetapkan.

Menikmati proses belajar, berpahala. Mengamalkan apa yang sudah kita tahu berpahala. Dan mengulang-ulangnya juga berpahala. Semua-semua pahala. Semua ada balasannya.

Wallahu A’lam.