Berani Karena Benar

Para shahabat nabi adalah orang-orang yang pemberani. Mereka berani dalam mendakwahkan Islam dan berani dalam berperang melawan orang-orang musyrik. Mereka berani karena benar.

Berani

Suatu ketika, Rasulullah kedatangan tamu. Tamu itu adalah orang dari bani ghifar. Ia menyabap rasulullah, “Selamat pagi, wahai kawan sebangsa.”

“Wa alaikum salam, wahai sahabat,” jawab Rasulullah.

“Bacakanlah kepadaku syair gubahan anda!”

“Ini bukan syair yang digubah, tetapi Al-Qur’an yang mulia.” kata Rasulullah, kemudian membacakan al Quran.

Lalu, Abu Dzar berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bahwa bersaksi bahwa engkau adalah hamba dan utusan-Nya.”

“Anda dari mana, kawan sebangsa?” tanya Rasulullah.

“Dari Ghifar,” jawabnya. Rasulullah tersenyum mendengar suku ghifar. Suku ghifar adalah suku pemberani yang kuat dalam melakukan perjalanan. Orang dari ghifar itu bernama Jundub bin Junadah atau biasa dipanggil Abu Dzar al Ghifari.

Abu Dzar berkata, “Wahai Rasulullah, lalu apa yang harus saya lakukan?”

Rasulullah menyuruh Abu Dzar pulang. Tapi Abu Dzar berkata, “Demi Allah, saya tidak akan pulang sebelum menyerukan kalimat syahadat di depan Ka’bah. Ia pun pergi menuju Ka’bah dan meneriakkan kalimat syahadat.

Mendengar ini, orang-orang musyrik yang sedang berada di sekitar Ka’bah jengkel dan memukuli Abu Dzar. Abu Dzar babak belur. Abu Dza pulang menuju kaumnya. Di sana, ia mendakwahi kaumnya agar masuk Islam. Dam ketika Rasulullah telah hijrah ke Madinah, Abu Dzar membawa semua kaumnya yang telah masuk Islam menuju Madinah. itulah kisah keberanian sahabat Nabi dalam berdakwah.

Keberanian Anas bin An Nadhr

Adapun dalam berperang, para shabat Nabi jug sangat pemberani. Diriwayatkan dari Anas berkata, Pamanku yang bernama Anas bin an-Nadhar tidak ikut perang badar, dia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak ikut saat pertama kali engkau berperang menghadapi kaum musyrikin. Seandainya Allah memperkenankan aku dapat berperang melawan kaum musyrikin, pasti Allah akan melihat apa yang dapat aku lakukan”.

Baca juga : Keberanian Abu Hurairah Menghadapi Setan

Ketika terjadi perang Uhud, di antara kaum muslimin ada yang kabur dari medan pertempuran, Anas bin An Nadhr  berkata, “Ya Allah, aku memintakan maaf  kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh mereka -yakni para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam– dan aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh mereka -yakni kaum musyrikin-”.

An-Nadhr maju ke medan pertempuran. Ia bertemu kawannya, Sa’ad bin Mu’adz. An Nadhr berkata kepadanya, “Wahai Sa’ad bin Mu’adz, surga. Demi Rabbnya An-Nadhar, sungguh aku mencium wanginya surga dari balik bukit Uhud ini”. Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak sanggup melakukan seperti apa yang dia lakukan”. Anas berkata, “Kemudian kami menemukan dia dengan lu ka sebanyak delapan puluh lebih sabetan pedang atau tikaman tombak atau terkena lemparan panah. Kami menemukannya sudah dalam keadaan terbunuh dan kaum musrikin telah memotong-motong jasadnya sampai tidak ada seorangpun yang bisa mengenalinya kecuali saudari perempuannya yang mengenali jari-jemarinya.

Begitulah keberanian Nadhr, ia pergi menuju kawanan musuh di bukit Uhud sendirian dan akhirnya mati syahid. Semoga kita bisa meneladani keberanian para shabata dalam berdakwah dan membela kebenaran.