Berani Karena Tawakkal

Berani Karena Tawakkal
Berani Karena Tawakkal – Hudzaifah Ibnul Yaman adalah seorang shahabat Nabi yang mulia. Hudzaifah dikenal sebagai shahibu sirri Rasulillah, atau pemegang rahasia Rasulullah. Julukan itu diberikan karena Rasulullah memercayakan beberapa rahasianya kepada Hudzaifah. Di antara rahasia itu adalah nama-nama orang munafik di Madinah.

Hudzaifah juga dikenal sebagai intelejen Rasulullah. Beliau beliau berani menyusup ke tengah-tengah musuh untuk mencari informasi. Salah satu kisah yang paling berani adalh ketika terjadi perang Khandaq.
Perang Khandaq adalah perang yang terjadi antara pasukan Islam menghadapi gabungan pasukan Quraisy dan Yahudi Madinah. Apsukan gabungan mengepung pasukan Islam yang berada di dalam kota Madinah. Pasukan Islam berlindungdi dalam kota dan membentengi diri dengan parit. Parit digali disekeliling kota agar musuh tak bisa lewat.

Pengepungan berlangsung beberapa hari. Suatu malam, angin topan berhembus dan menghancurkan kemah-kemah pasukan musuh. Rasulullah menduga, musuh sudah kehilangan banyak bekal. Beliau pun ingin mengutus seorang mata-mata untuk mengetahui kondisi musuh.
Ketika ditanya, siapakah yang mau menjadi mata-mata? Tak seorang sahabat pun yang menjawab. Malam itu sangat dingin dan menjadi mata-mata adalah tugas berat. Resikonya dibunuh oleh musuh.

Karena tidak ada yang mau, Rasulullah menunjuk Hudzaifah ibnul yaman untuk berangkat. Meski merasa takut dan udara dingin sangat menusuk, Hudzaifah berangkat. Hudzaifah bertawakal kepada Allah. Allah pasti akan melindunginya.

Berani Karena Tawakkal

Dan jika harus tertangkap atau dibunuh oleh musuh, dia akan mati syahid dan masuk surga. Rasa tawakal inilah yang membuat Hudzaifah mau melaksanakan perintah Rasulullah.

Rasulullah berdoa agar Hudzaifah dilindungi dari kejahtan musuh. Setelah didoakan, Hudzaifah merasa hangat. Hawa dingin tak lagi menusuk kulitnya. Ia pun berangkat dengan berani.

Setelah berhasil menyelinap di antara musuh, Hudzaifah mulai mendengarkan informasi-infirmasi. Malam itu, pemimpin pasukan Quraisy, Abu Sufyan, memimpin rapat. Sebelum rapat, Abu Sufya memperingatkan agar semua pasukan mengecek orang yang didekatnya, apakah dia kawan atau lawan. Dengan sigap, Hudzaifah segera ikut mengecek orang yang disampingnya. Karena bertanya lebih dahulu, Hudzaifah tidak ditanya siapa dirinya.

Baca juga :  Pertolongan dari Allah

Abu Sufyan menyatakan bahwa kondisi pasukannya kini sudah lemah. Mereka banyak kehilangan bekal dan lelah karena diterjang angin topan. Selain itu, ornag-orang Yahudi yang katanya mau membantu juga dikabarkan berkhianat. Abu Sufyan ingin mundur dari perang dan pulang. Malam itu, Abu Sufyan pulang dan diikuti pasukannya.

Hudzaifah pun mengabarkan kabar gembira ini kepada Rasulullah. Dengan berita ini, Rasulullah pun bisa menyusun strategi perang selanjutnya.
Itulah buah tawakal. Jika seseorang bertawakal kepada Allah, dia akan menjadi pemberani. Ia akan memasrahkan urusannya kepada Allah. Berdoa dan yakin Allah akan menolongnya.

Oleh karenanya, yuk belajar bertawakal. Misalnya saat hendak melakukan perjalanan, kita tidak perlu takut jika ada ular lewat karena katanya itu pertanda bahaya. Kita tidak boleh takut karena yang mengatur Alam Semesta adalah Allah. Dan Allah tidak pernah mengajarkan bahwa ular lewat adalah tanda bahaya. Dengan bertawakal kepada Allah, hati kita kan tenang.