Bimo Nggak Nakal Lagi – Kisah Berhikmah

Bimo Nggak Nakal Lagi - Kisah Berhikmah

 

Sore hari, di tanah kosong dekat masjid, Kamal, Dani dan Irfan asyik bermain kelerang.

“Wah, meleset!” seru Dani. Rupanya tembakannya tidak berhasil mengenai kelereng Kamal.

“Nah, sekarang giliranku!” kata Kamal. Dia pun bersiap membidik kelereng Irfan. Dan… cetak…! Kelereng Kamal pas mengenai kelereng Irfan.

“Wah, kalah lagi deh aku,” kara Irfan sambil memungut kelerengnya. Dia harus rela mundur dari pertandingan.

Tiba-tiba…

“Heh, hari gini main kelereng?! Kampungan banget….!” Tiba-tiba, terdengar teriakan Bimo. Dia datang bersama teman-temannya; Soni dan Tyo. “Nih, kaya kita-kita dong, mainan mobil remote control. Mainan canggih dan modern. Ya, nggak teman-teman!”

“Yesss…! Canggih…!” Soni dan Tyo menyahut.

Bimo datang membawa sebuah mobil remote control baru. Bentuknya bagus. Mirip mobil betulan.

Bimo memang anak orang kaya. Ayahnya pedagang sukses dan terkenal sangat dermawan. Ayah Bimo senang membantu orang yang kesusahan. Juga menyumbang untuk pembangunan masjid.

Bimo Nggak Nakal Lagi

Sayangnya, Bimo agak nakal. Dia suka mengganggu teman-teman yang tidak disukainya. Dia juga gemar memamerkan mainan-mainan barunya. Seperti sore itu, dia memamerkan mobil-mobilan yang baru dibelinya.

“Minggir…minggir… Anak kampungan dilarang bermain di sini!” Bimo mengusir Kamal dan teman-temannya.

“Eh, enak saja. Memangnya ini tempatmu. Kami kan lebih duluan main di sini. Kalian aja yang cari tempat lain!” kata Dani. Dia nggak terima diusir oleh Bimo.

“Kamu menantang aku?” Bimo berkacak pinggang.

“Siapa takut…!” Dani tak mau kalah.

“Sudah…sudah…! Nggak usah bertengkar.” Kamal berusaha menengahi mereka berdua. “Ayo Dani, kita di sana aja,” lanjutnya, sambil menggandeng tangan Dani dan pergi menjauh dari Bimo.

Kamal, Dani, dan Irfan pun pergi meninggalkan Bimo dan teman-temannya. Mereka bertiga memilih duduk di teras masjid. Membaca buku dan majalah yang tersedia di sana.

Bertengkar Lagi

Sedangkan Bimo, Soni, dan Tyo langsung asyik memainkan mobil-mobilan remote controlnya. Mereka bersorak-sorak kegirangan, saat mobilnya melaju kencang. Melintasi depan masjid, tempat Kamal, Dani, dan Irfan sedang membaca buku.

Dani hampir saja marah lagi. Tapi buru-buru ditenangkan oleh Kamal dan Irfan.

Tak lama kemudian…

“Aduuuh….! Kok masuk lobang, sih! Gara-gara kamu, nih!” Terdengar teriakan Bimo sambil menunjuk Tyo.

“Kok, aku…kan kamu yang mengendalikan mobilnya,” Tyo membela diri.

“Iya, tapi kalau kamu tidak berdiri di situ, kan aku bisa jalan lurus. Nggak belok ke arah lobang,” Bimo tak mau kalah. “Sekarang kamu yang ambil!”

“Nggak mau. Lobang itu kan dalam, gimana mau ambil,” Tyo menolak permintaan Bimo.

Keduanya bertengkar. Gara-gara mobil Bimo masuk ke lobang tempat sampah. Lobangnya memang cukup dalam.

Kamal, Dani, dan Irfan mendatangi mereka. “Sudah, jangan bertengkar!” Irfan menengahi mereka.

“Iya. Mainan bareng kon bertengkar,” sahut Dani sambil senyum-senyum, melirik ke arah Bimo. Bimo membalas dengan wajah marah.

“Sini biar aku yang ambilkan. Kalian berdua jangan bertengkar lagi,” kata Irfan.

Irfan lalu turun ke dalam lobang, mengambil mobil-mobilan Bimo, dan segera naik. Irfan memang tangkas.

“Terima kasih, Irfan. Maaf ya, aku tadi mengganggu kamu, bahkan mengusir kamu dan teman-temanmu,” Bimo menerima mobil-mobilan sambil meminta maaf ke Irfan dan teman-temannya.

“Udah, nggak apa-apa. Asalkan, lain kali kamu nggak  ulangi lagi. Kan, lebih baik punya banyak kawan, daripada punya musuh!”

“Iya. Maafkan aku ya teman-teman!” Bimo kembali meminta maaf.

Mereka semua pun saling bersalaman. Lalu bermain bersama-sama. Sejak itu, Bimo nggak nakal lagi. Dia suka berkawan, dan disukai kawan-kawannya.

~Kak Adhe~