Cantik Itu dari dalam Hati

cantik itu

Syifa mengucek-ucek matanya. Ia berusaha membaca tulisan di papan tulis. Tapi tetap saja tak terbaca jelas. Dia tidak bisa menyalin tulisan-tulisan itu di buku tulisnya.

Sudah berulang kali Syifa melakukannya. Hal itu membuat Bu Laila, wali kelasnya bertanya.

“Syifa, ada apa dengan matamu?” tanya Bu Laila.

“Tidak tahu, Bu,” jawab Syifa kembali mengucek-ucek matanya.

“Coba kamu periksakan matamu ke dokter mata. Ibu lihat kamu selalu mengucek-ucek matamu saat membaca tulisan di papan tulis,” lanjut Bu Laila.

“Iya, Bu!” singkat Syifa.

Syifa mencoba memicingkan matanya agar bisa melihat tulisan di papan tulis. Tetap saja, tulisan di papan tulis terlihat buram.

***

Keesokkan harinya Syifa pergi ke klinik mata bersama Bunda. Syifa diperiksa oleh dokter mata. Dokter bilang Syifa mengalami rabun miopi, rabun jauh. Mata Syifa sudah minus satu setengah untuk mata kiri dan minus satu untuk mata kanan.

“Ananda Syifa sebaiknya memakai kacamata,” ujar dokter yang memeriksa kondisi mata Syifa.

Bunda menerima saran dari dokter. Syifa harus memakai kacama untuk membantu penglihatannya. Agar Syifa tidak lagi kesulitan membaca tulisan di papan tulis.

***

Kini Syifa kembali ke sekolah. Tapi ia tidak memakai kacamata.

“Syifa kemarin kamu kemana?” tanya Tiwi.

“Aku kemarin ke klinik mata. Mataku diperiksa. Ternyata mataku minus. Itu sebabnya aku selalu mengucek-ucek mata saat melihat tulisan di papan tulis. Aku diharuskan memakai kacamata,” Syifa memberitahukan Tiwi.

“Terus kacamata kamu mana?” lanjut Tiwi sambil mencari-cari kacamata Syifa.

“Aku tidak mau memakainya. Jika aku memakainya nanti aku tidak cantik lagi.”

“Ah!” lonjak Tiwi. Terkejut. Tiwi pun menjadi sebal pada Syifa.

***

“Maaf aku tidak bisa meminjamkan kamu lagi, Fa,” sebelum Syifa mengucapkannya Tiwi sudah mengatakannya lebih dulu saat bel istirahat.

“Kamu kok begitu sih sekarang Wi sama aku!”

“Biarin! Sudah bagus kamu memakai kacamata. Tapi kamu tidak mau memakainya.”

“Baik kalau begitu, Wi. Aku pinjam sama yang lain saja.”

Syifa meninggalkan Tiwi seorang diri menuju ke kantin sekolah.

***

Lama-lama apa yang dilakukan Syifa sudah mengganggu teman-teman sekelasnya. Karena kebisaannya itu ada juga temannya yang tidak mengerjakan PR dan mengulang pelajaran karena dipinjam oleh Syifa.

Akhirnya Syifa mendapatkan teguran dari Bu Laila. Ia dipanggil ke kantor guru untuk mengadap wali kelasnya itu.

“Ibu tidak mau hal ini terjadi lagi. Jika kamu melakukan ini lagi Ibu akan skorsing kamu agar tidak mengikuti pelajaran di kelas. Karena sudah mengganggu teman-temanmu di kelas disebabkan buku-buku mereka kamu pinjam,” Bu Laila akhirnya menegur pada Syifa atas apa yang sudah dilakukannya.

“Memakai kacamata itu untuk membantu penglihatan bukan untuk gaya-gayaan. Apalagi membuat kita jelek. Jelek atau baiknya seseorang bukan pada apa yang dipakainya. Tapi di hati kita,” lanjut Bu Laila.

“Baik Bu. Besok saya akan memakai kacamata itu,” jawab Syifa.

“Ya, sudah sekarang kamu kembali ke kelas,” lanjut Bu Laila.

Usai itu Syifa lalu meninggalkan kantor guru dengan gontai. Ia kembali ke kelas.

***

“Duh, cantiknya kamu, Fa,” puji Tiwi. “Nah, begitu dong dipakai kacamatanya. Lagi pula siapa bilang orang memakai kacamata itu jelek. Tapi nyatanya kamu makin cantik dan manis,” lanjut Tiwi.

“Ah, kamu bisa saja, Wi!”

“Ups, aku hanya becanda, Fa! Terpenting kamu tetap Syifa yang aku kenal dulu. Soal jelek atau tidaknya kamu memakai kacamata terpenting hatimu tetap seperti dulu. Karena cantik itu ada di sini!” pungkas Tiwi sambil menuju dada Syifa.

“Iya, Wi, kamu benar! Aku juga minta maaf kepada semua atas sikapku selama ini. Maafkan aku ya…”

Syifa akhirnya meminta maaf pada teman-teman sekelas. Pun Tiwi teman sebangku juga sudah memaafkannya.

Akhirnya gara-gara kacamata kini Syifamakin memperbaki diri dan ia tidak akan lagi mengulangi perbuatan yang merugikan kembali. Apalagi ia kini sudah nyaman berkacamata. Walaupun agak berat dan risih saat pertama kali ia memakainya. Tapi ia mencoba memakainya. Lagi pula nanti lama-lama ia juga akan terbiasa.