Diam-Diam Juara – Kisah Berhikmah

Diam-Diam Juara

Hari Senin, di ruang kelas lima. Jam pelajaran matematika dimulai dengan ulangan harian. Pak Ahmad, guru matematika, sudah selesai menuliskan soal di papan tulis.

“Nah, sebelum mengerjakan soal, jangan lupa berdoa dulu. Agar kalian diberi kemudahan dan lancar dalam menyelesaikan ulangan ini!” kata Pak Ahmad. “Oya, usahakan kalian mendapatkan nilai mendapatkan nilai tujuh. Bisa, kan!”

“Siaaaap, paaak….!” Jawab anak-anak kelas lima.

“Hah, paling Alif yang dapat nilai terendah. Dia kan paling nggak bisa matematika!” celetuk Nino, anak yang paling brisik di kelas lima.

“Hush, kamu nggak boleh gitu, Nino!” tegur Dias, teman sebangku Alif. Sementara Alif hanya diam saja.

“Sudah. Kerjakan soal dengan tenang. Mulai!” kata pak Ahmad. Semua pun mulai bekerja.

Memang benar kata Nino. Alif tak pernah mendapat nilai bagus untuk matematika. Pasti dia yang paling rendah. Padahal dia sudah berusaha keras untuk memahami matematika. Tapi tetap saja, dia masih kesulitan. Alif memang tak pandai matematika. Tapi tak ada teman yang tahu, kalau dia memiliki kemampuan di bidang lain yang melebihi teman-temannya.

Setelah selesai ulangan, pak Ahmad melanjutkannya dengan membahas soal-soal ulangan. Yang merasa jawabannya benar, tersenyum dan tertawa. Tapi, yang jawabannya salah, hanya tersenyum kecut, sambil menyadari kekeliruannya. Termasuk Alif, yang hanya bisa mengerjakan tiga dari sepuluh soal.

“Nah, sekian pelajaran matematika hari ini. Alhamdulillah!” kata pak Ahmad menutup jam pelajaran matematika. “Oya, khusus untuk Alif, usai jam pelajaran ini, kamu diminta untuk ke kantor guru untuk menemui pak Ihsan, ya!”

Teman-teman sekelas hanya saling pandang. Mereka bertanya-tanya, ada apa dengan Alif, ya?

“Ada apa, Lif, kok kamu disuruh ketemu pak Ihsan?” tanya  Dias.

“Nggak ada apa-apa, kok!” jawab Alif tenang. Alif segera keluar kelas. Berjalan tenang menuju kantor untuk menemui pak Fajar, guru olahraga.

Pengumuman Juara

Keesokan harinya, Alif tidak masuk. Tak hanya sehari, bahkan hingga tiga hari. Dari hari Selasa hingga Kamis. Tak ada yang tahu sebabnya. Pun setelah Alif masuk pada hari Jumat, dia tak mau bilang alasannya tidak masuk selama tiga hari.

Baru pada hari Senin, ketika upacara, anak-anak tahu mengapa Alif tidak masuk selama tiga hari.

Pagi itu usai upacara, murid-murid tidak langsung dibubarkan. Pak Ilman, kepala sekolah, maju dan memberikan pengumuman.

“Anak-anak, pagi ini ada sesuatu yang istimewa. Ada kabar gembira buat kita semua. Salah satu murik di sekolah kita ini telah berhasil menorehkan prestasi di bidang olah raga. Tepatnya, olah raga renang. Dia berhail menjadi juara di kejuaraan renang tingkat daerah yang diselenggarakan pekan lalu,” kat pak Ilman.

Anak-anak saling tengok kanan kiri, berbisik-bisik dan bertanya-tanya. Siapa gerangan teman mereka  yang berprestasi? Selama ini, belum ada murid yang berprestasi di bidang olah raga. Biasanya prestasi yang diraih adalah lomba matematika, lomba sains, serta tahfizh.

Pak Ilman melanjutkan, “Nah, tentunya kalian ingin tahu, kan? Siapa teman kalian yang berprestasi itu. Baiklah, bapak panggil ke depan…inilah…Alif dari kelas lima.”

Sontak, anak-anak kelas lima bersorak. Mereka tak mengira, Alif mampu berprestasi bagus. Padahal dia sering diejek, gara-gara nggak pintar matematika.

Alif pun maju ke depan. Lalu, pak Ihsan menyusulnya sambil membawa lima buah medali. Murid-murid pun bertepuk tangan, tanda ikut gembira.

Di kelas, tiba-tiba Alif menjadi pusat perhatian. Dia dikerumuni teman-temannya.

“Wah, tak kusangka, kamu pandai berenang. Selamat, ya!” ucap Dias.

“Ah, biasa aja. Aku tetap nggak pandai matematika,” balas Alif.

“Tapi, kamu juara renang. Mengalahkan murid-murid yang lain, lho…!” kata Dias lagi.

Tiba-tiba, Nino datang lalu menjabat angan Alif sambil berkata, “Alif, maafkan aku ya, sering mengejek kamu!”

“Nggak apa-apa, Nino! Aku nggak marah, kok! Kamu aku maafkan sejak dulu,” kata Alif.

“Terima kasih, Alif! Kamu memang juara. Juara renang, dan juara berteman…” kata Nino, sambil tersenyum.

“Nah, gitu dong! Sesama teman, harus selalu rukun dan bersahabat. Kita semua juara…!” kata Dias, memeluk mereka berdua.

 

~kak Adhe~