Fatimah Az-Zahra, Bunga Hati Rasulullah

Fatimah Az-zahraBunga Hati Rasulullah – Wajahnya cantik, pipinya kemerahan. Bola matanya bulat mengkilap. Tingkahnya lucu dan polos. Ia adalah anak yang cerdas dan aktif. Ia dibimbing dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga terbaik. Ia mendapatkan limpahan kasih sayang dari orang tua terbaik. Ia memperoleh teladan dari manusia terbaik. Dialah Fatimah Az-zahra Binti Muhammad Rasulullah.

Ayahnya, Muhammad bin Abdullah, adalah nabi dan rasul Allah. Sang Ayah diangkat menjadi rasul saat Fatimah berusia lima tahun. Di usianya yang masih belia, Fatimah merasakan pahitnya perjuangan sang Ayah.

Pada masa permulaan dakwah, kaum muslimin selalu dimusuhi orang-orang kafir Makkah. Kaum muslimin, termasuk Rasulullah dan keluarganya, dilarang membeli makanan di pasar.  Akibatnya, si kecil Fatimah mengalami kekurangan makanan. Tubuhnya pun menjadi lemah.

Bertahun-tahun Rasulullah dan kaum muslimin Makkah mendapat siksaan dari orang-orang kafir. Hanya ada satu orang paman nabi yang membelanya, yaitu Abu Thalib. Namun, pada bulan Rajab tahun tahun kesepuluh kenabian, Abu Thalib meninggal dunia. Rasulullah sangat sedih, hingga beliau menangis meneteskan air mata. Perjuangan Rasulullah dan Fatimah pun bertambah berat.

Tiga bulan kemudian, Khadijah istri Rasulullah sekaligus ibunda Fatimah, meninggal dunia. Rasulullah pun bertambah sedih. Begitu pula dengan Fatimah. Rasulullah pun menamakan tahun itu adalah tahun kesedihan.

Sejak Abu Thalib meninggal dunia, orang-orang kafir semakin memusuhi Rasulullah. Suatu ketika, Rasulullah masuk rumah dalam keadaan kepala penuh dengan pasir. Melihat ayahnya seperti itu, bangkitlah Fatimah untuk membersihkan debu di kepala ayahandanya sambil menangis. Maka Rasulullah berkata, “Tak usah menangis, wahai putriku. Allah akan melindungi Bapakmu ini.”

Hingga akhirnya kaum muslimin diijinkan Allah berhijrah ke Madinah. Kaum muslimin diterima kaum Anshar dengan baik. Kini mereka dapat hidup aman.

Saat usia Fatimah menginjak 18 tahun, Rasulullah menikahkannya dengan Ali bin Abi Thalib. Ali adalah putra dari sang paman Abu Thalib. Mereka dikaruniai dua anak yang shalih, yaitu Hasan dan Husain. Rasulullah sangat menyayangi kedua cucunya tersebut.

Baca juga : Segelas Susu yang Mengenyangkan

Rasulullah Sakit

Ketika Rasulullah sakit, Fatimah yang merawatnya dan selalu mendampinginya. Hingga suatu ketika, Rasulullah sakit keras. Beliau lalu berbisik ke telinga putrinya. Rasulullah berkata, tak lama lagi beliau akan kembali kepada Allah. Maka menangislah Fatimah sejadi-jadinya. Ia tidak ingin kehilangan ayah yang sangat dicintainya.

Rasululloh lalu berbisik lagi ke telinga Fatimah. Beliau berkata, bahwa orang yang akan  menyusul pertama kali ke surga adalah putrinya. Maka gembiralah hati Fatimah mendengar janji dari ayahnya. Tak lama kemudian, Rasulullah wafat di pangkuan Fatimah.

Sambil bercucuran air mata, Fatimah berbisik, “Wahai Ayahku tercinta, telah engkau penuhi panggilan Rabbmu. Wahai Ayah, surga firdaus adalah tempatmu. Wahai Ayah, kepada Jibril kami beri tahukan wafatmu.”

Dan, benarlah janji Rasulullah. Enam bulan setelah Rasulullah wafat, Fatimah sakit keras. Dalam sakitnya, Fatimah merasa sangat gembira karena ingin segera bertemu dengan Ayahandanya di syurga. Fatimah wafat pada malam selasa tanggal 3 Ramadhan 11 Hijriyah, pada usia 29 tahun.

Semoga Allah merahmati Fatimah Az-Zahra, putri yang menjadi bunga di hati Rasulullah. Ibu dari cucu kesayangan Rasulullah, Hasan dan Husain.

“Fatimah adalah bagian dariku. Aku merasa sedih bila ia bersedih dan aku merasa terganggu bila ia diganggu.” (Nabi Muhammad)