Gara-Gara Novel

Oleh : Kak Sayekti Ardiyani

1463710954824
Zahra keluar dari kamar dengan tergesa. Di ruang makan, ayah dan kakaknya sudah menikmati sarapan pagi.

“Sarapan dulu Nak, sudah Ibu siapkan nasi goreng,” ujar ibu. Di meja makan masih ada satu porsi nasi goreng lengkap yang masih mengepul  mengundang selera. Tak jauh dari nasi, ada potongan telur dadar yang belum tersentuh.

“Yah, ayah dan kakak sudah mau selesai. Zahra  sarapan roti saja, deh.” Zahra menyambar satu tangkup roti kemudian dioleskannya dengan selai coklat. “Pasti telat  kalau makan  nasi dulu, hihi, Zahra kan agak lama kalau makan besar”

“Bisa-bisanya sih Zahra telat bangun,” kata Maryam, kakaknya. “Lha bukanya tadi kita shalat subuh jamaah seperti biasa. Hayo…. tadi kamu murojaah hafalan tidak?”

“Maaf Yah, Bu…. Zahra tadi masuk kamar lagi nggak murojaah hafalan tapi tidur lagi…,” Zahra mengaku malu-malu.

Ayah dan ibu geleng-geleng. “Tidak biasanya kamu tidur lagi selepas shalat subuh, kenapa?” tanya ayah.

“Ngantuk Yah, semalam…Zahra begadang sampai malem banget.” Ragu-ragu Zahra mengakuinya.“Belajar sistem kebut semalam?” timpal Maryam.

“Nggak kok….ehmmmm….Zahra baca novel sampai tamat.”

“Astagfirullah, baca novel saja dibela-belain sampai begadang?“seru Maryam  sengit. Maklum, ia  tidak suka membaca novel. Hobinya membaca buku science.

“Maryam…tak perlu teriak-teriak begitu,” ibu menyela lembut.

“Kakak tak tahu sih, bagaimana serunya  petualangan dalam novel itu. Kalau kakak baca pasti penasaran. Sayang buat dilewatin, jadi Zahra ketagihan pengen menyelesaikannya hingga tamat.”

“Yah, cuma cerita  khayalan saja diikuti. Mending baca buku yang jelas-jelas aja. Kayak buku-buku kakak tuh.” Maryam berbicara setelah mengunyah.

“Jangan salah Kak, banyak pesan kebaikannya kok. Nggak cuma dapat hiburan, di situ juga banyak sisipan pengetahuannya. Coba saja kakak baca,” kilah Zahra.

“Sudah-sudah, kalian jangan berdebat. Ayah bisa mengerti, kalian punya hobi sendiri-sendiri, jadi jangan sampai kalian saling ejek dan memojokkan. Zahra, ayah tidak suka kalau hobi kamu membaca novel membuatmu bangun kesiangan.” Ayah menengahi dengan nasehat bijak.

“Baik  Ayah, insya Allah Zahara tidak mengulanginya.”

“Nah, kan, kamu jadi lupa minum.” Ibu mengingatkan melihat gelas Zahra masih kosong.

“Oiya, Zahra belum menuang susunya.” Zahra menuang susu dari teko  yang masih panas. Ibu selalu membuatkan susu dalam teko tahan panas.

“Yah, nggak dari tadi. Masih panas dong Ibu,” keluh Zahra menghadapi susu yang masih mengepul.

“Ehmmmm… itu dia kesiangan sih…coba sudah dituang dari tadi, sudah anget pasti susunya” kata ibu sembari tertawa.Karena tergesa ingin minum,Zahra meniup permukaan susu dalam gelas.

“Eits…dilarang meniup minuman atau makanan yang masih panas!” Sergah Maryam.Zahra terhenti. “Masak sih? Siapa yang melarang?”

“Ada hadistnya adikku sayang,” Maryam membacakan hadist larangan bernafas di tempat minum, “Idzaa syariba ahadukum fa laa tanaffas fil inaa’i. Hadist riwayat Bukhori dan Muslim.”

“Benar kata Maryam. Nabi melarang kita bernafas di tempat minum, itu artinya ada keburukan dari meniup makanan dan minuman,” tambah ibu.

“Apa itu keburukannya?” tanya Zahra penasaran. “Nih, coba cari sendiri, supaya dapat lebih.” Ayah menyodorkan tabletnya.

“Ah..tumben, boleh pakai nih?” Zahra girang.

“Buat apa dulu dong, manfaatkan teknologi dengan baik, tablet bukan hanya untuk main game.”  Maryam menirukan perkataan ayah yang selalu diucapkan ketika Zahra ingin meminjam tablet untuk bermain game. Zahra mencari dengan cepat.

“Bener, jadi begini singkatnya, meniup makanan menyebabkan karbondioksida dari mulut  akan berikatan dengan uap air dari makanan dan menghasilkan asam karbonat yang akan mempengaruhi tingkat keasaman dalam darah  sehingga akan menyebabkan  darah kita akan menjadi lebih asam dari seharusnya sehingga pH dalam darah menurun, keadaan ini lebih dikenal dengan istilah asidosis. Jelas ini tak sehat kan, Yah. Lebih lengkapnya, bisa dicari sendiri, infonya lengkap sekali ini. Terima kasih sudah memberi tahu Zahra.” Zahra mengembalikan tablet kepada ayahnya.

“Tentu kalau kita bisa mengamalkan sunah Rasul, hidup kita akan lebih sehat, ya kan? Oke saatnya kita berangkat.” Ajak ayah yang sudah selesai dengan sarapannya. . Selesai berberes, mereka kemudian berpamitan kepada ibu.