Hari Membawa Bekal

membawa bekal

Anak-anak kelas 4 masuk kelas dengan sumringah. Di tangan mereka ada bekal yang sudah disiapkan dari rumah. Hari ini Pak Ahmadi, guru olahraga mereka, membolehkan membawa bekal.

Mereka akan berjalan-jalan hingga ke taman kota kemudian makan bekal bersama. Acara semacam ini selalu dinanti para siswa. Mereka berkesempatan mengenal alam sekitar sambil makan-makan di luar.

“Lihat, Aisya membawa rantang, apa saja yang kau bawa?” tanya Rania

“Ah, ini sayur berkuah, jadi aku wadahi secara terpisah. Semetara ini
yang paling bawah adalah mangga,” jawab Aisya.

“Banyak bawanya,” komentar Hani

“Tenang, nanti kita makan bersama,” lanjut Aisya.

Teman-teman yang lain pun saling berbagi cerita mengenai bekal yang mereka bawa. Ada yang bercerita serunya menyiapkan bekal sendiri. Semuanya terlihat bersemangat.

Priittt… peluit Pak Ahmadi dibunyikan. Setelah shalat dhuha bersama, Pak Ahmadi meminta mereka berkumpul. Penjelasan singkat dari Pak Ahmadi menjadi pengantar kegiatan olahraga pagi itu. Setelah berdoa bersama, mereka mulai berjalan meninggalkan halaman sekolah.

Perjalanan tak terasa. Lima belas menit perjalanan pelan-pelan terbayar suasana taman kota. Ada banyak pohon rindang, taman yang dipenuhi tanaman hias, dan bangku-bangku unik yang tersebar di sekitar taman.

“Pak, apakah kita boleh langsung minum dan makan?” tanya Aisya kepada pak Ahmadi.

“Silakan, makanlah bersama dan saling berbagi,” jawab Pak Ahmadi

Anak-anak segera mendekati bangkubangku taman dan pohon. “Ah, segarnya makan di sini, alhamdulillah,” ucap Aisya.

Pak Ahmadi berkeliling melihat bekal yang dibawa anak-anak, “Alhamdulillah anak-anak membawa bekal yang sehat, tapi…. Bapak lihat banyak di antara kalian belum benar cara makannya.” Pak Ahmadi berkata sembari tersenyum

Anak-anak saling berpandangan.

“Masak sih, Pak, kita sudah makan dengan tangan kanan semua, tadi juga sudah berdoa,” kata Hani.

“Rudi, Umar, Fida, Thoriq geser ke depan sedikit,” lanjut Pak Ahmadi.

Yang dipanggil melakukan sesuai perintah.

“Anak-anak, adab makan itu tak hanya soal tangan apa yang dipakai dan berdoa saja. Seperti anak-anak yang pak guru panggil, dan beberapa yang melakukan hal yang sama, belum melakukan adab makan ala Rasulullah.” Pak Ahmadi berhenti sejenak, memandang anak-anak.

“Yang masih makan sambil bersandar, coba lakukan seperti Rudi, Umar, Fida, Thoriq,” Pak Ahmadi melanjutkan.

“Memangnya kenapa Pak, nyaman ‘kan makan sambil bersandar begini,” sela Umar.

“Rasulullah mencontohkan umatnya untuk tidak makan sambil bersandar, begini hadistnya: La aakulu muttaki’an, yang artinya sesungguhnya aku tidak makan sambil bersandar. Hadist Riwayat Bukhori,” jelas Pak Ahmadi.

“Kalau Rasul mencontohkan seperti itu, pasti ada hikmahnya,” celetuk Rania.

“Tepat sekali!” Pak Ahmadi mengacungkan jempol pada Rania. “Cara makan yang baik adalah duduk dengan baik, tegap, dan tidak bersandar agar makanan turun dengan sempurna. Bersandar di atas sesuatu akan menyulitkan makan, menghalangi aliran makanan secara alami, menghambat kecepatan masuknya makanan ke lambung, dan menekan lambung sehingga sulit terbuka untuk makanan.”

Mendengar penjelasan Pak Ahmadi, anak-anak memperbaiki cara duduk mereka kemudian melanjutkan makan. Selesai makan, mereka sempatkan berbincang mengenai acara jalan-jalan itu.

“Banyak hikmah kita dapatkan, terima kasih Pak,” kata Hani ketika diminta kesannya.

“Alhamdulillah….” Mereka mengucap syukur bersama.

“Rasanya kita sudah cukup lama berada di sini, saatnya kembali ke sekolah,” ajak Pak Ahmadi.

Mereka mengumpulkan sampah yang ditemukan di taman kemudian berjalan ke sekolah dengan riang.

 

BACA JUGA: SELAMAT TINGGAL GURUKU – KISAH BERHIKMAH