Ih, Geli … – Kisah Berhikmah

Ih, Geli … - Kisah Berhikmah

Gilang lagi-lagi menolak tawaran Mama untuk diurut saja kakinya yang terkilir karena bermain bola di sekolah. Mama berharap Galang mau diurut oleh Mak Uut, tukang urut langganan keluarga. Tetapi Gilang tetap tidak mau. Geli begitu katanya!

Geli. Begitu juga Gilang rasakan saat diurut Mak Uut. Padahal Gilang sering kali mengeluh terkilirlah, keseleolah bahkan pegal-pegal badannya jika seusai berolahraga atau bermain bola. Namun Gilang tetap saja tidak mau diurut.

“Memangnya kenapa diurut sama Mak Uut?” tanya Mama sambil menyelidiki saat membaluri balsem di kaki Gilang yang terkilir.

“Pokoknya Gilang enggak mau, Ma,” jawab Gilang.

“Tapi kenapa kamu enggak mau? Masa kamu kalah sama Yusuf, adik kamu itu. Dia suka sekali diurut sama Mak Uut,” kata Mama lagi.

Pipi Gilang langsung memerah. Gilang cemberut saat Mama berkata seperti itu.

“Yusuf kan masih kecil, Ma!”

“Memangnya kamu sudah besar, Sayang?” potong Mama.

“Ya sudah, Ma! Gilang ke kamar dulu ya,” Gilang mengalihkan pembicaraan Mama. Dengan langkah sedikit pincang, Gilang berjalan ke kamar.

“Oya, sementara waktu kamu tidak usah mengikuti pelajaran olahraga dulu ya, Sayang. Tunggu kaki kamu sembuh benar.” Mama menasehati

“Iya, Ma!”

Keesokannya Gilang diijinkan untuk tidak mengikuti pelajaran olahraga di sekolah. Kaki Gilang masih belum sembuh benar karena terkilir.

“Kamu kenapa enggak ikutan olahraga, Lang?” tanya Aldi, teman sekelas Gilang.

“Kakiku  masih sakit, Di! Terkilir saat main bola kemarin itu,” ucap Gilang.

“Memangnya kakimu enggak  diurut?” tanya Aldi lagi.

Gilang terdiam saat ditanya seperti itu. Gilang bingung untuk menceritakan yang sebenarnya pada Aldi.

“Lho. kok malah melamun,” sambar Aldi membuyarkan lamaunan Gilang.

“Eng-nggak kok! Aku enggak melamun, Di. Aku hanya…” Akhirnya Gilang menceritakan apa yang dipikikannya sejak tadi pada Aldi, teman sebangkunya itu.

“Ha-Ha.” Aldi tidak bisa menahan tawanya mendengar cerita Gilang.

“Ups, aku hanya becanda kok, Lang.  Aku dulu juga begitu suka geli jika diurut. Apalagi kalau digelitiki. Tapi jangan salah, diurut itu bisa membugarkan badan yang tadinya pegal-pegal dan lelah, apalagi terkilir.” ucap Aldi sambil memberitahukan Gilang manfaat diurut.

“Oya, Mak Uut itu dulu tukang urut langganan keluargaku. Tetapi karena melihat usia Mak Uut sudah makin tua maka Ayah dan Mamaku menghentikannya. Karena mereka tidak tega jika Mak Uut harus mengurut badan Ayahku yang besar itu. Hehe. Tapi  Ayahku  tetap memberikan uang atau makanan untuk membantu kehidupan sehari-hari Mak Uut. Apalagi Mak Uut hanya hidup sebatang kara dan rumahnya pun sudah mulai rapuh. Jika kamu ingin tahu  coba saja nanti lewat depan rumahnya seperti apa keadaan rumah Mak Uut saat ini.” lanjut Akbar.

Gilang yang mendengarnya menjadi penasaran. Sepulang sekolah Gilang pun akan membuktikan ucapan Aldi teman sekelasnya itu.

“Baiklah nanti aku melawati rumah Mak Uut,” ucap Gilang. “Oya, yuk kita ke kantin aku lapar nih…”

“Oke, deh! Tapi traktir aku ya kali ini.”

“Sip!”

Akhirnya Gilang merasa menyesal sekaligus kasihan pada Mak Uut. Apalagi ketika tadi sepulang sekolah Gilang melewati rumah Mak Uut. Ternyata apa yang dikatakan Aldi itu benar adanya. Rumah Mak Uut itu sudah mulai rapuh. Mungkin tidak lama lagi akan rubuh. Padahal mengurut mata pencaharian Mak Uut untuk menghidupi dirinya yang sebatang kara itu. Jika Gilang menolak terus diurut berarti itu sama saja mengurangi mata pencaharian Mak Uut. Lalu darimana Mak Uut akan mendapatkan uang atau makan?

Setiba di rumah Gilang langsung menemui Mama yang sedang menidurkan Yusuf di kamar. Dengan malu-malu Gilang mengutarakan kemauannya untuk minta diurut kembali.

“Ma, nanti sore panggil Mak Uut  datang ke rumah ya?  Gilang sekarang mau deh diurut sama Mak Uut. Gilang janji enggak akan menolak  lagi,” ucap Gilang meyakinkan Mama.

“Benar kamu mau, Sayang?!”

“Iya, Ma kali ini Gilang mau diurut deh sama Mak Uut.”

“Ya, sudah nanti Mama ke rumahnya untuk memanggil Mak Uut. Tapi kalau menolak lagi diurut Mama enggak akan memanggil Mak Uut untuk mengurut kamu. Kamu mengertikan, Sayang?”

“Iya, Ma! Percaya sama Gilang!”

Gilang langsung membayangi dirinya diurut kembali oleh Mak Uut. Walaupun masih ada rasa geli. Tetapi demi membantu Mak Uut untuk menambah mata pencahariannya Gilang rela bertahan untuk tidak merasakan rasa geli itu disaat diurut nanti.[]

Oleh : Zubeir el-Awwabi