Ikan Duyung bukan Putri Duyung

RZ0144-D. Dugong (Dugong dugon) ascending to the surface to breathe along southern Egyptian coast. It is currently feeding on seagrasses growing on the bottom- note a few bits of algae stuck to its chin. A few semi-resident male dugongs are frequently encountered by scuba divers and snorkelers. Dugongs pose no danger to humans, but humans do to dugongs through hunting and habitat destruction. Sharks and Killer Whales prey upon them. Egypt, Red Sea. Photo Copyright © Brandon Cole. All rights reserved worldwide.  www.brandoncole.com

Mendengar kata ‘Duyung’, mungkin yang terbayang adalah sesosok ikan berbadan manusia, atau manusia berekor ikan. Tapi duyung yang sebenarnya adalah sejenis ikan laut. Eh, bukan ikan, tapi mamalia laut.

Duyung adalah mamalia laut, seperti paus dan lumba-lumba. Meskipun hidup di dalam air, duyung bernafas dengan paru-paru dan menyusui anaknya. Duyung dalam bahasa Inggris dinakaman dugong atau sea cow. Nama ilmiahnya adalah Dugong dugon.

Duyung mempunyai tubuh yang besar. Panjang tubuhnya sekira 2,5 – 3 meter dengan berat 225-450 kilogram. Kulitnya tebal, keras, dan licin. Warnanya abu-abu agak kebiruan.

Kepalanya bulat dengan mata kecil dan lubang hidung di bagian atas moncong. Matanya memiliki penglihatan terbatas, tetapi pendengarannya sangat tajam. Pada bibir bagian atas terdapat bulu yang berguna untuk membantu menemukan makanan.

Dogong -Sea Cow Photograph by Roberto Sozzani in the Red Sea - 2004 Editorial use only/No Archiving/No third party sales

Duyung hidup berkelompok. Satu kelompok terdiri dari 5 – 10 ekor, yang terdiri duyung jantan, duyung betina, dan anak-anaknya. Duyung hidup tersebar di perairan laut tropis di seluruh dunia.

1
Duyung dapat hidup hingga 70 tahun. Namun perkembangbiakannya sangat lambat. Seekor duyung betina melahirkan seekor anak dalam dalam waktu 3-7 tahun. Karenanya, populasi duyung berkurang dan termasuk satwa yang dilindungi.