Ikhlas Memaafkan, Berani Meminta Maaf

Kamu sedang bermain dengan teman-temanmu. Tiba-tiba, tak sengaja kamu merusakkan mainan seorang temanmu. Dia marah. Apa yang kamu lakukan? Ya, kamu sebaiknya meminta maaf kepada temanmu serta berani mengakui kesalahanmu.

Meminta MaafHari lain, ada teman yang berbuat salah kepadamu. Kamu pun harus ikhlas memaafkannya. Tidak sakit hati, apalagi menyimpan dendam kepadanya.

Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah akhlak yang baik. Memaafkan kesalahan orang lain juga sifat yang mulia. Dua-duanya harus bisa kita amalkan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk memaafkan orang lain. Memaafkan orang lain sama dengan meraih ampunan Allah. Beliau bersabda, “Barangsiapa memaafkan kesalahan seorang Muslim, maka Allah akan memaafkan kesalahannya.” [HR. Abu Dawud]

Turunnya Ayat

Ada kisah tentang seorang sahabat nabi yang mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Abu Bakar pernah marah kepada sepupunya, Misthah bin Utsatsah. Abu Bakar hendak memutuskan hubungan kekerabatan dan menghentikan bantuan kepada Misthah. Abu Bakar marah karena Mitshah ikut memfitnah Aisyah putri Abu Bakar.

Allah Ta’ala lalu menurunkan firman-Nya. Sebuah ayat untuk mengingatkan Abu Bakar, yaitu Surat An-Nuur [24] ayat 22:

“… dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?”

Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan ayat ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung tersadar. Abu Bakar memohon ampun dan berdoa, “Ya Allah, aku lebih suka agar Engkau mengampuniku, dan aku sudah memafkannya.”

Abu Bakar memaafkan saudara sepupunya, sebelum saudaranya itu datang meminta maaf. Abu Bakar lebih memilih ampunan Allah Ta’ala dari pada sekadar permintaan maaf orang lain. Itulah teladan dari seorang sahabat mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Alangkah mulianya Islam. Islam mengajarkan umatnya untuk saling memaafkan. Tak ada dendam. Tak ada permusuhan. Yang ada hanyalah eratnya tali persaudaraan.

Allah Ta’ala sangat mencintai orang yang memaafkan, karena memberi maaf termasuk berbuat baik kepada manusia. Sedangkan Allah Ta’ala cinta kepada orang yang berbuat baik, sebagaimana firman-Nya:

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [QS. Ali ‘Imran: 134]

Nah, jika ada temanmu yang berbuat salah, segeralah dimaafkan. Tak perlu menunggu dia meminta maaf. Sebaliknya, jika kamu yang berbuat salah, segeralah meminta maaf.

Mintalah maaf pada ibumu, jika kamu tak sengaja membantahnya, atau tidak menuruti nasihatnya. Mintalah maaf pada ayahmu, jika kamu tak menaati perintah baiknya. Lalu, mohonlah ampun kepada Allah. Maafkan orang tuamu, jika mereka belum bisa memenuhi permintaanmu. Dan doakanlah mereka berdua agar senantiasa mendapat perlindungan dari Allah.

Mari berlatih untuk selalu ikhlas memaafkan orang lain, dan berani meminta maaf jika berbuat salah.

Oya, memaafkan dan meminta maaf tak harus menunggu Idul Fitri. Bahkan, mengkhususkan acara memaafkan pada saat hari raya tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah maupun para sahabatnya. Saling memaafkan bisa dilakukan kapan saja.

Mintalah maaf segera setelah kamu berbuat salat. Berilah maaf sebelum kamu dimintai maaf.