Itsar, Mengutamakan Orang Lain

Mengutamakan Orang LainPas jalan-jalan, eh ada pasar tumpah. Orang ramai berjualan di pinggir-pinggir jalan. Pembelinya berkerumun, ramai. Berjejal sesak berhimpitan. Kendaraan yang melintas menjadi tersendat. Lalu lintas pun terganggu.

Orang-orang yang berkerumun di sana tidak sadar bahwa mereka mengganggu jalan orang lain. Mereka telah mengedepankan kepentingannya sendiri, tanpa peduli dengan macetnya jalan. Egois, bukan?

Sifat egois itu tidak baik. Orang egois hanya ingin menang sendiri. Mementingkan diri sendiri dan tidak peduli kepada orang lain. Lupa, bahwa dia pun butuh orang lain.

Sifat yang mulia adalah lebih mementingkan orang lain. Sifat ini sangat dicintai Allah. Juga dicintai oleh sesama. Sifat ini lebih tinggi derajatnya dari sisat dermawan. Sifat mulia ini biasa disebut itsar.

Itsar itu lebih mengedepankan kepentingan orang lain. Itsar lebih tinggi dari dermawan. Jika dermawan, memberikan sesuatu yang banyak, namun masih menyisakan untuk dirinya. Atau menyisakan yang sama dengan yang diberikan. Adapun itsar, mengutamakan orang lain sedang dirinya di saat bersamaan juga membutuhkannya.

Sebuah contoh nyata pernah kakak alami. Ada seorang anak sedang antri toilet umum. Pas kakak datang, dia malah mempersilakan kakak duluan. Wah, mulia sekali. Sungguh hebat. Super!

Baca juga : Ikhlas Memaafkan, Berani Meminta Maaf

Bagaimana dengan kamu? Pernahkah melakukan kebaikan sebagaimana yang ditunjukkan si anak di toilet umum tadi? Si anak yang masih berseragam putih merah itu telah melakukan itsar. Memberi kesempatan kepada yang lain. Walau dirinya harus menunggu lebih lama. Ketika ia masih bisa menahan, justeru ia bisa berbagi.

Memang, tidak banyak orang yang berjiwa itsar. Tentu tidak mudah berjiwa seperti si anak tadi. Kamu bisa berlatih dan membiasakan diri mengedepankan orang lain dari dirimu sendiri. Karena tidak banyak yang bisa bersikap atau melakukan itsar, seperti yang ditunjukkan anak SD tadi.

Itsar lebih utama dari bersedekah. Karena tidak semua orang bisa bersedekah, apalagi dalam kesusahan. Tidak mudah orang bisa ber-itsar, jika tak ada iman di dada.

Pastikan kamu selalu berbuat baik. Terus berbuat baik. Lebih baik lagi. Lebih hebat lagi. Belajar berbagi dari apa yang kamu punya. Membiasakan mengedepankan orang lain. Mendahulukan kepentingan orang lain dari dirimu. Raih kemuliaan, hindarkan dirimu dari sikap egois. Tumbuhkan sifat pemurah. Selalu melayani.

Orang yang terbiasa itsar akan merasa bahagia melihat orang lain yang berubah menjadi ceria karena dirinya.

Lihat kaum Anshar! Mereka bergembira menyambut para Muhajirin yang datang kepadanya. Mereka menerima saudara seimannya dengan tangan terbuka. Para Anshar saling berlomba berebut memberikan segala apa yang terbaik. Padahal saat itu mereka pun membutuhkan. Karena mereka pun bukan orang yang berkecukupan.

Kuatkan hatimu. Yakinlah, bahwa orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Ya, mengutamakan orang lain.