Jam Weker Baru Milik Rifat

jam weker

Ayah dan Bunda hanya tersenyumsenyum di balik pintu kamar Rifat. Mereka gemas melihat kelakuan Rifat yang meletakkan jam weker barunya di dekat bantal sebelum tidur. Ia kemudian mengatur alarm sesuai keinginannya. Ia tepatkan jarum pendek ke angka dua, lalu ke jarum panjang ke arah tepat ke dua belas.

Sip! Jam dua nanti malam aku harus salat tahajud. Aku ingin seperti Kak Kamil! Begitu pikir Rifat, berharap jam dua malam nanti ia bisa terbangun.

“Ehem,” Bunda pura-pura batuk kemudian masuk ke kamar Rifat.

“Eh, Bunda! Ada apa, Bunda,” ucap Rifat.

“Kamu belum tidur, Sayang?” tanya Bunda.

“Ini mau siap-siap tidur, Bunda,” jawab Rifat.

“Jangan lupa berdoa sebelum tidur ya, Sayang!”

“Baik, Bunda.”

Klik! Bunyi suara saklar lampu kamar Rifat dimatikan. Lalu Bunda meninggalkan Rifat di dalamnya.

Karena di luar sana malam sudah beranjak sepi.

“Bismikallahumma ahyaa wa amutu… Aamiin.”

Tidak lama kemudian jam weker pun berbunyi. Tepat pada di arah jarum jam angka 2. Itu adalah tanda alarm Rifat. Karena sebelum Rifat sudah mengaturnya.

Kriingg…Kriiinggg…Kriiiingggg…

Akhirnya jam weker Rifat berbunyi keras hingga membuat seisi rumah terbangun. Anehnya, Rifat tidak terganggu. Ia begitu pulas tidurnya. Mungkin tadi siang ia kelelahan karena seharian ekskul futsal di sekolah. Entahlah.

Karena bunyi alarm jam weker tidak berhenti Bunda pun terbangun. Lalu menghampir kamar Rifat. Dilihatnya Rifat tidur sangat pulas. Jam weker berbunyi keras tidak membuatnya terbangun. Bunda tersenyum, lalu mematikan alarmnya.

Saat Bunda keluar dari kamar Rifat tiba-tiba datang Kak Kamil yang sudah rapi dengan baju koko, peci dan sarung. Ia sudah bersiap menunaikan salat tahajjud.

“Bunda kenapa tidak dibangunkan Rifatnya?” tanya Kak Kamil.

“Bunda kasihan membangunkannya. Seperti ia terlihat pulas sekali. Mungkin karena kelelahan seharian ekskul futsal di sekolah. Nanti saja saat salat subuh kita bangunkan untuk berjama’ah,” jawab Bunda sekaligus memberikan alasan.

“Iya, Bunda! Kalau begitu Kamil salat tahajud dulu, Bunda,” jawab Kak Kamil.

Pagi pun tiba. Ayah, Bunda, Kak Kamil dan Rifat sudah berada di meja makan. Mereka akan sarapan pagi. Tapi disaat di meja makan Rifat cemberut. Pipi gembulnya langsung memerah.

“Bunda kok tidak bangunin Rifat untuk tahajud,” protes Rifat.

“Iya maafkan Bunda ya, Sayang. Bunda kasihan bila membangunkan kamu yang begitu pulas. Sebab, Bunda tahu kamu sangat lelah kemarin ekskul futsal di sekolah seharian. Maka dari itu Bunda tidak membangunkan kamu. Apalagi kamu masuk pagi. Khawatir kamu ketiduran di kelas,” jawab Bunda memberikan alasan kembali.

“Tapikan…” Belum usai Rifat bicara tetiba Ayah angkat suara.

“Ayo dong anak Ayah jangan marah begitu. Lagi pula salat tahajud kan sunah. Jadi tidak apa-apa jika tidak melaksanakannya. Terpenting bagi kamu rajin belajar, taat pada guru dan berbakti pada orangtua. Apalagi kamu belum akil baligh. Jadi belum diwajibkan,” panjang lebar Ayah memberitahukan.

Rifat di meja makan hanya terdiam. Nasi goreng bermata sapi dan plus abon ayam didiamkannya. Ia jadi tidak berselera.

“Ya, sudah nanti malam Kak Kamil bangunkan kamu untuk salat tahajud. Nanti kita jamaah, sama-sama,” Kak Kamil akhirnya menghibur Rifat.

Kini wajah Rifat mulai berubah. Ia kembali tersenyum.

“Terima kasih ya, Kak. Rifat janji tidak akan bergantung pada jam weker lagi. Lagi pula pakai jam weker kan mengganggu orang lain juga,” ucap Rifat akhirnya ikut bicara juga.

“Nah, itu baru anak Ayah. Anak yang saleh dan mandiri. Apalagi Rifat sudah kelas IV. Harus belajar mandiri dan bertanggungjawab. Iyakan?!” lanjut Ayah.

Rifat mengangguk. Tanda ia mulai mengerti.

“Kalau begitu sekarang dihabiskan sarapannya ya, Sayang. Nanti mubazir,” Bunda pun memotong ucapan Ayah.

“Siap, Bunda!”

Pagi itu Rifat memulai paginya dengan wajah ceria. Pipi tomatnya kembali memerah. Tanda hatinya sedang gembira. Apalagi nanti Kak Kamil akan membangunkannya untuk salat tahajud bersama-sama.

Akhirnya Rifat menjadi senang sekali. Kini jam weker yang baru ia beli diletakan di meja belajarnya saja. Karena ia tidak lagi ketergantungan dengan jam weker yang baru ia beli itu. Apalagi hanya untuk salat tahajud saja tidak perlu seperti itu. Terpenting niat dan kemauan untuk bangun tengah malam itu yang harus ia lakukan.

 

BACA JUGA: CANTIK ITU DARI DALAM HATI