Jangan Lebih Tiga Hari  

kidahberhikmahRabu sore, tak seperti biasanya, Syifa hanya berdiam diri di rumah saja. Padahal, hampir sore dia selalu belajar bersama Nadya dan Ulfa. Ketiganya adalah teman sekelas, kelas lima SD Permata Hati. Tempatnya bergiliran. Kebetulan, jarak rumah mereka tak berjauhan.

Dan sore itu, Syifa hanya membaca buku saja di ruang tengah. Sambil sesekali minum susu coklat hangat, minuman kesukaannya, dan mangga hasil kebun belakang rumah.

“Kamu nggak belajar bersama, Syifa?” tanya Bunda.

“Nggak, Bunda. Syifa belajar sendiri saja di rumah,” jawab Syifa.

“Kok tumben? Kenapa?” tanya Bunda lagi.

“Nggak ada apa-apa kok, Bunda. Syifa cuma lagi mau belajar sendiri aja,” jawab Syifa..

“Bener, nih, nggak ada apa-apa? Atau, kamu sedang marahan sama teman-temanmu?” tanya Bunda lagi, menyelidik.

“Iihh, Bunda! Kan Syifa bilang nggak ada apa-apa,” jawab Syifa sedikit kesal. Syifa pun meneguk minumannya, lalu lanjut membaca buku.

“Ya sudah, kalau memang nggak ada apa-apa. Bunda cuma ingin tahu aja, kok! Tapi, kalau memang ada apa-apa, bilang ya. Cerita sama Bunda,” kata Bunda.

Dari sikap Syifa, Bunda tahu kalau putrinya itu ada masalah. Bunda cuma tidak tahu masalah yang sebenarnya. Tapi, Bunda punya cara untuk mengetahuinya.

 

“Syifa, Bunda boleh minta tolong?” tanya Bunda.

“Minta tolong apa sih, Bunda?” Syifa balik bertanya.

“Tolong antarkan mangga ini ke rumah bu Rahma dan bu Irma, ya!” kata Bunda.

“Hah…, Bu Rahma mamanya Nadya?” tanya Syifa, tampangnya terlihat kaget.

“Iya, kok kamu kelihatan kaget gitu? Kan kamu biasa ke sana?” kata Bunda.

“Ahh…males, Bunda! Kali ini, Syifa males ke rumah Nadya,” kata Syifa.

“Kenapa memangnya?” tanya Bunda.

“Habis, Nadya gitu orangnya. Kemarin dia nuduh Syifa mengambil pensilnya. Padahal Syifa nggak melakukannya. Malahan, dia sendiri yang ceroboh sehingga pensilnya jatuh di depan kelas. Sebenarya, Nadya sudah minta maaf, tapi Syifa terlanjur kesal.” Syifa menjelaskan, kenapa dia nggak mau ke rumah Nadya.

“Oh, ceritanya lagi musuhan, nih! Eh, ingat pesan Rasulullah lho, bertengkar itu nggak boleh lebih dari tiga hari. Ini sudah dua hari, besok hari ketiga. Kalau sampai besok belum baikan, kalian akan berdosa,” kata Bunda menasihati.

“Iya sih, Syifa tahu. Tapi….”

“Tapi kenapa? Kamu malu ketemu Nadya?”

Syifa mengangguk.

“Kalau begitu, ibu aja yang anterin mangga ini. Tapi, kamu harus ikut ya. Minta maaf dan baikan lagi sama Nadya,” ajak Bunda.

“Baiklah, Bunda,” kata Syifa. Syifa pun ikut Bunda, pergi ke rumah Nadya.

 

Sesampai di rumah Nadya, Syifa langsung disambut sahabatnya itu. “Hai Syifa, sini…” sambut Nadya.

“Hai Nadya, aku minta maaf, ya!” kata Syifa.

“Aku yang harusnya minta maaf, sudah menuduh kamu. Padahal aku sendiri yang ceroboh,” kata Nadya.

“Sama-sama, aku juga kemarin marah sama kamu, padahal kamu sudah minta maaf,” kata Syifa.

Keduanya pun saling bermaafan. Bunda dan mamanya Nadya pun tersenyum memandang keduanya. Alhamdulillah!

Kadang-kadang, kita sering kesal atau marah kepada teman atau sahabat. Namun, tidak selayaknya seorang muslim mendiamkan saudaranya, juga teman dan sahabat, lebih dari tiga hari. Saling memaafkan adalah perbuatan mulia yang dianjurkan oleh Rasulullah.

 

Kak Adhe