Janji Setia di Bawah Pohon

Janji Setia di Bawah Pohon

Enam tahun setelah Hijrah, Rasulullah berniat mengunjungi Makkah. Beliau mengajak kaum muslimin Madinah untuk melaksakan umrah, sekaligus mengunjungi keluarga mereka yang masih berada di Makkah. Perjalanan ini dilaksanakna pada bulan Dzulqa’dah.

Sesampai di Hudaibiyah, Rasulullah berhenti. Beliau ingin mengetahui keadaan kota Makkah terlebih dahulu. Maka, beliau menunjuk Umar bin Khattab untuk masuk kota Makkah dan menyampaikan maksud kedatangan mereka.

Namun Umar menolak. “Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki keluarga di Makkah. Jika aku tertangkap maka tidak akan ada yang membelaku. Apalagi orang-orang Quraisy pastilah ingat akan permusuhanku dengan mereka. Lebih baik utuslah Utsman bin Affan. Dia masih memiliki keluarga di sana. Pastilah ia lebih dihormati.” Itulah alasan penolakan Umar bin Khattab.

Rasulullah setuju. Beliau lalu mengutus Utsman bin Affan.

Berangkatlah Utsman seorang diri memasuki kota Makkah. Di tengah perjalanan, Utsman dihadang oleh orang-orang Quraisy. Utsman menyampaikan maksud kedatangannya ke Makkah adalah sebagai utusan dari Muhammad. Maka dipersilahkanlah ia untuk melanjutkan perjalanan.

Seorang Qurasiy bernama Aban bin Said mengantarkan beliau menuju pusat kota. Dialah yang menjamin keselamatan Utsman dari ancaman orang Quraisy. Utsman pun bertemu dengan para pemimpin Quraisy dan mengutarakan maksudnya seperti perintah Rasulullah.

Di luar kota Makkah, kaum muslimin mulai merasa khawatir. Mereka sudah menunggu terlalu lama, namun Utsman tak segera kembali. Lalu, tersiar kabar bahwa Utsman telah dibunuh oleh orang-orang Quraisy.

Janji Setia Para Sahabat

Berita itu segera menyebar di kalangan kaum muslimin. Mereka pun bersedih. Apalagi, mereka tidak membawa senjata. Jika sampai diserang orang-orang Quraisy, mereka pasti akan kalah.

Lalu, Rasulullah bersabda, “Jika sudah seperti ini kita tidak akan pulang sampai terselesaikan masalah ini.”

Rasulullah lalu megumpulkan kaum muslimn di bawah sebuah pohon. Beliau mengajak mereka untuk berbaiat atau berjanji setia kepada Rasulullah dan berjuang untuk Islam sampai titik darah penghabisan. Bahkan, jika nyawa harus meninggalkan jasad untuk selamanya sekalipun. Peristiwa itu dinamakan Bai’atur Ridwan.

Satu per satu kaum muslimin menjabat tangan Rasulullah. Mereka mengucapkan janji setia untuk berjuang bersama Rasulullah.

Rasulullah memuji perbuatan mereka ini dengan mengatakan, “Kalian adalah sebaik baik penduduk bumi.”

Beliau juga bersabda, “Insya Allâh, tidak ada satu pun yang masuk neraka dari orang orang yang berbai’at di bawah pohon.”

Lalu, Rasulullah menjabat tangannya sendiri, sambil berkata, “Ini untuk Utsman.”

Allah berfirman tentang kejadian ini dan memuji kaum muslimin yang turut berjanji di hadapan Rasulullah. “Sesungguhnya Allah telah ridho terhadap orang-orang mukmin yang mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, lalu Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)” [QS. Al-Fath : 18]

Kaum muslimin pun siap, meskipun harus berperang tanpa senjata. Saat itulah, mereka melihat Utsman berjalan mendekat. Alhamdulillah, bersyukurlah kaum muslimin kepada Allah. Utsman telah kembali dengan selamat.

Lalu, Rasulullah mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Makkah. Perjanjian ini dinamakan Perjanjian Hudaibiyah. Salah satu isinya adalah Rasulullah dan kaum muslimin tidak diperbolehkan memasuki Makkah pada tahun ini dan harus kembali ke Madinah sekarang juga.

Semoga kita dapat mencontoh para sahabat yang bersedia mengucapkan janji setia kepada Rasulullah di bawah pohon ketika itu. Walahu a’lam.