Jas Hujan Biru

jas hujan

“Fahri, jangan lupa jas hujannya dibawa, Nak!” Bunda berteriak dari dapur. Bunda sedang mencuci piring yang digunakan untuk sarapan.

Fahri melihat jas hujan biru yang terselampir di jemuran. Dia ingin mengambilnya, namun ia teringat perkataan Rudi, teman sekolahnya. Kemarin. Rudi bilang, ‘Laki-laki yang bawa jas hujan berarti pengecut.’ Fahri mengurungkan niatnya untuk membawa jas hujan.

“Berat, Bunda!” jawab Fahri mencari-cari alasan.

Fahri hendak pergi, namun tibatiba bunda muncul di belakangnya.

“Pokoknya harus dibawa! Kalau hujan gimana? Tas kamu basah, buku-buku kamu basah.”

“Insya Allah nggak hujan kok, Bun,” jawab Fahri santai.

“Dari mana kamu tahu kalau nanti nggak hujan? Apa salahnya ikhtiyar dulu dong sayang,”

kata bunda. “Fahri malu bawa jas hujan, Bun.”

“Loh kok malu?” tanya bunda.

“Kata temen-temen, laki-laki yang bawa jas hujan berarti pengecut, Bun.

Masa bunda mau punya anak pengecut?” Kata Fahri.

“Kata siapa pengecut?!” kata bunda kesal.

“Ya udah kalau gitu bawa payung saja.

“Hih, kayak anak perempuan dong bun, malu lah.”

Fahri pun menyerah. Dia mengambil jas hujannya dan memasukkanya ke dalam tas sekolahnya. Fahri berangkat dengan perasaan yang kacau. Terbayang celaan teman-temannya nanti.Duh, malunya diriku.

Bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid meninggalkan sekolah dengan tertib. Ada yang dijemput orang tua, ada yang bersepeda, ada pula yang berjalan kaki.

Tiba-tiba hujan turun. Beberapa murid yang tidak membawa jas hujan atau payung, memilih berteduh di sekolah. Tapi, ada juga yang nekat berhujan-hujanan.

Fahri segera mengeluarkan jas hujan biru dari tasnya. Ia pakai dengan posisi tas punggungnya tertutup dalam jas hujan. Namun tiba-tiba muncul teman-temannya tepat di hadapannya.

“Hey, Fahri bawa jas hujan, nih,” Kata Rudi kepada Tito dan Heru.

“Fahri takut sama hujan, pengecut… Hahaha…!” Serentak mereka tertawa bersama.

“Kalian nggak bawa jas hujan?” Kalau buku kalian basah gimana?” teriak Fahri.

“Udah kita bungkus kok pakai plastik.” kata Heru.

Kemudian mereka meninggalkan Fahri seorang diri. Fahri mulai mengayuh sepedanya menelusuri jalan pulang.

Keesokan harinya cuaca cerah seperti kemarin. Fahri berniat hari ini ia tidak akan membawa jas hujan. Sebagai gantinya ia membawa tas plastik besar untuk membungkus bukunya nanti kalau hujan.

Ia menuntun sepedanya pelan supaya tidak terdengar oleh bunda. Namun ternyata bunda sudah berdiri di depan pintu menunggunya.

“Jas hujannya dibawa!” kata bunda, tatapan matanya menyipit. Fahri ngeri melihatnya.

“Iya-iya bun,” kata Fahri menyerah.

Sesampainya di sekolah Fahri melihat bangku Rudi masih kosong. Seperti biasanya Rudi berangkat agak terlambat, semua murid tahu itu. Namun sampai bel masuk berbunyi Rudi tak kunjung terlihat juga. Fahri mendekat ke arah Heru.

“Rudi mana, Her?” Tanya Fahri. “Hari ini izin tidak masuk Ri, kemarin buku pelajarannya basah semua.”

“Kan, sudah ditutup pakai plastik?” tanya Fahri lagi. “Iya sih, awalnya nggak masalah. Ee.. Rudi ngebut, terus terpeleset di selokan. Basah semua deh.” kata Heru menjelaskan.

“Bahkan Tito juga nggak masuk hari ini,” kata Heru lagi sambil menunjuk ke belakang. Eh iya, Fahri baru menyadari kalau Tito juga absen hari ini.

“Tito kenapa, nyemplung selokan juga?” Fahri keheranan.

“Tito sakit, badannya panas.” kata heru datar.

Fahri kembali ke bangkunya. Ia teringat akan bunda yang selalu berpesan untuk membawa jas hujan. Ia buka tasnya perlahan. Dilihatnya jas biru pemberian bunda di dalamnya. “Terima kasih bunda, terima kasih jas hujan biruku.”

 

 

BACA JUGA: HARI MEMEBAWA BEAKAL