Kedengkian Saudara Yusuf

nabi yusuf

Nabi Ya’kub memiliki duabelas putra. Beliau tinggal di Mesir bersama duabelas putranya.

Salah satu putranya bernama Yusuf, seorang anak yang shalih. Sikapnya sopan dan santun. Tutur katanya halus dan lembut. Dialah Yusuf, anak yang kelak akan diangkat Allah menjadi seorang nabi bagi bani Israel. Nabi Ya’kub sangat menyayangi Yusuf, melebihi sayangnya pada anakanaknya yang lain.

Suatu hari, Yusuf bermimpi. Dalam mimpinya, Yusuf melihat matahari, bulan, dan bintang bersujud kepadanya sebagai penghormatan. Dia menceritakan mimpinya kepada sang ayah.

Nabi Ya’kub seketika merasa takjub dan memuji Allah. Beliau yakin Yusuf bukanlah seorang anak biasa, melainkan anak yang dimulaikan oleh Allah. Rasa sayangnya pada Yusuf pun semakin besar.

Sikap Nabi Ya’kub ini membuat saudara-saudara Yusuf menjadi iri dan dengki. Mereka merasa sang ayah telah melupakan mereka dan hanya menganggap Yusuf sebagai anaknya. Padahal tidak demikian. Yusuf adalah anak yang penurut, wajar saja ayahnya menyukainya. Namun saudara-saudara Yusuf tidak terima dengan itu semua.

Mereka pun berencana menyingkirkan Yusuf dari rumah. Menjauhkannya dari pandangan sang ayah. Mereka bersepakat untuk mengajak Yusuf ke hutan, lalu membuangnya ke dalam sumur.

Hari yang disepakati telah tiba. Mereka meminta ijin kepada Nabi Ya’kub untuk mengajak Yusuf berjalanjalan di hutan. Pada awalnya Nabi Ya’kub tidak memberikan ijin. Namun, mereka memaksa dan berjanji akan menjaga Yusuf. Nabi Ya’kub pun menuruti permintaan anak-anaknya.

Akhirnya pergilah mereka bersama Yusuf ke hutan. Sesampai di dekat sumur tua, mereka melepas baju Yusuf, lalu melemparkannya ke dalam sumur. Mereka meninggalkan yusuf seorang diri di dasar sumur yang gelap dan dingin.

Mereka pulang dengan air mata yang membasahi pipi. Sambil menyerahkan baju Yusuf yang berlumuran darah domba kepada ayahnya, mereka berkata bahwa Yusuf telah di makan srigala. Mereka berlagak seolah-olah sedih dengan kematian Yusuf.

Nabi Ya’kub bersedih. Apa yang dikhawatirkannya terjadi. Beliau tahu apa yang terjadi. Beliau pun berdoa dan memohon keselamatan untuk Yusuf. Seraya menangis beliau berkata,

“Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf : 18)

Dengan izin Allah datanglah kafilah dagang untuk mengambil air dari dalam sumur. Betapa terkejutnya mereka ketika mereka mendapati seorang anak yang tampan rupawan. Mereka membawanya ke Mesir untuk dijual. Seorang pembesar Mesir bernama Qitfir Al-Aziz membelinya dan mengangkatnya sebagai karyawan kerajaan.

Yusuf pun memulai kehidupan yang baru di lingkungan kerajaan Mesir. Hingga akhirnya, Yusuf diangkat menjadi menteri kerajaan karena berhasil menafsirkan mimpi sang raja.

Musim paceklik tiba. Setiap orang kesulitan untuk makan termasuk keluarga Yusuf. Ya’kub memerintahkan putra-putranya ke Mesir untuk mencari makanan. Maka bertemulah mereka dengan Yusuf yang sedang bertugas sebagai pekerja di kerajaan. Mereka menyesal dan meminta maaf kepada Yusuf atas tindakan mereka beberapa tahun silam. Yusuf yang berhati baik memafkan mereka dan memeluk erat mereka.

Itulah kisah Nabi Yusuf yang baik hati dan Saudara-saudaranya yang dengki kepadanya. Semoga Allah menjauhkan kita semua dari sifat iri dan dengki.