KEJUJURAN IKHSAN – Kisah Berhikmah

KEJUJURAN IKHSAN

KEJUJURAN IKHSAN – Sore itu, angin berhembus kencang. Langit mendung dan semakin pekat. Pertanda sebentar lagi hujan akan turun. Karena itulah, anak-anak TPA An-Nur dipulangkan lebih awal. Ada yang pulang jalan kaki, ada yang naik sepeda, ada yang dijemput orang tuanya.

Ikhsan pulang dari masjid setengah berlari. Dia ingin segera sampai ke rumah sebelum hujan benar-benar turun. Larinya semakin laju ketika terdengar suara gemuruh guntur.

Tiba-tiba kakinya menendang sesuatu di tanah. Ia kaget dan berhenti berlari. Dilihatnya, ada sebuah dompet tebal berwarna hitam tergeletak di depannya.

“Ya Allah, dompet siapa ini?” gumamnya dalam hati.

Ia sedikit ragu ingin mengambilnya karena takut dilihat orang. Setelah menengok ke kanan kiri dan suasana sepi, akhirnya ia mengambilnya. Dimasukkannya dompet itu ke dalam tasnya, lalu segera berlari pulang. Hujan pun turun dengan derasnya.

Sesampainnya di rumah, Ikhsan langsung masuk kamar dan mengunci pintu kamar segera.

“Ikhsaan, ganti baju dulu, Nak…!” teriak ibu dari dapur melihat Ikhsan yang basah kuyup.

Ikhsan terkaget dengan suara ibu yang tiba-tiba. “Iya bu, sebentar,” jawab Ikhsan dari dalam kamar.

Di dalam kamar, Ikhsan segera mengeluarkan dompet termuannya. Dibukanya dompeti hitam itu. Ia terkejut bukan main melihat isinya. Lembaran uang yang sangat banyak. Jumlahnya lebih dari satu juta. “Wah bisa beli sepeda nih,” gumamnya dalam hati.

Sudah sejak lama Ikhsan ingin sekali punya sepeda, namun ayah dan ibunya belum sanggup membelikan sepeda untuknya. Ia membayangkan seandainya ia punya sepeda berwarna biru kesukaannya dan mengayuh sepedannya sepanjang hari. Pergi ke sekolah dengan sepeda, berangkat mengaji naik sepeda, menuju lapangan bola dengan sepeda. Tak perlu lari-lari kehujanan. Duh senangyaa. Iksan tersenyum-senyum sendiri.

Kejujuran Ikhsan

Selepas shalat maghrib, keluarga berkumpul di dapur untuk makan malam. Ibu melihat sikap Ikhsan yang lain dari biasannya. Sore itu, Ikhsan menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Padahal biasanya suka bercerita macam-macam.

“Iksan kok jadi pendiem sih?” kata ibunya bercanda.
“Eh enggak, Bu..” jawab Ikhsan gugup.
“Ada masalah apa sih, cerita dong ke ibu…,” kata ibunya lagi.
Ikhsan semakin gugup dan bingung. Wajah gugupnya terlihat jelas. Butir-butir kecil keringat dingin mulai berkeluaran. Ia berfikir agar tidak dicurigai ibunya.

“Ibu kok masak sayur bayam lagi sih?” katanya mengalihkan pembicaraan.
“Memangnya kenapa nak, gak suka bayam ya?” kata ayah menimpali.
“Eh suka kok, Yah,” kata Ikhsan lagi.
“Nak, kita harus bersyukur. Walaupun cuma bayam, asalkan halal akan menyehatkan badan kita, dan yang terpenting adalah mendapatkan barokah Allah dari hasil yang halal,” kata ibu, menasihati.

Iksan terkejut mendengar kata-kata ibunya dan teringat dompet yang ditemukannya tadi. Ia tahu bahwa uang itu bukan uang yang halal untuknya. Ia memberanikan diri untuk mengatakannya kepada ibu.
“Ibu, sebenarnya Iksan tadi sore nemu dompet di jalan?”
“Dompet siapa, Ikhsan?” kata ayah kaget.
“Iksan nggak tahu, Yah.” jawab Ikhsan gugup.
“Coba bawa kesini, Nak.” kata ibu.
Kemudian ia mengambilnya dari kamar dan menyerahkannya ke ibu.
“Alhamdulillah, ada identitas pemiliknya, besok akan kita kembalikan,” kata ayah.
Keesokan harinya ayah dan Ikhsan menghampiri alamat si pemilik dompet. Pemilik dompet sangat senang sekali dompetnya bisa kembali. Apalagi uangnya masih utuh, karena uang itu akan digunakan untuk biasa sekolah anaknya.

Sebagai rasa terima kasih dan rasa kagum atas kejujuran Ikhsan, si pemilik dompet memberikan oleh-oleh buat Ikhsan. Ikhsan pun lega, karena ia terhindar dari harta yang tidak halal. Meskipun dia belum jadi punya sepeda.

Oleh : Kak Fatih