Kelas Baru Semangat Baru

Oleh : Zubeir el-Awwabi

kisahberhikmahPagi itu Danang  tidak ingin sekolah. Bukan. Bukan, karena ia malas sekolah. Apalagi hari itu hari pertama ia masuk sekolah. Tapi ia masih tetap berada di teras rumah.

Ibu yang melihat Danang belum berangkat sekolah pun menghampirinya. Ibu ingin tahu alasan anaknya itu kenapa tidak sekolah.

“Kamu kok belum berangkat sekolah, Nak?” tanya Ibu.

“Aku tidak mau sekolah kalau belum memakai tas baru,” jawab Danang dengan wajah dilipat tiga. Ia kesal pada Ibunya.

Akhirnya Ibu pun mengerti apa yang dimaksudkan Danang. Saat itu Ibu ingin menjajakan kue ke warung-warung. Tetapi ketika melihat Danang tidak ingin sekolah Ibu menundanya. Lalu Ibu membisikkan sesuatu di telinga Danang.

“Benar, ya, Bu? Ibu janji ya sama Danang!”

“Iya, Sayang! Tapi sekarang kamu berangkat sekolah dulu ya. Ini kan hari pertama kamu masuk sekolah. Tentu kamu rindu ingin bertemu kembali dengan teman-teman kamu lagikan,” ucap Ibu sambil menghibur Danang.

Danang pun tersenyum. Akhirnya ia jadi semangat untuk ke sekolah.
Tidak lama, Danang pun sampai di sekolah.

Tapi saat Danang masuk ke kelas barunya itu, di kelas V,  ia melihat Ihsan. Tapi saat ia melihat ke arah punggung Ihsan. Ternyata Ihsan masih memakai tas yang lama waktu masih duduk di kelas IV.

“Kamu kok masih pakai tas yang lama, San?” tanya Danang.

Danang heran melihat Ihsan masih memakai tas yang lama.

“Memang kenapa!” seru Ihsan. “Kamu saja masih pakai tas yang lama juga, kan?!”

Danang sejenak diam.

“Kalau aku besok mau dibelikan tas baru oleh Ibuku,” ucap Danang akhirnya memberitahukan Ihsan.

“Memangnya harus ya! Kalau naik kelas harus serba baru. Harusnya semangatnya yang baru, lebih giat untuk meraih prestasi. Kalau tas, sepatu, seragam, selama yang lama masih bisa dipakai, kenapa harus beli baru. Iya, kan?” Ihsan memberikan alasan.

Lagi-lagi Danang terdiam. Ternyata apa yang dikatakan Ihsan benar adanya.

Teng…Tengg…Tenggg….

Akhirnya tanda bel masuk sekolah pun tiba. Danang masih memikirkan ucapan Ihsan sampai pelajaran di kelas berlangsung. Ia masih melamun. Saat itu sedang pelajaran Bahasa Indonesia. Pelajaran Bu Mayang sekaligus wali kelasnya.

Hingga Bu Mayang menegur Danang saat pelajaran berlangsung di dalam kelas. Danang pun tidak menyadari saat itu jika dirinya diamati terus oleh Bu Mayang.

“Danang, kamu sakit?” tanya Bu Mayang.

“Ti-tidak, Bu! Sa-saya baik-baik saja,” jawab Danang terbata-bata.

“Ya, sudah sekarang buka buku paket Bahasa Indonesia kamu. Buka halaman 25. Lalu baca sampai habis jangan berisik. Setelah itu baru Ibu terangkan!” Bu Mayang mengakhiri ucapannya.

“Iya, Bu! Maafkan Danang,” lirih Danang.

Tidak lama kemudian bel pulang sekolah pun berbunyi.

Teng…Tengg…Tenggg….

Sepulang sekolah Danang pun langsung menemui Ibu yang sedang menyiapkan makan siang untuknya di dapur. Danang menghampiri Ibu sesegera mungkin. Ia ingin memberitahukan apa yang dikatakan Ibu tadi pagi kepadanya dibatalkan saja.

Ya, tentang Ibu akan membelikan Danang tas baru untuk sekolah. Danang sekarang tidak ingin lagi meminta dan dibelikan tas baru pada Ibu. Apalagi ia tahu Ibunya sangat susah mencari uang hasil dari menjajakan kue ke warung-warung.

“Bu, lebih baik dibatalkan saja apa yang Ibu bilang tadi pagi, ya? Ibu tidak usah membelikan tas baru untuk aku lagi. Kan tas lama yang aku pakai masih bisa digunakan lagi. Lebih baik uangnya Ibu pakai beli bahan kue lagi. Maafkan Danang ya Bu sudah membuat Ibu susah,” lirih Danang sambil memeluk Ibu.

Ibu yang mendengar ucapan Danang jadi terharu. Ibu tidak menyangka jika Danang begitu cepat berubahnya.

Hmm, Ibu jadi bangga pada kamu, Sayang! Memang benar apa yang kamu bilang tidak selamanya naik kelas semua harus serba baru. Tapi semangat masuk sekolah itu yang harus baru dan tentu lebih rajin lagi untuk berprestasi,” lanjut Ibu.

Danang pun jadi senang, Ibu sekarang tidak lagi memikirkan dirinya untuk membelikan tas baru untuknya. Ia kini semakin sayang pada Ibu hingga begitu erat memeluk Ibu. Walau badan Ibu masih bau asap dapur karena sedang menyiapkan Danang makan siang saat itu.[]