Kesabaran Ayah Dan Keshalihan Anak

 

Nabi Ibrahim sudah semakin tua, namun beliau belum dikaruniai putra. Beliau ingin memiliki putra yang akan melanjutkan dakwahnya. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah, “Ya Rabbku, anugerahkan kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang shalih.”

Kesabaran

Doa ini terus dipanjatkan Nabi Ibrahim. Setelah sekian lama menanti penuh kesabaran, akhirnya Allah mengabulkan doa beliau. Istri nabi Ibrahim yang bernama Hajar mengandung. Lalu, lahirlah seorang anak laki-laki yang tampan rupawan.

Anak lucu itu ia beri nama Ismail. Begitu gembirannya beliau dan ibu Hajar. Tak henti-hentinya mereka bersyukur kepada Allah. Si kecil Ismail menjadi penyejuk hati bagi ayah dan ibunya.

Lalu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim memindahkan Hajar dan bayi Ismail ke Makkah. Mereka bertiga segera memenuhi perintah Allah. Berhijrah dari Palestina menuju Makkah. Waktu itu, Makkah hanya lembah kering dikelilingi gunung. Sesampai di Makkah, Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail dan kembali ke Palestina.

Allah menjaga ibu Hajar dan bayi Ismail. Allah menganugerahkan sumur zam-zam saat keduanya kehabisan air minum.

Ismail tumbuh menjadi anak yang shalih dan taat kepada Allah. Ia juga menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Ibunya mendidiknya dengan baik dan penuh kasih sayang.

Perintah Menyembelih Anaknya

Beberapa tahun kemudian, Ibrahim mengunjungi Hajar dan Ismail di Makkah untuk melepas rindu. Saat itulah, Ibrahim bermimpi menyembelih putra tercintanya. Beliau meyakini bahwa itu adalah perintah dari Allah karena mimpi itu berulang beberapa kali. Maka segera beliau menemui putranya dan berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkan lah apa pendapatmu.”

Kemudian Ismail menjawab dengan jawaban yang luar biasa hebat, sehingga membuat ayahnya terkejut.

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Ibrahim dan Ismail begitu taat kepada Allah dan pasrah dengan ketetapan-Nya. Maka dengan hati yang berat Ibrahim membawa anaknya menuju tanah lapang. Tatkala keduanya telah berlepas diri dari dunia dan hanya mengharapkan ridho Allah, maka terjadilah sesuatu yang luar biasa hebat. Allah berfirman,

“Dan kami (Allah) panggil dia; Wahai Ibrahim! Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Tiba-tiba bergantilah tubuh Ismail yang telah terbaring dan siap disembelih itu dengan seekor sembelihan yang besar. Allah berfirman, “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Maha besar Allah atas kekuasaan-Nya. Maka bersyukurlah Ibrahim kepada Allah, begitu pula istrinya Hajar. Ia percaya ada hikmah atas perintah dari Allah. Ketaatan kepada Allah adalah mutlak dan tidak dapat dibantah meski harus mengorbankan nyawa putra yang sangat dicintainya sekalipun.

Baca juga : —

Allah memuji Nabi Ibrahim, “Kami (Allah) abadikan untuk Ibrahim itu pujian yang baik di kalangan orang-orang yang dating kemudian. Yaitu kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.”

Maka sejak saat itu disyariatkanlah penyembelihan hewan kurban untuk Allah pada saat lebaran haji. Disebut juga Iedul Adha atau hari raya kurban. Bagi orang beriman yang mampu diperintahkan untuk berkurban baik dengan kambing maupun lembu. Semata-mata demi mendekatkan diri kepada Allah.

Semoga kisah kesabaran Nabi Ibrahim dan kesholihan putranya Ismail dapat menjadikan pelajaran bagi kita. Wallahu a’lam.