Ketika Warung Ibu Pindah

kisah berhikmah

Jam dinding menunjukan setengah sembilan malam. Aisyah masih menekuni pelajaran Sains di ruang tamu. Sayup-sayup ia mendengar percakapan kedua orang tuanya.

“Besok warung kita pindah. Apa tempat baru akan seramai di warung kita dulu ya Pak? Padahal Aisyah sudah kelas 6, sebentar lagi. Nurul juga kuliahnya tak boleh berhenti,” kata ibu.

“Bu, rejeki Allah yang mengatur. Kita tinggal berusaha dan berdoa tentunya,” jawab ayah.

“Iya sih. Tapi…,” kata ibu.

“Sudah Bu. Istirahat. Biar Bapak yang menyiapkan apa-apa yang perlu di bawa ke warung baru besok,” jawab bapak, menenangkan ibu.

Demi mendengar percakapan bapak-ibu yang dikasihinya, konsentrasi Aisyah terpecah antara pelajaran Sains dan bagaimana caranya agar bisa membantu kedua orang tuanya.

Malam merambat. Aisyah belum bisa tidur. Dia mencari-cari ide agar bisa membantu kesulitan ibunya. “Ya Allah, tunjukan jalan agar hamba bisa membantu kesulitan Ibu dan Bapak,” doa Aisyah

Aisyah baru bisa tertidur pulas setelah mendapat ide cemerlang. Kirakira idenya apa ya?

Hari ini, Aisyah ingin bel pulang lekas berdentang. Semalam dia membuat brosur sederhana. “Telah dibuka Warung Sederhana Bu Salim.” Lengkap dengan alamat dan tawaran diskon.

Segera setelah bel pulang berdentang, Aisyah langsung menuju tempat foto kopi di depan sekolah untuk memperbanyak brosur. Lalu, dengan semangat, Aisyah menyebar brosur buatannya. Ada yang diberikan ke orang-orang, dan ditempel di tempat-tempat yang mudah dilihat. “Alhamdulillah,” ucap Aisyah, selesai dengan kerjanya.

“Bu, warungnya sekarang ramai?” Selidik Aisyah kepada ibu, suatu hari

“Alhamdulillah, kemarin ada yang bawa brosur beli 40 bungkus. Katanya besok juga mau ke warung lagi. Brosur buatanmu membawa berkah nduk,” kata ibu tulus.

Semakin hari, warung Ibu semakin ramai. Lebih ramai daripada di tempat sebelumnya. Lauk bikinan ibu pun sekarang lebih bervariasi.

Awalnya Aisyah hanya merasa sedikit sekali membantu ibu dan bapaknya saja. Tapi karena sering dipuji bapak, ibu dan orang lain bahwa warung laris karena brosur yang dibuat dan disebarnya, kini dirinya merasa orang yang paling berjasa besar terhadap kelarisan warung ibunya.

Kepada orang-orang yang ia kenal, teman-teman sekelas dan Kak Seruni, Aisyah berulang-ulang menceritakan bagaimana ia membuat brosur, menyebar brosur sederhana itu hingga kini warung ibu jadi warung yang laris manis. Singkatnya, Aisyah sekarang jadi anak yang selalu membanggakan dirinya di depan banyak orang

***

Pagi itu, karena sekolahnya pulang lebih cepat dari biasanya, Aisyah mampir ke warung ibunya. Dilihatnya, ibu sibuk melayani banyak pembeli. Aisyah tak melihat bapak.

“Assalamualaikum,” sapa Aisyah

“Walaikumsalam. Wah kebetulan anak kesayangan ibu main ke warung. Bantu ibu ya Nduk!”

“Siap, bos!” canda Aisyah

Aisyah pun membantu ibu. Membungkus nasi, juga membuatkan minum buat pembeli yang makan di warungnya.

Aisyah menyempatkan bertanya kepada ibunya, “Bu, bapak kemana, ya?”

“Bapakmu ke masjid sebelah,” jawab ibu.

“Masjid? Inikan baru jam 10 pagi Bu. Waktu dhuhur masih lama,” kata Aisyah.

“Bapakmu, kalau jam sembilan, saat warung belum begitu ramai selalu ke masjid, untuk salat dhuha,” ibu menjelaskan.

“Salat dhuha?” tanya Aisyah heran

“Iya nduk, kata Ustad Dairin, salat dhuha itu, salat sunah agar diberi kelancaran rizki yang halal oleh Allah Swt”

Deg. Aisyah merasa tersindir. Kemarin-kemarin merasa karena dirinyalah warung ibu sekarang laris manis. Ibu, bapak maafkan Aisyah ya, desisnya dalam hati.

 

BACA JUGA: MENCUCI PIRING