Khansa Bintu Amr, Ibunda Para Syuhada

Khansa Bintu Amr

Namanya aslinya adalah Tumadhir bintu Amr. Ia terlahir dari bani Sulaim di tengah-tengah masyarakat Arab jahiliyah. Lingkungan yang baik membuatnya tumbuh menjadi seorang wanita yang cerdas.

Ia adalah seorang wanita yang cerdas dan sangat rajin. Fasih dalam bertutur dan sangat rendah hati. Ia juga sangat terkenal dengan kemampuannya dalam bersyair.

Rasulullah memuji Khansa pada suatu ketika, “Penyair paling ulung adalah Khansa bintu Amr.”

Khansa bersama beberapa orang dari kaumnya datang menemui Rasulullah untuk bersyahadat di hadapan beliau. Ia mendatangi Rasulullah dengan sukarela tanpa ada paksaan. Sungguh benar-benar hidayah Allah telah merasuk di hatinya.

Islam telah merubah segalanya. Di masa jahiliyah ia sangat membenci Islam, namun kini dia sangat mencintai Islam. Dia korbankan segalanya untuk Islam. Dia turut ke medan perang membela kaum muslimin dan mengobarkan semangat mereka dengan syairnya.

Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz. Dia dikaruniai 4 orang anak, semuanya laki-laki. Mereka tumbuh di bawah bimbingan sang ayah yang shalih dan seorang ibu yang shalihah luar biasa.

Saat Perang Qadhisiyah

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab terjadilah perang Qadhisiyah. Khansa mengumpulkan putra-putranya untuk menyiapkan pemberangkatan perang. Mereka berselisih siapa yang akan menemani ibunda tercinta yang telah berusia senja. Mendengar itu raut wajah Khansa memerah. Dia menolak untuk ditemani, sebaliknya dia ingin semua putranya pergi ke medan laga untuk membela islam dan kaum muslimin.

Sungguh keputusan berat seorang ibu yang tidak akan melakukan hal seperti itu jika bukan karena cintanya kepada Allah lebih besar dari apapun. Ia berpesan kepada mereka:

“Jika besok kalian bangun dalam keadaan sehat, berjihadlah kalian dalam keadaan sehat, berjihadlah kalian dalam keadaan penuh keberanian dan dengan mengharap pertolongan Allah. Majulah dengan semangat juang yang tinggi dan masuklah dalam pertempuran lawanlah para pemimpin orang – orang kafir itu, insya Allah kalian akan masuk surga dengan penuh kemuliaan dan kehormatan.”

Pasukan telah diberangkatkan dan berdoalah Khansa untuk kemenangan kaum muslimin. Ia juga berdoa untuk keselamatan keempat anaknya atau mereka gugur sebagai syuhada.

Peperangan telah berlangsung, peperangan antara haq dan bathil. Kedua panji saling berkibar mempertahankan kehormatan dan kemuliaan. Pada akhirnya kaum muslimin memperoleh kemenangan segala puji bagi Allah.

Pasukan telah kembali dan dikabarkan kepada Khansa bahwa keempat putranya telah gugur di medang perang. Dengan air mata kegembiraan yang menetes ia berkata,

“Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku. Semoga Allah segera memanggilku dan berkenan mempertemukanku dengan mereka dalam naungan rahmat-Nya yang luas.”

 

BACA JUGA: Hakim Bin Hizam