Ucup yang Usil – Kisah Berhikmah

“Ucuuup….! Kenapa buku kakak diacak-acak lagi!”

kisah berhikmah

Nabila berteriak kesal. Buku yang sudah ditata rapi di rak kembali berantakan. Pelakuknya siapa lagi kalau bukan Ucup, adiknya yang masih berusia lima tahun. Mendengar teriakan kakaknya, si Ucup hanya tertawa saja.

“Maaf, kak Bila, tadi adek ingin baca majalah ini,” kata Ucup sambil menunjukkan majalah milik kakaknya.

“Iya, baca sih boleh, tapi jangan diacak-acak, dong,” jawab Nabila. Dengan hati masih kesal, ia membereskan buku-bukunya lagi.

Ucup adalah adik Nabila satu-satunya. Nama sebenarnya adalah Yusuf, tapi Nabila senang memanggilnya Ucup. Lucu katanya. Ucup baru berumur empat tahun dan baru masuk TK-A. Sedangkan Nabil sudah kelas empat SD.

Tapi, tingkah Ucup terkadang membuat Nabila kesal. Ucup sering usil dan jail. Ia kerap mengganggu kakaknya ketika belajar. Mengambil pensil atau penghapus, mencoret-coret buku milik kakanya. Padahal, ia sudah diberi buku dan pensil sendiri. Keusilan Ucup inilah yang sering membuat Nabila marah dan kesal.

Pernah suatu kali, ketika Nabila sedang mengerjakan PR. Tiba-tiba Ucup datang membawa segelas jus. Karena kurang hati-hati, kakinya tersandung buku di lantai. Jus pun tumpah mengenai buku Nabila.

Tapi, meskipun usil, Nabila sangat sayang pada adiknya. Sehari saja tidak bertemu, Nabila pasti kangen. Kangen tawanya, cerianya, dan juga kangen usilnya.

Seperti hari ini. Nabila kangen sekali dengan Ucup yang usil. Karena sudah tiga hari Ucup dirawat di rumah sakit. Badan Ucup demam tinggi. Kata bu dokter, Ucup terkena gejala tipes.

Setiap hari, sepulang sekolah, Nabila selalu mengunjungi Ucup di rumah sakit. Ia merasa kasihan melihat adiknya yang terbaring lemah. Di tangannya tertancap jarum infus. Nabila tak bisa membayangkan bagaimana rasanya diinfus. Dia sendiri belum pernah merasakannya. Sepertinya sangat sakit, pikir Nabila.

Baca juga : Kejujuran Ikhsan

Tapi, Alhamdulillah, hari ini Ucup berangsur membaik. Dia sudah bisa tertawa dan bercerita. Dia bercerita, dokternya baik-baik semua. Perawatnya juga baik. “Nggak ada yang galak, kayak Kakak,” katanya sambil tertawa.

“Eh, enak aja. Kakak itu nggak galak. Kamu aja yang usil,” kata Nabila, sedikit sewot.

“Tuh, kan, gitu aja marah,” ledek Ucup.

Nabila pun tersenyum. Dia tak marah diledek adiknya.

“Eh, Ucup sayang, maafin kakak ya, selama ini suka galak sama kamu,” kata Nabila, sambil memegang tangan Ucup.

“Kakak nggak galak, kok. Ucup memang suka usil, maafin Ucup juga, ya Kak!” kata Ucup.

Mereka pun tertawa bersama. Ayah dan ibu hanya melihat sambil tersenyum melihat kedua anaknya rukun.

“Oya, Kak, Ucup boleh kan belajar bersama kakak?” tanya Ucup.

“Boleh aja, asal kamu nggak berantakin buku kakak lagi,” kata Nabila.

“Iya deh, Ucup janji. Kalau ambil buku nggak berantakin lagi,” kata Ucup. “Ucup ingin belajar bareng kakak, biar jadi pintar seperti kakak.”

Nabila pun tersenyum. Dia memeluk adik tersayangnya. Ya, meskipun kadang usil, Ucup tetaplah adik kecil yang harus dia sayangi.

 

(Kak Adhe)