Kisah Sahabat Nabi dan Raja Najasyi

Kisah Sahabat Nabi dan Raja NajasyiKisah Sahabat Nabi dan Raja Najasyi – Kaum Musyrik Makkah tak henti-hentinya menyiksa kaum muslimin. Karena jumlah masih sedikit, kaum muslimin tak berani melawan. Akhirnya mereka memilih hijrah. Hijrah adalah pergi dari kampung halaman menuju tempat baru dan tinggal di sana. Hijrah pertama yang dilakukan adalah hijrah menuju Abbesinia (Ethiophia). Sebelumnya telah terdengar kabar bahwa Raja Abbesinia saat itu adalah raja yang baik hati. Raja Abbesinia beragama Kristen.

14 orang sahabat Nabi pun berangkat. Di Abbesinia mereka di sambut baik dan dilindungi oleh Raja Abbesinia. Mereka dibolehkan beribadah sesuai ajaran Islam. Setelah beberapa waktu, beberapa orang sahabat pulang ke Makkah. Mendengar kabar baik tentang Raja Abbesinia, para sahabat di Makkah tertarik ikut berhijrah. Berangkatlah 100 an orang sahabat dipimpin Ja’far bin Abdul Muthallib.

Sesampainya di Abbesinia, mereka memohon ijin kepada Raja untuk tinggal di sana. Raja mengijinkan dan para sahabat pun hidup tentram di Abbesinia. Namun, hal itu membuat orang musyrik geram. Mereka tidak suka para sahabat Nabi hidup tentram di Abbessinia. Kaum musyrik pun mengutus  Amru bin Ash dan Abdullah bin Rabiah.

Dua Utusan Quraisy Bertemu Raja Najasyi

Dua utusan Quraisy datang Abbesinia dan mendatangi para pendeta. Mereka memberi hadiah kepada para pendeta dan memohon dukungan agar dipertemukan dengan raja. Akhirnya, mereka pun berhasil bertemu dengan raja Najasyi. Amru bin Ash berkata,

“Hai Paduka! Di Negara tuan ada pelarian dari negeri kami. Mereka adalah orang-orang yang keluar dari agama nenek moyang mereka, masuk agama baru yang tidak kami ketahui asal-usulnya. Agama tersebut lain dari agama tuan. Agama tersebut memecah belah persatuan kita. Kkami diutus untuk minta kepada tua, agar membantu kami mengembalikan pelarian itu.”

Raja Najasyi tidak langsung percaya. Beliau pun memanggil kaum muslimin. Sang Raja bertanya, apakah benar agama Islam memecah belah kaumnya?

Jafar bin Abdulmuthallib sebagai pimpinan menajwab,

“Wahai Paduka Kaisar! Dulu waktu kami masih hidup pada zaman jahiliyah, kami adalah kaum penyembah berhala, gemar makanan haram, minum arak, berbuat dosa, menimbulkan kerusakan dan memutuskan hubungan keluarga. Bahkan kami menindas orang lemah. Itulah kebiasaan kami pada zaman jahiliyah. Kemudian Allah telah mengutus seorang Nabi yang telah kami kenal kejujurannya, amanahnya.beliau mengajak kami menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan lainnya. Tetapi kaum kami benci dan menyiksa kami. Terpaksa kami hijrah dari negeri ini agar agar kami mendapatkan perlindungan dari kejahatan mereka.”

Amru bin Ash berkata, “Wahai raja, sesungguhnya mereka menuduh Isa dengan perkataan yang tidak baik.”

Ja’far menjawab, “Nabi kami mengajarkan bahwa Isa adalah hamba Allah yang diutus oleh Allah. Isa adalah roh-Nya dan kalimat-Nya yang diciptakan lewat kandungan Maryam.”

Raja Najasyi berkata, “Demi Allah, apa yang dikatakan mereka adalah sama dengan apa yang kami yakini.”

Sang Raja pun menolak menyerahkan kaum muslimin kepada utusan kaum musyrik Makkah. Beliau berjanji akan melindngi mereka. Dua utusan kaum musyrik pun gagal. Mereka pulang dengan tangan hampa. Kaum muslimin pun melanjutkan hidup mereka di Abbesinia dengan tenang.

Itulah keteguhan iman para shabat Nabi. Mereka rela berhijrah ke tempat yang jauh demi menyelamatkan iman mereka. Mereka juga tidak takut berhadapan dengan raja dan menghadapi utusan kaum musyrik yang terkenal pintar. Dengan iman di hati, mereka menjadi kuat dan menang.