Kisah Thalut melawan Jalut

Kisah Thalut melawan Jalut

Bani Israil hidup damai bersama Nabi Musa alaihissalam. Mereka mengamalkan aturan Allah yang terlulis dalam kitab Taurat. Namun, setelah nabi Musa meninggal dunia, bani Israil kembali menjadi kaum yang tidak beriman. Kitab Taurat mereka lupakan. Perintah Allah mereka tinggalkan. Larangan Allah mereka kerjakan.

Lalu Allah menghukum mereka. Bani Israil dijajah oleh seorang raja yang zhalim dan kejam, Raja Jalut. Raja Jalut menindas Bani Israil, mengusir mereka dari negerinya. Lalu Allah mengutus seorang nabi dari kalangan mereka. Nabi ini tidak disebutkan namanya.
Bani Israil berharap hadirnya nabi Allah ini dapat memperbaiki kehidupan mereka. Bani Israil senang dipimpin para nabi, asalkan sesuai dengan kemauan mereka. Jika tidak sesuai keinginan, mereka pun menentang para nabi.

Suatu hari, para tokoh bani Israil menemui Sang Nabi. Mereka menginginkan seorang pemimpin yang mampu melawan pasukan Jalut.

“Angkatlah untuk kami seorang pemimpin supaya kami berperang bersamanya di jalan Allah,” kata mereka.

Nabi Allah mengingatkan Bani Israil akan kebiasaan buruk mereka, yaitu menentang para nabi.  Dia khawatir, bani Israil akan menolak jika benar-benar diperintahkan untuk berperang.

Sang Nabi berkata, “Mungkin sekali jika nanti kamu diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.”

Bani Irasil menjawab, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, setelah kami diusir dari kampung halaman dan dari anak-anak kami?”

Maka Allah mewahyukan kepada nabi-Nya bahwa sosok yang berhak menjadi raja adalah Thalut.

Sang Nabi berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.”

Bani Israil sangat terkejut. Thalut adalah orang yang miskin, tidak berharta dan tidak pula punya kedudukan tinggi. Bagaimana mungkin dia bisa memimpin bani Israil?

“Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” kata mereka

Sang Nabi mengingatkan Bani Israil tentang ketetapan Allah. Thalut adalah pilihan Allah. Sang Nabi mengatakan, bahwa Thalut memiliki ilmu yang luas dan tubuh yang kuat.

Sang Nabi berkata, “Sesungguhnya tanda ia (Thalut) akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh Malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.”

Tabut bermakna kotak yang berisi peninggalan Nabi Musa. Kotak ini melambangkan kejayaan bani Israil.

Bani Israil pun bersiap berperang dipimpin oleh Thalut. Bendera jihad dikibarkan. Pasukan berarat-arak menuju daerah kekuasaan Jalut.

Di tengah perjalanan, datanglah ujian dari Allah. Ketika pasukan menyeberangi sungai, Thalut berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.”

Setelah perjalanan jauh, mereka sangat kehausan. Maka ketika melihat air sungai yang jernih, banyak yang tidak tahan untuk meminum airnya hingga kenyang. Hanya sedikit saja pasukan yang mengikuti perintah Thalut untuk tidak meminum air sungai tersebut. Thalut pun meninggalkan pasukan yang tidak mengindahkan perintahnya.

Sesampainya di medan pertempuran, pasukan bani Israil dihadapkan dengan jumlah pasukan Jalut yang sangat banyak. Sebagian pasukan merasa takut. “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya,” kata mereka.

Namun, orang-orang yang beriman tetap yakin bisa mengalahkan Jalut atas pertolongan Allah. Mereka berdoa: “Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pijakan-pijakan kami dan tolonglah kami atas orang-orang kafir”.

Perang pun berlangsung sengit. Kendati kalah jumlah, Thalut dan pasukannya berhasil mengalahkan Jalut dan tentaranya. Jalut terbunuh terbunuh oleh seorang pemuda bernama Daud yang ketika itu ikut menjadi anggota pasukan Thalut.

Bani Israil pun kembali ke negerinya membawa kemenangan. Thalut pun menjadi pemimpin bagi bani Israil.