Mati Lampu

mati lampu

Ini pengalamanku saat aku masih kelas satu SD. Sore itu cuaca mendung. Suasana semakin gelap dengan datangnya malam. Adikku Maza sedang mengaji di mushalla yang jauh dari rumah. Ibu segera menjemput Maza karena hari semakin gelap.

Sambil membawa payung ibu berpesan kepadaku, “Mbak Maila, jaga adik kecil ya. Ibu mau jemput Maza. Kasihan hujan mau turun.”

“Tapi ibu jangan lama-lama, ya,” kataku memelas. Sebenarnya aku agak takut.

Ibukku pergi berjalan kaki. Karena saat itu ayah sedang pergi maka ibu tidak ada yang menemani. Aku sendirian di rumah menjaga adikku yang paling kecil.

Tiba-tiba, pless… lampunya mati. Adikku terkaget, lalu menangis. Hujan mulai turun dan semakin deras. Aku takut dan ikut menangis. Aku memeluk adikku. Lalu kami menuju jendela untuk menunggu ibu dan Maza. Semoga mereka segera pulang.

Akhirnya ibu dan Maza datang juga. Ibu menghampiri kami dan memeluk kami.

“Sudah-sudah, mbak Maila hebat kok sudah berani menjaga adik sendirian. Lain kali kalau mati lampu tidak usah takut. Kita berdoa saja kepada Allah agar Allah melindungi kita.”

Senang rasanya hatiku kami bisa berkumpul kembali. Itulah pengalamanku.

Maila Fitria Shofiana

Kls 3 SDI Al-Huda Sedayulawas d/a: AKSARA CELL

Jl. Raya Dandless no.34 Sedayulawas Brondong, L

amongan, Jatim – 62263

BACA JUGA: MAZA YANG MALANG