Meneladani orang yang lebih shalih

MeneladaniRamadhan boleh berlalu. Namun kebaikanmu tidaklah boleh ikut berlalu. Kebaikan harus terus dijalankan, dijaga agar terus mewarnai hari-harimu. Hari ini, kamu bukan lagi menjadi anak-anak biasa, bukan?

Kamu adalah anak hebat yang mencintai kebaikan. Anak hebat yang terbiasa menyenangi amal mulia. Anak hebat yang selalu bersegera melakukan beragam amal shalih. Karena anak yang suka berbuat baik, senang beramal shalih, bukanlah anak biasa.

Anak hebat. Anak yang luar biasa. Selalu menaikkan volume kebaikannya. Selalu meningkatkan amalannya. Selalu menggeliat meraih banyak pahala. Setiap hari, setiap waktu. Dan tidak akan pernah membandingkan dirinya, dengan anak-anak awam, yang tak jelas aktifitasnya.

Sungguh rugi, jika kamu selalu membanding-bandingkan diri dengan anak-anak yang malas beramal. Kamu akan merasa seolah amal kamu lebih bernilai. Tak ada manfaatnya. Tidak juga meninggikan derajatmu di hadapan mereka yang malas itu. Malah, bisa-bisa kamu terjenak dalam perasaan sombong dan takabur.

Sombong bukanlah sikap yang baik. Pastikan kamu menjauhinya. Kamu tidak boleh merasa diri lebih baik dari orang lain. Merasa diri lebih hebat, lebih banyak amalnya, lebih shalih, bahkan merasa lebih banyak pahala. Jangan sekali-kali merasa seperti itu.

Jika kamu selalu membandingkan dengan anak-anak yang malas, maka pasti kamu tak akan bertambah baik. Kamu tak ingin lagi meningkatkan amal-amalmu, karena merasa sudah lebih baik.

Misalnya, kamu sudah rajin shalat, sehingga kamu merasa lebih baik dari anak yang tidak shalat. Padahal, shalat kamu sering tidak tepat waktu, jarang berjamaah di masjid, dan belum bisa khusyuk. Namun, kamu merasa bangga dan merasa diri lebih baik dari anak yang tidak shalat.

Coontoh lainnya, ada seorang anak yang suka berteriak, berontak, menolak saat dipanggil ibunya. Sedangkan, kamu tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu. Lalu, kamu merasa lebih baik darinya. Kamu merasa sudah berbakti kepada orang tuamu. Padahal, kamu seringkali membuat orang tuamu kesal. Sering mengotori lantai yang baru selesai disapu ibu, menumpuk pakaian kotor di kamar, menaruh tak sekolah sembarangan, dan perbuatan lain yang merepotkan ayah maupun ibumu.

Karenanya jangan lagi kamu bandingkan dengan anak malas atau durhaka jika kebaikanmu ingin meningkat. Nah, kalau mau, mari bandingkan diri kamu dengan anak yang lebih shalih. Lebih alim dari kamu. Lebih rajin dari kamu. Lebih dermawan dari kamu. Lebih perhatian kepada orang lain dibanding kamu. Mari selalu melihat yang lebih baik darimu, agar kamu terus tersemangati menjadi seperti dirinya. Ya diri anak yang baik tadi. Menjadi anak yang shalih.

Iri terhadap kelebihan orang lain, telah dilarang dalam Islam. Karena sifat ini mengandung prasangka buruk kepada Allah dan tidak ridha dengan pembagian yang Allah berikan kepada makhluk-Nya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengecualikan beberapa orang yang boleh dan pantas kamu iri karena kelebihan yang mereka miliki. Siapakah mereka?

Sabda sang Rasul yang mulia, Tidak boleh iri kecuali kepada dua orang, yaitu ; 1. Orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan. 2. Orang yang Allah beri karunia ilmu (alQuran dan asSunnah), kemudian ia menunaikan dan mengajarkannya.”

Kuatkan rasa iri yang dibolehkan itu, agar kamu berjibaku meneladaninya. Berusaha menduplikasikannya. Bergiat mencoba meniru mengikutinya. Bahwa di balik semua ini ada pahala besar yang dijanjikan. Ada karunia kebarakahan menyertai kesehariannya. Yang pasti, janganlah iri kepada selain keduanya.