Mengikuti Sunah Nabi

Dalam beribadah, Rasulullah telah mengajarkan cara dan menentukan waktunya. Kewajiban kita adalah mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah.

Rukun iman yang kedua adalah beriman kepada Nabi-nabi Allah. Nabi Allah jumlahnya sangat banyak. Beberapa nabi disebutkan namanya di dalam Al-Qur`an. Mereka memiliki tugas yang sama, yaitu membimbing manusia untuk beriman kepada Allah, menaati perintah-perintah-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Rasulullah Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus oleh Allah untuk umat manusia. Beliau diutus untuk menyempurnakan ajaran-ajaran nabi-nabi terdahulu. Ajaran yang dibawa beliau ini telah sempurna, dan disebut Islam. Islam berlaku hingga akhir jaman.

Beriman kepada Rasulullah adalah meyakini semua yang diucapkan Rasulullah sebagai kebenaran. Juga meyakini bahwa Rasulullah telah menyampaiakan ajaran islam dengan sempurna.

Rasulullah menyampaikan ajaran Islam dengan cara bertahap, sedikit demi sedikit. Sebelum beliau wafat, turunlah ayat terakhir dari Al-Qur`an. Ayat itu adalah ayat ketiga surat Al-Maidah. Isinya menyatakan bahwa Islam telah sempurna.

Ajaran Islam telah sempurna. Rasulullah telah menyampaikan semuanya. Tidak ada ajaran islam yang tercecer atau lupa belum disampaikan. Rasulullah telah mengajarkan berbagai macam ibadah, akhlak, cara bergaul degan orang tua dan masyarakat dan cara hidup seorang muslim.

Dalam beribadah, Rasulullah telah mengajarkan cara dan menentukan waktunya. Kewajiban kita adalah mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Kita dilarang menambah-nambahi ajaran Islam, ataupun menguranginya sesuka hati. Dalam beribadah, kita melakukan seperti yang Rasulullah ajarkan.

Misalnya, Rasulullah mengajarkan bahwa shalat maghrib itu tiga rakaat. Kita tidak boleh melakukan shalat maghrib lima rakaat meskipun kita bisa melakukannya. Atau melakukan shalat maghrib hanya satu rakaat. Perbuatan ini dilarang karena tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam sabdanya, Rasulullah menyatakan,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Siapa saja yang membuat perkara baru yang tidak ada tuntunanya dalam agama kami, maka amalannya tertolak.” (HR. Al-Bukhari)

Artinya kita hendaknya hanya beribadah sesuai apa yang dicontohkan Rasulullah. Lantas darimana kita bisa mengetahui contoh-contoh Rasulullah dalam beribadah? Kita bisa membacanya dalam hadits-hadits shahih. Hadits shahih adalah riwayat mengenai ucapan atau perbuatan Rasulullah yang dapat dipercaya.

Ada banyak kitab-kitab hadits shahih yang dapat kita baca misalnya kitab shahih bukhari dan shahih muslim. Dalam kitab-kitab ini kita dapat menemukan berbagai petunjuk Rasulullah dalam menjalankan ibadah.

Para sahabat Nabi adalah teladan yang baik dalam beribadah sesuai sunah Rasulullah. Mereka sangat mematuhi petunjuk Rasulullah dalam beribadah. Para sahabat Nabi tidak berani menambah-nambah ajaran Rasulullah atau menguranginya. Bahkan mereka akan marah jika ada orang yang berani mengamalkan ibadah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah.

Jadi, beribadah hanya sesuai tuntunan Rasulullah juga merupakan bagian dari iman. Bagian dari keyakinan bahwa hanya ajaran Rasulullah-lah yang benar. Orang yang menambah atau mengurangi ajaran Rasulullah berarti merasa lebih benar daripada Rasulullah. Padahal Rasulullah adalah manusia pembawa kebenaran yang dibimbing langsung oleh Allah. Tidak ada yang lebih benar dari ajaran yang beliau sampaikan.

Oleh karenanya, sebagai anak Islam yang shalih, kita harus meneladani Rasulullah dan para shahabat. Mereka adalah contoh sempurna dalam melaksanakan ajaran Islam yang sempurna.