Menjadi Pemalu Itu Baik

menjadi pemalu itu baik

Kamu pernah merasa malu? Mungkin, malu saat disuruh maju ke depan kelas untuk membacakan puisi. Atau, malu jika bertemu dengan orang yang belum kamu kenal.

Nah, itu adalah sebagian dari rasa malu. Ada rasa malu yang sangat mulia. Rasa malu yang sangat terpuji. Malu yang menjadi tanda keimanan seseorang, yaitu malu kepada Allah.

Siang hari bulan Ramadhan ada seorang anak yang dengan seenaknya makan dan minum di siang hari. Padahal dia sudah cukup besar, dan dia itu muslim. Mengapa dia tidak berpuasa dan tidak malu kepada anak lain yang berpuasa? Mungkin saja dia belum kuat berpuasa.

Mungkin juga dia sakit. Tapi, seharusnya dia makan dan minum di siang hari, malu pada anak-anak lain. Malu juga pada Allah.

Eh, kok malu kepada Allah, apa maksudnya?

Malu kepada Allah maksudnya malu untuk berbuat dosa. Malu untuk melanggar perintah-perintah Allah. Malu jika tidak taat kepada perintahperintah Allah.

Rasa malu seperti ini adalah sebagian dari iman.

Rasulullah shallallahu wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sifat malu itu bagian dari keimanan.” (HR. Bukhari)

Anak yang shalih pasti punya rasa malu. Malu jika tidak pernah bersyukur. Padahal Allah telah memberikan nikmat yang tak terhingga. Setiap nafas kita, setiap gerakan tubuh kita, adalah nikmat dari Allah. Karena itu, ucapkan ‘alhamdulillah’ setiap saat, setiap waktu.

BACA JUGA: BANYAK MEMBACA LUAS ILMUNYA

Anak yang shalih akan malu jika tidak shalat tepat waktu. Anak laki-laki akan segera melangkah ke masjid saat mendengar adzan. Shalat berjamaah di masjid berpahala lebih banyak. Anak perempuan pun boleh ke masjid. Tapi, lebih baik shalat di rumah dan tetap shalat di awal waktu.

Anak shalih malu membuka aurat. Anak perempuan berjilbab jika keluar rumah. Anak lakilaki tidak memakai celana pendek di atas lutut.

Anak yang shalih akan berpuasa di bulan Ramadhan. Karena itu, dia akan malu jika makan dan minum di siang hari pada bulan Ramadhan. Meskipun tidak ada yang melihat, tapi dia tidak akan makan-minum, karena dia yakin Allah melihatnya.

Anak yang shalih malu untuk melakukan keburukan. Anak shalih malu membuang sampah sembarangan. Anak shalih malu membicarakan keburukan temantemannya.

Rasa malu seperti itulah yang akan membawa kebaikan. Seperti sabda dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Sifat malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari).

Tapi, anak shalih tidak boleh malu menunjukkan kebaikan. Anak shalih tidak malu menunjukkan keislamannya. Melangkah ke masjid, berpakaian muslim. Berpuasa. Mengaji. Bersedekah.

Anak shalih juga tidak malu mengajak teman-temannya berbuat baik. Tidak juga takut menegur temannya yang berbuat tidak baik.

Yuk, kita amalkan. Semoga kita menjadi anak-anak yang dianugerahi rasa malu dan mendapat kebaikan dari rasa malu tersebut. Barakallahu fikum!