Miss Cleaning Service – Kisah Berhikmah

Miss Cleaning Service - Kisah Berhikmah

 “Duh siapa sih yang buang kulit kacang begini! Berserakan lagi di lantai,” sungut Amanda setiba di rumah sepulang sekolah.

Saat itu Amanda melihat banyak kulit kacang berserakan di teras depan rumah. Ia yang melihat keadaan teras yang kotor dan tidak sedap dipandang pun berlalu pergi ke halaman belakang rumah. Tidak lupa ia menaruh tas lebih dulu di kursi depan teras.

Diambilah peki dan sapu. Kemudian Amanda kembali menuju teras depan rumah yang penuh berserakan kulit kacang itu. Disapunya kulit kacang itu hingga bersih. Setelah menyapu Amanda membuangnya ke tempat sampah organik. Kerena menurutnya kulit kacang itu adalah sampah yang mudah terurai. Sampah yang mudah hancur.

Mengapa Amanda memilih-milih saat membuang ke tempat sampah? Karena ia tahu kalau sampah kulit kacang itu bisa dijadikan pupuk kompos.

Sebab Ayah sudah membuatkan tempat sampah di perkarangan rumah sesuai jenis sampah. Itu pun atas permintaan Amanda. Itu ia lakukan agar seperti sekolahnya. Selalu menyediakan tempat sampah sesuai jenisnya. Lagi pula Ayah juga sudah memberi tanda cat yang berbeda. Cat yang berwarna Hijau untuk sampah organik. Cat yang berwarna Biru untuk sampah non organik.

Apalagi di sekolah Amanda pernah diajarkan bagaimana cara memilih sampah yang bisa didaur ulang dan tidak. Jadi ia tidak sembarangan membuang sampah tanpa sesuai jenisnya. Halnya sampah kulit kacang itu.

Siang itu, sepulang sekolah Amanda seharusnya sudah makan siang. Tetapi  ketika ia pulang ternyata disambut dengan pemandangan yang tidak sedap di depan teras rumahnya. Banyak kulit kacang yang berserakan. Akhirnya ia mengerjakan yang lebih dulu dikerjakan. Tak lain membuang sampah kulit kacang itu tanpa diperintah siapapun. Apalagi ia tidak suka ada sampah berserakan di depan matanya.

Amanda selalu membersihkannya. Selalu.

Seperti tadi pagi di dalam kelas ketika Amanda baru masuk. Ia melihat kelasnya itu sangat kotor. Banyak sekali sampah yang berserakan. Ada bekas bungkus makanan, bungkus permen, kapal-kapalan dari kertas, serta sisa bekal teman-temannya yang berserakan di lantai. Amanda bersedia membersihkannya. Padahal bukan dia yang jadi petugas piketnya.

“Duh, rajin banget kamu, Manda. Kan bukan tugas kamu yang piket!” ucap Gigo ketua kelas saat baru tiba.

“Nggak apa-apa, Go. Bagiku sama saja. Lagi pula inikan kelas kita juga,” jawab Amanda sambil menyapu kelas.

“Ya, tapi kan ini tugasnya Sisil dan teman-temannya. Nanti mereka malah makin manja kalau kamu lakukan seperti ini. Selalu membantunya ikut piket,” jawab Gigo menjelaskan.

“Nggak apa-apa, Go. Lagi pula nggak setiap hari kok.”

“Ya, sudah! Lagi pula itu sudah datang orangnya. Biarkan saja Sisil dan teman-temannya yang membersihkannya.”

Amanda masih tetap membersihkan kelas. Padahal Gigo sudah memberitahukannya. Apalagi Sisil dan temannya yang mendapatkan tugas piket sudah datang.

“Terima kasih ya, Manda. Sudah membantu aku. Maaf aku tadi bantu-bantu Ibuku berdagang dulu, jadi agak telat datang,” ucap Sisil ketika menghampiri Amanda yang sedang menyapu.

“Nggak apa-apa kok, Sil! Lagi pula inikan kelas kita juga. Oya, nanti kalau sampahnya sudah terkumpul. Jangan lupa buang sampahnya dipilih-pilih sesuai jenisnya ya, Sil. Aku mau ke kamar mandi dulu. Kamu lanjutkan ya.”

“Iya, Manda! Terima kasih sekali lagi.”

Begitulah Amanda ketika melihat kelasnya kotor pasti ia selalu membersihkannya dulu. Walaupun ia bukan bagian tugas piket. Selalu begitu. Jadi wajar kalau anak-anak di kelasnya selalu memanggilnya Miss Cleaning Servis. Tetapi ia tidak marah.

Begitu juga dengan Bu Nila, wali kelasnya pun memanggil Amanda seperti itu pula, Miss Cleaning  Servis. Lagi-lagi Amanda tidak bersungut dan marah ia malah senang. Sehingga hal itu ia terapkan di rumahnya.

Sehingga apa yang Amanda lakukan, membuang sampah sesuai jenisnya. Memilih mana sampah organik dan non organik ia pun mempraktekkannya. Tanpa ia sadari sampah yang dikumpulkannya itu  sudah menjadi pupuk kompos.

Lalu pupuk itu Amanda gunakan untuk memupuk pohon belimbing, pohon jambu air, pohon mangga, pohon cincau dan pohon cermai yang sedang berbunga dan berbuah di perkarangan rumahnya. Karena ia ingin merasakan hasil dari pupuk kompos ala buatannya sendiri.

Begitulah Amanda tanpa bersih-bersih bukan Amanda namanya. Amanda, Si Miss Cleaning Servis.

Oleh : Zubeir el-Awwabi