Nabi Muhammad yang Sederhana dan Rendah Hati

kisahnabiSuatu hari, Umar bin Khattab menemui Nabi Muhammad. Umar melihat sang Nabi yang mulia itu baru saja bangun tidur. Umar bin Khattab melihat ada bekas tikar yang menempel di pipi sang Nabi. Umar pun menangis.

Melihat sahabatnya menangis, Rasulullah  pung bertanya, “Mengapa engkau menangis, wahai Umar?”

Umar menjawab, “Bagaimana saya tidak menangis. Kisra dan Kaisar duduk di atas singgasana bertatakan emas. Sementara engkau tidur beralaskan tikar, hingga tikar ini menimbulkan bekas di tubuhmu, wahai Rasulullah. Padahal engkau adalah kekasih Allah.”

Rasulullah tersenyum. Beliau memahami kesedihan sahabatnya itu. Beliau tahu, Umar sangat peduli kepadanya. Beliau lalu bersabda, “Mereka adalah kaum yang kesenangannya telah disegerakan sekarang, dan tak lama akan sirna. Tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia sementara kita memiliki akhirat?”

Lalu, Rasulullah bersabda lagi, “Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang bepergian di bawah terik panas. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya.”

Umar bin Khattab sangat mencintai Rasulullah. Umar tidak ingin sang nabi hidup dalam kesusahan. Karena itulah, Umar sangat sedih melihat nabi yang dicintainya itu tidur hanya beralaskan tikar yang keras.

Umar membandingkan keadaan Nabi Muhammad dengan Kisra dan Kaisar. Kisra adalah raja Persia, dan Kaisar adalah penguasa Romawi. Persia dan Romawi adalah dua kerajaan besar pada masa itu.

Kerajaan Persia sangat luas. Pasukannya pun sangat kuat. Sehingga, Kisra merasa dirinya sangat berkuasa. Dia tinggal di istana yang sangat megah. Didampingi pengawal dan para tukang sihir. Kisra bukanlah orang yang beriman kepada Allah. Dia dan rakyat Persia menyembah api.

Kaisar Romawi juga memiliki kekuasaan yang sangat besar. Wilayahnya luas. Tentaranya kuat. Istananya pun megah. Tapi, dia tidak beriman kepada Allah.

Kisra dan Kaisar tidak disukai oleh rakyatnya. Rakyat Persia takut kepada Kisra, sehingga mereka menurut apa saja kemauannya. Rakyat Romawi takut kepada Kaisar, sehingga mereka tidak berani membantah perintahnya. Rakyat Persia dan Romawi takut bertemu dengan rajanya.

Sedangkan Rasulullah adalah manusia yang berakhlak sempurna, akhlak yang paling mulia. Beliau sangat mencintai dan dicintai oleh kaumnya. Beliau adalah pemimpin bagi kaum muslimin. Beliau juga seorang nabi dan rasul utusan Allah. Kedudukannya lebih tinggi daripada Kisra dan Kaisar.

Tapi, beliau sangat sederhana. Beliau tidak tinggal di istana yang megah. Tempat tinggal beliau menempel di sisi masjid Nabawi. Beliau tidak duduk di singasana yang tinggi. Beliau duduk sejajar bersama kaum muslimin. Beliau berbagi makanan dan minuman bersama para sahabatnya.

Rasulullah juga sangat baik kepada anak-anak. Pernah suatu hari, Rasulullah sedang berjalan di Madinah. Tiba-tiba ada seorang anak kecil menggapai tangan beliau dan mengajak beliau berjalan. Rasulullah tidak melepaskan tangannya, namun mengikuti ke mana arah anak kecil itu melangkah. Rasulullah juga pernah menghibur seorang anak yang sedih karena burung kesayangannya mati.

Itulah akhlak Rasulullah yang mulia. Rendah hati dan tidak sombong. Akhlak yang tidak dimiliki oleh para penguasa kafir, seperti Kisra dan Kaisar, yang sombong dan tinggi hati.