Paman yang Enggan Beriman

kisah abu thalib

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memiliki beberapa orang paman. Salah satu pamannya adalah Abu Thalib. Dialah paman yang paling dekat dengan Nabi Muhammad. Abu Thalib yang mengasuh beliau sejak masih berumur 8 tahun

Ketika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mulai mendakwahkan Islam, Abu Thalib tidak ikut menentang. Padahal, Abu Thalib tahu bahwa ajaran yang dibawah Nabi Muhammad akan bertentangan dengan keyakinan orang-orang Makkah. Namun, Abu Thalib tetap menyayangi beliau.

Kisah Abu Thalib yang Membela Nabi

Abu Thalib selalu melindungi Nabi Muhammad dari ancaman orang-orang Quraisy yang ingin mencelakai beliau. Siapa yang hendak mengganggu Nabi Muhammad pasti akan berhadapan dulu dengan Abu Thalib.

Nabi Muhammad pun sangat mencintai dan menyayangi sang paman. Karenanya, Nabi Muhammad senantiasa

mengajak Abu Thalib untuk memeluk Islam. Beliau ingin agar sang paman mendapatkan hidayah iman agar selamat di akhirat dan bisa bersamasama di surga.

Tapi, Abu Thalib enggan memeluk Islam. Abu Thalib tidak ingin meninggalkan agama nenek moyangnya. Abu Thalib tidak mau kehilangan kehormatannya di hadapan orang-orang Quraisy.

Hingga menjelang wafatnya, Rasulullah tetap mengajak Abu Thalib untuk memeluk Islam. Ketika itu, Rasulullah berada di samping Abu Thalib yang sedang berbaring sakit. Di dekatnya, ada pula Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, tokoh musyrikin Quraisy yang sangat membenci Rasulullah. Setiap kali Rasulullah mengajak Abu Thalib untuk bersyahadat, saat itu pula Abu Jahal berusaha mencegahnya.

Rasulullah berkata, “Wahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallaah. Dengan kalimat ini, akan aku bela engkau nanti di sisi Allah.”

Abu Jahal berkata, “Apakah engkau membenci agamanya Abdul Muthalib,?”

Rasulullah terus membujuk sang paman. Namun kedua orang musyrik itu juga terus menimpalinya.

Akhirnya Abu Thalib berkata, “Aku berada di atas agamanya Abdul Muthalib.” Ternyata, Abu Thalib memilih berada di atas kemusyrikan dan menolak ajakan Rasulullah.

Saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Demi Allah, akan kumohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang.”

Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

“Tidak patut bagi seorang nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan kepada orangorang musyrik.” (QS. At-Taubah: 113).

Rasulullah sangat menyayangi sang paman. Namun, Allah melarang seorang nabi dan orang-orang beriman untuk mendoakan orang-orang musyrik. Karenanya, Rasulullah tidak mendoakan Abu Thalib yang meninggal dunia dalam keadaan musyrik.