Penyesalan si Pengemis Buta

Pengemis ButaDi zaman Rasulullah hiduplah seorang pengemis buta. Usianya sudah tua. Tubuhnya kurus dan lemah. Dia hidup di sudut pasar Madinah, memohon sedekah dari orang-orang yang datang ke pasar.

Pengemis itu adalah seorang yahudi. Dia  sangat membenci Islam dan Nabi Muhammad. Matanya yang buta tak menghalanginya untuk melihat keburukan Rasulullah. Kepaa setiap orang, ia selalu berkata, “Muhammad adalah pendusta. Muhammad adalah penyihir!”

Setiap hari, ada seorang laki-laki berhati lembut yang selalu mendatanginya. Dia menyuapi si kakek dengan lembut dan sabar. Saat itulah, si kakek merasa senang dan gembira.

“Maaf kek Saya agak terlambat,” kata laki-laki itu, suatu hari.

“Oh, tidak apa-apa, Nak. Aku sudah senang kamu datang. Kamu selalu memberiku makan ketika orang lain tidak peduli,” kata kakek pengemis itu girang.

Kemudian dia pun menyuapi si Kakek dengan lembut dan hati-hati.

“Kakek sehat kan?” tanyanya.

“Sehat, Nak. Lihat nih kakek makanya lahap,” kata Kakek bersemangat. “Oh iya, Kakek ingatkan lagi, jangan sekali-kali kamu dekati orang yang bernama Muhammad. Dia itu pembohong, Nak, dia adalah seorang penyihir! Pokoknya kamu harus hati-hati!” Kata si kakek dengan mulut penuh makanan.

“Iya, Kek!” kata orang itu, sambil terus menyuapi si Kakek.

Setelah makanan si Kakek telah habis, orang tadi berpamitan lalu pulang. Kakek sangat menyayanginya. Orang itu pun sangat menyayangi si Kakek.

Meninggalnya Sang Penyuap

Suatu hari, orang itu meninggal dunia, innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Tidak ada lagi orang yang memberi makan lagi si Kakek. Tapi, kakek terus menanti kedatangan orang itu dengan hati sedih dan penuh harap. Dia belum tahu bahwa laki-laki baik hati itu telah tiada.

Hingga datanglah seorang laki-laki hendak memberinya makan. Seperti biasanya si Kakek mengingatkan supaya pemuda itu menjauhi Muhammad karena dia adalah seorang pembohong dan penyihir. Si Kakek mengira pemuda itu adalah seorang yang biasanya. Sampai akhirnya..

“Hei, siapa kamu?” kata si Kakek.

“Saya orang yang biasa menyuapimu, Kek,” kata laki-laki itu.

“Bohong! Kau bukanlah orang yang biasanya!” Kata si Kakek sedikit berteriak.

Laki-laki itu terdiam sejenak, lalu bertanya, “Dari mana kakek tau saya bukan orang yang biasanya?”

“Dia selalu menyuapiku dengan sangat lembut dan hati-hati, sedangkan kamu tidak seperti itu. Kamu bukan orang itu!” kata si Kakek marah.

Tiba-tiba, laki-laki itu menangis. Si kakek yang mendengar tangisan itu sangat keheranan.

“Apa yang membuatmu menangis?”kata si Kakek.

“Ketahuilah Kek, orang yang dulu selalu menyuapi engkau adalah Muhammad, yang engkau benci dan engkau caci. Saya adalah Abu Bakar, sahabat beliau. Saya datang kemari untuk mencontoh apa yang beliau lakukan sehari-hari,” kata laki-laki tadi, yang ternyata adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Mendengar kabar itu, si kakek terkejut bukan main.

“Benarkah yang kau katakan itu?” kata kakek

“Benar.” Kata Abu bakar.

“Padahal aku selalu mencela namanya, bahkan di depan telinganya. Namun ia hanya tersenyum mendengarnya.” Kata si Kakek lagi.

Seketika itu si kakek menangis dengan keras. Tangisan yang sangat menyayat hati. Dirinya sangat malu. Kini Muhammad telah wafat, ia hanya bisa menyesali apa yang telah ia perbuat.  Sambil menangis, si kakek lalu menyatakan diri kepada Abu Bakar untuk masuk Islam.