Pesantren Impian – Kisah Berhikmah

pesantren impian

Pertengahan bulan Rabiul Awal tahun 1436 H. Pagi ini langit cerah sekali. Abah dan Ummiku menghadiri acara penerimaan raport di sekolahku.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, segala puji bagi-Mu ya Allah. Berkat karunia, rahmat, dan petunjuk dari Mu, aku mendapat juara satu di kelas IV. Pelukan dan ciuman  Abah serta Ummi menambah rasa haru perasaanku. Jazakumullah khairan katsiran, wahai Abah dan Ummi…!

Keesokan harinya, ketika aku sedang asyik bermain, melepas penat dan lelah setelah selama dua pekan bergelut dengan soal-soal ujian semester, tiba-tiba Abah memanggilku. Abah menyampaikan kabar yang sama sekali tak kuhendaki. Aku diharuskan mengikuti pesantren liburan di salah satu ma’had putri di kotaku. Yah…! Hilang sudah bayangan indah tentang liburanku. Liburan yang menyenangkan, bermain seharian bersama adikku di rumah.

Tidak mungkin aku menolak perintah Abah. Aku tak ingin orang tuaku kecewa. Tapi, masuk pesantren?! Terbayang olehku aturan yang ketat dan suasanan yang tidak menyenangkan.

Dua hari kemudian, aku harus benar-benar pergi dari rumah. Dengan diantar Abah dan Umi, aku berangkat menuju pesantren. Rasa berat masih menggelayut di hatiku.

Saat tiba di pesantren, aku langsung disambut ukhti-ukhti dan para ustadzah pondok. Mereka baik-baik dan sangat ramah. Membuatku perasaanku sedikit lega.

Untuk awalan, semua santri baru diuji kelancaran membaca Al-Qur`annya. Lalu dikelompokkan berdasarkan kelancaraannya itu. Alhamdulillah, aku masuk kelompok A, yaitu kelompok  yang paling lancar dan benar bacaan Al-Qur`annya. Karena telah banyak belajar tentang Al-Qur`an bersama ustadz-ustadzah di sekolahku, Tarbiyah At-Tauhid, sehingga bacaanku tak kalah dengan anak-anak dari sekolah lain.

Ternyata, hari demi hari bisa aku lewati di pesantren ini dengan menyenangkan. Banyak sekali pembinaan dan pembiasaan dalam menjaga ruhiyah, seperti shalat malam, shalat dhuha, shaum, shadaqah, menjenguk orang sakit, dan kegiatan lainnya. Benar-benar seperti pesantren impianku. Aku selalu teringat dengan apa yang disampaikan oleh salah satu ustadzah di pesantren itu, bahwa jiwa kita ini kalau tidak kita paksa untuk menyukai kebaikan, makan akan menyukai keburukan.

Upaya pembinaan santri di pondok pesantren itu bukan hanya di kelas, tapi ada juga perlombaan. Salah satunya adalah lomba menghafal AL-Qur`an. Aku coba mendaftar lomba tersebut. Mulailah aku menghafal surat yang ditetapkan panitia. Agak minder juga sih. Tapi kutanamkan keyakinan pada diriku bahwa aku bisa jadi juara. Kalaupun tidak bisa juara, kujadikan itu sebagai pelajaran yang sangat berharga.

Setelah lomba usai, tibalah saat pengumuman juara. Saat itu, Ummi hadir di acara tersebut. Aku kaget bercampur tidak percaya, saat mendengar juri mengumumkan, “Juara I lomba Tahfizhul Qur`an kategori surat-surat pilihan adalah…Alimah binti Abdul Aziz dari Sekolah Tarbiyah At-Tauhid!”

Subhanallah walhamdulillah…! Ummi langsung sujud syukur dan kemudian memeluku. Begitu besar karunia yang Engkau berikan kepadaku ya Allah. Terima kasih Abah, Ummi, dan ustadz-ustadzahku.

Yang tidak kalah menyenangkan dari pergantian pagi, siang, petang, dan malam yang kulalui di pesantren itu adalah persahabantku dengan teman-teman santri. Persahabatan dalam keimanan, kebersamaan, dan pertemanan di jalan Allah yang menentramkan hari. Duhai indahnya!

Benar-benar pertemuan yang sangat mengesankan dan penuh kegembiraan. Bersahabat dengan orang-orang yang mendekatkan kita kepada ridha-Nya.

Tak terasa sudah sepuluh hari aku tinggak di pesantren kilat liburan. Rasa kangen pada keluargaku mulai muncul. Tibalah saat meninggalkan pesantren. Berpisah dengan sahabat-sahabat baruku.

Selamat tinggal pesantren impianku.

Semoga segala kebaikan yang aku lakukan selama di pesantren liburan menjadi bekal menuju jannah-Nya. Aamiin!

Oleh: Alimah binti Abdul Aziz