Puasa Pertama Fahri

awal puasa

Bulan Ramadhon telah tiba. Kaum muslimin bergembira menyambutnya. Bersiap menunaikan ibadah puasa di siang hari, shalat tarawih di malam hari, dan memperbanyak membaca Al-Qur`an.

Fahri juga merasa senang. Anak laki-laki kelas satu SD itu ikut bersemangat menyambut Ramadhan.

“Fahri, besok mulai puasa ya, dek,” kata Abi.

“Siap, Abi,” kata Fahri mantap.

“Bener nih, mau puasa. Ntar kelaparan lagi!” kak Nia, kakak Fahri, meledeknya. Namun di dalam hatinya, Kak Nia bangga karena adiknya sudah berani berpuasa. Teringat dulu, dia  pertama kali berpuasa waktu kelas tiga SD.

“Ya udah, semoga besok kamu kuat puasanya. Sekarang ayo bersiap dulu,” kata kak Nia.

“Bersiap ke mana, Kak?” tanya Fahri.

“Ke masjid lah, nanti kan sudah mulai shalat tarawih. Biasanya, awal-awal gini masjid penuh,” kata Kak Nia.

“Oh iya, Fahri lupa, hehe,” kata Fahri sambil menepuk jidatnya sendiri. Kemudian ia mengambil sarung dan mengikuti kak Nia dari belakang. Sesampai di masjid, Kak Nia bersama ibu menuju shaf wanita. Fahri bersama ayah bersiap di shaf laki-laki. Suasana masjid sudah ramai. Beberapa saat kemudian, iqamat dikumandangkan.

Selesai shalat isya’, imam masjid menyampaikan kultum di atas mimbar. Beliau membahas tentang kemuliaan berpuasa Ramadhon. Salah satunya, puasa dapat mengistirahatkan lambung dan membersihkannya. Sehingga membuat tubuh menjadi sehat dan segar. Puasa juga membersihkan jiwa manusia serta berlatih menahan hawa nafsu. Fahri mendengarkannya dengan penuh perhatian. Dia tidak ikut anak-anak lain yang bersenda gurau di barisan shaf belakang.

Malam itu, Fahri berhasil ikut shalat tarawih berjamaah hingga selesai. Sebelas rakaat diikutinya dengan khusyuk.

Sepulang shalat tarawih, mengulang hafalan surat-surat pendek bersama ayah. Setelah itu, Fahri pun bersiap untuk tidur. Fahri tidak ingin terlambat bangung untuk makan sahur.

***

“Sahuur.. Sahuur…!”

Suara itu terdengar mengumandang dari pengeras suara masjid. Fahri terjaga dari tidurnya. Matanya masih berat untuk terbuka. Tapi, semangat untuk berpuasa membuatnya bangkit dari tempat tidurnya, lalu melangkah ke luar kamarnya.

Di meja makan, dilihatnya ibu dan Kak Nia sedang menyiapkan hidangan santap sahur. “Hari ini siap berpuasa, dek Fahri ?” tanya kak Nia, sambil mengaduk susu hangat.

“Siap dong, Kak!” jawab Fahri.

Umi tersenyum, “Nanti kalau kamu nggak kuat, boleh kok puasa setengah hari. Yang penting, kamu berlatih puasa, Nak,” kata umi.

“Iya, Umi. Fahri akan mencoba sehari penuh!” kata Fahri, bersemangat.

Lalu, mereka menikmati santap sahur bersama.

***

Hari ini Fahri berpuasa dengan semangat, walaupun di siang hari ia merasa lapar, kak Nia khawatir melihatnya.

“Kaak, Fahri haus,” kata Fahri.

“Sabar ya dek, orang berpuasa ya semuanya haus dan lapar. Puasa itu untuk melatih kita bersabar dan menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Fahri pengen masuk surga, kan?”

“Iya kak,” kata Fahri sambil tersenyum senang.

Untuk menghibur Fahri, kak Nia mengajaknya mengaji dan membaca majalah Adzkia. Fahri pun bisa melupakan rasa laparnya sementara. Sore harinya, kak Nia mengajak Fahri untuk berbuka puasa bersama di masjid.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar…

Alhamdulillah, adzan maghrib berkumandang. Fahri dengan ceria berbuka bersama bersama teman-teman di masjid. Mereka bercanda tawa sambil menikmati hidangan takjil. Kak Nia tersenyum melihat tingkah adiknya itu.

‘Telah hilang rasa dahaga, telah basah kerongkongan, dan tetaplah pahala itu, insyaa Allah.’

Semoga kisah Fahri dapat memotivasi kita untuk mau belajar berpuasa. Ayo berpuasa!! [kak Fatih]

 

 

BACA JUGA: JAM WEKER BARU MILIK RIFAT