Raja’ bin Haiwah Pendamping Khalifah yang Bijak

Raja’ bin Haiwah

Raja’ bin Haiwah adalah seorang ulama dari generasi Tabiin, murid para sahabat. Beliau lahir pada masa khalifah Utsman bin Affan. Beliau lahir di Palestina.

Sejak kecil, beliau dididik untuk selalu mencintai Allah dan RasulNya. Beliau sangat bersemangat belajar dan menuntut ilmu. Menghafal Al-Qur`an dan hadits Nabi. Gurunya adalah para sahabat Nabi, seperti Abu Sa’id al-Khudri, Abu Darda, Ubadah bin Shamit, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan Abdullah bin Amru bin Ash.

Ketika dewasa, Raja’ bin Haiwah dipercaya untuk menjadi menteri pada masa kekhalifahan Bani Umayyah. Sejak khalifah dijabat oleh Abdul Malik bin Marwan hingga masa Umar bin Abdul Aziz.

Raja’ sangat di sukai oleh para khalifah karena kecerdasan akalnya, kebagusan bahasanya, ketulusan niatnya. Raja’ selalu menyelesaikan masalah dengan bijaksana. Selain itu itu, beliau dikenal sangat sederhana. Meskipun menjadi pendamping khalifah, beliau tetap zuhud dan tidak tergiur harta dan kemewahan dunia.

Suatu hari ada orang yang mengadu kepada khalifah Abdul Malik bin Marwan. Si pengadu tersebut mengatakan bahwa ada seseorang yang membenci Bani Umayyah. Karena bencinya, orang itu mencela dan berkata buruk terhadap khalifah.

Khalifah Abdul Malik sangat marah dan berseru, “Demi Allah, jika Allah memberiku kesempatan untuk menangkapnya, sungguh aku akan melakukannya, aku akan melakukannya, akan aku kalungkan pedang di lehernya!”

Tidak berselang lama, orang yang membenci khalifah tersebut berhasil ditangkap. Dia dihadapkan ke khalifah. Ketika melihatnya, khalifah naik pitam dan hampir melaksanakan ancamannya.

Saat itulah, Raja’ bin Haiwah menasihati sang khalifah, “Wahai Amirul Mukminin, Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi Anda kesempatan untuk melaksanakan keinginan Anda dengan kekuatan yang Anda miliki, maka sekarang lakukanlah untuk Allah apa yang disukai-Nya, yaitu ampunan.”

Mendengar nasihat dari Raja’, khalifah pun tersadar. Amarahnya reda.

Hatinya menjadi tenang. Sang khalifah lalu memaafkan orang tersebut, melepaskannya, dan memperlakukannya secara baik.

Seperti itulah bijaknya Raja’

Seperti itulah bijaknya Raja’. Beliau tak segan untuk menasihati khalifah jika bertindak salah.

Kebijaksanaan Raja’ juga nampak ketika khalifah Sulaiman bin Abdul Malik hendak memilih khalifah penerusnya. Waktu itu, Khalifah Sulaiman sakit keras. Dia merasa tak lama lagi akan meninggal.

Mulanya Khalifah Sulaiman ingin memilih putranya, Ayyub bin Sulaiman. Raja’ mengingatkan khalifah bahwa usia Ayyub masih terlalu muda sehingga belum layak untuk menjadi khalifah.

Lalu Khalifah Sulaiman memilih putranya yang lain, Dawud bin Sulaiman. Namun Raja’ mengingatkan khalifah bahwa Dawud sedang berada di medang perang. Belum tentu dia akan kembali dalam keadaan hidup. Khalifah pun mengurunkan niatnya menunjuk Dawud.

Pilihan akhirnya jatuh kepada Umar bin Abdul Aziz. Kali ini Raja’ menyetujuinya. Menurutnya, Umar adalah orang cerdas, bagus agamanya, dan berwibawa.

Akhirnya, Khalifah pun membuat surat wasiat yang menunjuk Umar bin Abdul Aziz sebagai penerusnya.

Pilihan ini sangat tepat. Umar bin Abdul Aziz berhasil menjadi khalifah yang bijaksana. Caranya memimpin mirip dengan Khulafaur Rasyidin. Sehingga Umar dijuluki Khalifah Rasyidin ke-5.