Rajin Mengaji Bertambah Ilmu

Bulan Ramadhan sudah lama berlalu, tapi keindahannya masih terkenang tak terlupakan. Seperti pengalaman kakak menyertai beberapa syaikh dan imam dari Palestina berkeliling Indonesia selama Ramadhan lalu. Sungguh indah dan sangat berkesan.

majelis ilmuPara imam itu berasal dari bumi Syam, negerinya para nabi. Mereka dihadirkan ke Indonesia untuk menjadi imam shalat terawih dan berceramah tentang nasib anak-anak Palestina dan Suriah. Tentang anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Tentang anak-anak di sana yang tidak lagi bisa belajar. Tentang anak-anak yang terpaksa hidup di pengungsian. Sangat mengharukan.

Alhamdulillah, kalian di sini masih punya orang tua. Masih bisa menikmati indahnya hari raya, Idul Fithri. Masih bisa makan enak. Masih bisa leluasa belajar. Masih bebas pulang pergi ke sekolah.

Ada satu pengalaman yang paling berkesan sewaktu kakak mendampingi seorang imam dari Palestina berkunjung ke satu kota kecil di Sulawesi. Selama dua hari, beliau menjadi imam dan mengisi ceramah di sebuah masjid. Tentu saja, dengan didampingi seorang penerjemah.

Baca juga : Tetap Semangat Beramal Shalih

Dan pagi itu, usai shalat shubuh, sang imam berpamitan. Semua jamaah terharu, hingga terisak dan menangis.

Lalu, ada seorang anak kecil yang berlari pulang sambil menangis. Dia sedih sedih karena kepergian sang syeikh. Dia masih ingin shalat di belakang syeikh Palestina itu. Masih terngiang di telinganya, betapa indah suara. Merdu. Bening dan jernih. Bukan saja itu. Bahkan sangat menikmati ketika syeikh ceramah.

Satu hal yang menarik. Kepergian syeikh itu telah menginspirasi dirinya. Si bocah tadi, di sela tangisnya, justeru mengikrarkan janji. Memproklamirkan cita-citanya di hadapan bunda tercinta. Bahwa ia akan belajar lebih rajin lagi. Ingin menguasai bahasa Arab. Ingin lancar berbahasa Arab. Kemudian menjadi penerjemah bagi syeikhnya. Sederhana. Agar dirinya bisa selalu ikut kemana pun syeikh pergi. Subhanallah!

Sang bunda bangga. Tangis bahagia menyerta. Mendengar ucapan yang luar biasa. Anaknya telah bercita-cita mulia. Kemudian didekapnya. Diciuminya. Berkali-kali.

Wow, betapa hebatnya majelis ilmu yang telah membuah anak kecil tersebut termotivasi. Karenanya, mari biasakan menghadiri majelis ilmu. Hadir di acara tabligh akbar, misalnya. Atau menghadiri kajian rutin, khusus anak.

Menghadiri majelis akan menambah ilmu kita. Juga mempererat persaudaraan dan menambah keberhakan.Wawasan ke-Islaman pun meluas. Menjadi bekal hidup dalam keseharian. Juga untuk perkembangan pengetahuan dalam hidup keseharian.

Tentu tidak mudah bagi yang belum terbiasa ngaji. Apalagi kalau kemudian tidak punya waktu untuk ngaji. Tidak punya kesempatan untuk belajar Islam. Duh, jangan sampai terjadi pada dirimu.

Dan gerak langkah keseharianmu hendaknya selalu baik. Selalu bernilai pahala. Selalu dalam rangka mengabdi kepada orang tua. Selalu bermanfaat bagi orang banyak. Selalu dalam keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’aala. Agar hidup ini berkah.

Yuk membiasakan diri hadir di majelis ilmu. Para malaikat pun bershalawat untuk orang-orang yang hadir. Dan seluruh makhluk Allah, tanpa kecuali, semua mendoakan. Tidak kah hati ini tergerakkan?