Rufai bin Mihran, Dari Budak Menjadi Ulama

Rufai bin Mihran, Dari Budak Menjadi Ulama

Teladan kita kali ini bernama Rufai bin Mihran. Seorang ulama tabiin yang dikenal paling paham tentang Al-Qur`an dan hadits-hadits nabi.

Rufai bin Mihran lahir di Persia. Dia tumbuh besar di tanah kelahirannya. Hingga ketika kaum muslimin menguasai Persia, Rufai ikut menjadi tawanan. Dia lalu dijadikan budak.

Rufai lalu hidup di tengah-tengah kaum muslimin. Sehari-hari dia bekerja membantu majikannya.

Meksipun sebagai budak, dia tak pernah menerima perlakuan buruk. Sebaliknya, Rufai merasa lebih tenang dan damai hidup dalam naungan Islam.

Rufai pun memilih untuk memeluk Islam. Sejak itu, dia mulai mempelajari Al-Qur`an dan hadits-hadits nabi. Diantara waktu bekerja, dia membaca ayat-ayat Al-Qur`an.

Majikan Rufai sangat baik. Dia adalah seorang wanita dari Bani Tamim. Dia sangat senang karena Rufai sudah beriman. Bahkan, Rufai tetap belajar ilmu-ilmu agama tanpa mengganggu waktu kerjanya.

Merdekanya Rufai bin Mihran

Hingga pada suatu hari Jumat, Rufai bersiap untuk melaksanakan shalat Jumat. Dia mandi, berwudhu, dan berpakaian rapi. Sebelum pergi, dia meminta ijin majikannya.

Majikannya berkata, “Hendak kemanakah kamu, wahai Rufai?”

Rufai menjawab, “Saya hendak ke masjid untuk shalat Jumat.”

Majikannya bertanya, “Masjid manakah yang kamu maksud?”

Rufai menjawab, “Masjid Jami.”

Lalu, majikannya berkata, “Kalau begitu, marilah berangkat bersamaku.”

Mereka berdua berangkat ke masjid. Namun, Rufai belum memahami apa tujuan majikannya.

Setelah kaum muslimin berkumpul, majikan Rufai meminta waktu untuk bicara. Lalu dia berdiri, dan berkata, “Saksikanlah, wahai kaum muslimin, hari ini aku telah memerdekakan budakku ini, Rufai. Karena mengharap pahala Allah, memohon ampunan dan ridha-Nya. Dan bahwasanya tidak layak seseorang menempuh suatu jalan melainkan jalan yang baik.”

Lalu dia menoleh kepada Rufai dan berdoa kepada Allah, “Ya Allah, aku menjadikan dia sebagai tabungan di sisi-Mu di hari di mana tiada manfaatnya harta dan anak-anak.”

Rufai sangat terkejut, mendengarnya. Tak disangka, hari itu menjadi hari terakhir dia menjadi budak. Hari ini, dia telah menjadi hamba yang merdeka.

Menjadi Seorang Ulama

Setelah merdeka, Rufai bin Mihraan memiliki waktu lebih banyak untuk belajar. Dia beberapa kali pergi ke Madinah Al-Munawarah. Di Madinah, Rufai sempat bertemu dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelum sang khalifah wafat. Dia juga bertemu dengan Amirul Mukminin Umar bin Khathab, belajar Al-Qur`an kepadanya, dan shalat di belakangnya. Rufai juga belajar hadits dari para sahabat nabi.

Rufai sangat bersemangat dalam menuntut ilmu. Dia tak hanya belajar hadits kepada para sahabat nabi di Madinah. Dia rela menempuh perjalanan jauh, demi mendapatkan hadits dari sahabat nabi di tempat yang lain.

Karena kesungguhnannya itulah, dia menjadi seorang ulama. Kepada setiap muridnya, dia biasa menganjurkan muridnya untuk bersemangat dalam mencari ilmu.

Beliau berpesan, “Sibukkanlah diri kalian untuk menimba ilmu dan perbanyaklah bertanya tentangnya. Ketahuilah bahwa ilmu tidak akan hinggap bagi orang yang malu (dalam hal ilmu) dan orang yang sombong. Orang yang malu dia tidak mau bertanya karena malu, orang yang sombong tidak bertanya karena kecongkakannya.”

Itulah teladan dari Rufai bin Mihran. Seorang bekas budak yang menjadi ulama karena kesungguhannya dalam belajar dan menuntut ilmu.