Saad bin Muadz

Saad bin Muadz

Alkisah, Rasulullah mengutus Mush’ab bin Umair untuk berdakwah di Yastrib. Yastrib adalah nama Madinah sebelum peristiwa hijrah. Rasulullah memenuhi permintaan penduduk Yastrib, yang ingin mendapat bimbingan dari salah satu sahabat nabi.

Di Yastrib, Mush’ab bin Umair tinggal di rumah seorang tokoh dari Bani Ghanam, bernama As’ad bin Zurarah. Mush’ab bin Umair membimbing orang-orang Madinah dengan ajaran Islam. Beliau membacakan Al-Qur`an dan mengajarkan tauhid. Banyak penduduk Madinah yang belajar kepada beliau.

Kedatangan Mush’ab ini akhirnya terdengar oleh seorang tokoh Yatsrib, Saad bin Muadz. Saad bin Muadz adalah seorang pemuda Yastrib dari Bani Asyhal yang disegani. Dia berpostur tinggi-besar dan tampan. Kulitnya putih dan janggutnya rapi.

Saad bin Muadz tidak suka dengan kedatangan sahabat nabi itu. Apalagi, dia menginap di tempat saudaranya sepupunya, As’ad bin Zurarah.

Dia pun meminta temannya yang bernama Usaid bin Hudhair untuk mengusir Mush’ab bin Umair. Jika saja Saad tidak bersaudara dengan As’ad bin Zurarah, tentu Saad sendiri yang akan mengusir Mush’ab.

Namun, Usaid yang diutus untuk mengusir Mush’ab malah masuk Islam. Usaid tak mampu menahan datangnya hidayah setelah mendengar ayat-ayat Al-Qur`an yang dibacakan oleh Mush’ab. Bahkan Usaid mengajak Mush’ab untuk menemui Saad bin Muadz.

Islamnya Saad

Maka, berangkatlah Usaid bersama As’ad dan Mush’ab menuju Saad. Saat itu Saad sedang berkumpul bersama kaumnya.

Mush’ab lalu berkata kepada Saad, “Dengarkanlah apa yang aku sampaikan. Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”.

Saad pun menerimanya. Mush’ab lalu menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, juga membacakannya ayat-ayat Al-Qur`an.

Saad begitu kagum dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur`an. Juga dengan ajaran-ajaran Islam  yang disampaikan Mush’ab. Kemudian Saad berkata, “Apa yang harus aku perbuat jika hendak memeluk Islam?”

“Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat,” jawab Mush’ab.

Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab. Setelah itu, Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang aku di sisi kalian?”

Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya.”

Saad bin Muadz mengucapkan kalimat syahadat di depan kaumnya. Dia juga mengajak seluruh kaumnya untuk masuk Islam. Saad berkata, “Haram bagi kalian berbicara kepadaku, sampai kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”

Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman, kecuali seorang saja, yaitu Ushairim. Ushairim baru masuk Islam ketika tiba Perang Uhud.

Syuhada Khandaq

Setelah masuk Islam, Saad bin Muadz menjadi orang Anshar yang selalu berjuang bersama Rasulullah. Saad bersama sahabat lainnya dari kaum Anshar ikut dalam perang Badar dan perang-perang berikutnya.

Saad bin Muadz syahid saat peristiwa Perang Khandaq atau Perang Ahzab. Saat itu, Kota Madinah dikepung oleh sekutu-sekutu kafir Quraisy. Saad bin Muadz terluka parah. Lengannya terkena panah.

Kian hari luka yang diderita Saad pun semakin parah. Rasulullah mengunjunginya. Beliau meletakkan kepala Saad di pangkuannya sambil bersabda, “Ya Allah, Saad telah berjihad di jalan-Mu, membenarkan Rasul-Mu, dan telah memenuhi kewajibannya. Maka terimalah ruhnya dengan sebaik-baiknya cara Engkau menerima ruh.”

Saad bin Muadz pun menghebuskan nafas terakhirnya. Dia wafat di pangkuan Rasulullah, manusia yang paling ia cintai.