Said Bin Harits – Berbuka Puasa di Jannah

Pada tahun 38 H, kaum muslimin berperang melawan bangsa Romawi. Pasukan Islam dipimpin oleh Maslamah bin Abdul Malik. Salah satu pasukannya adalah seorang pemuda yang shalih dan rajin beribadah. Dia bernama Said bin Harits.

Said Bin Harits

Said bin Harits sangat taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Pada siang hari, dia berpuasa. Malam harinya, dia shalat malam. Dia menghabiskan waktu luang dengan berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur`an.

Kaum muslimin melawan pasukan Romawi yang sangat kuat. Pasukan musuh bertahan di dalam benteng-benteng yang kokoh. Kaum muslimin mengepung selama berhari-hari.

Pada malam hari, perang dihentikan. Semua pasukan beristirahat di dalam tenda-tenda. Beberapa orang diberi tugas untuk berjaga-jaga.

Malam itu, Said bin Harits mendapat giliran jaga. Said berkeliling, mengawasi tiap sudut tenda kaum muslimin. Ketika waktu pergantian tiba, Said tidak langsung tidur. Said berdiri untuk shalat malam.

Seorang temannya berkata, “Tidurlah wahai Said, karena kita tidak tahu keadaan musuh. Engkau harus beristirahat agar ketika terjadi sesuatu engkau dalam keadaan siaga.”

Maka masuklah Said ke dalam tenda untuk beristirahat.

Janji Allah Kepada Said Bin Harits

Di luar tenda, ada seorang prajurit jaga bernama Abdul Wahid. Dari luar tenda, dia mendengar Said berbicara sendiri dan tertawa dalam tidurnya. Tiba-tiba, Said terbangun dari tidurnya dan melompat sambil mengucapkan takbir dan tasbih.

Abdul Wahid pun menanyakan keadaan Said, “Apa yang terjadi padamu, wahai Said? Ceritakanlah kepadaku.”

Said pun bercerita, “Aku bermimpi melihat dua orang yang sangat sempurna fisiknya, mereka berkata, ‘Wahai Said, sungguh Allah telah mengampuni dosamu dan menerima amalanmu. Kami akan perlihatkan kenikmatan yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’ Lalu aku dihadapkan kepada seorang bidadari yang sangat cantik. Aku bertanya kepadanya, ‘Dimanakah aku?’ Dia menjawab, ‘Engkau berada di surga.’ Aku bertanya lagi, ‘Siapakah engkau?’. Dia menjawab, ‘Aku adalah istrimu nanti. Tapi sekarang engkau harus kembali ke dunia. Engkau akan hidup tiga hari dan engkau akan kembali ke sini berbuka puasa bersama kami di malam ketiga, Insyaa Allah.’ Kemudian aku terbangun dari tidurku. Tolong jangan ceritakan mimpiku ini kepada orang lain sebelum aku meninggal dunia.”

Lalu siang harinya, Said kembali berperang bersama pasukan. Dan di malam hari, Said shalat malam, sampai menangis karena rindu kepada Allah.

Baca juga : Cita-cita Tinggi Umar bin Abdul Aziz

Gugurnya Said Bin Harits

Sampailah hari ketiga. Hari yang dijanjikan Allah kepada Said. Said berperang dalam keadaan berpuasa. Dia maju menyerang pasukan musuh dengan gagah berani. Lisannya terus berdzikir, tangannya menyabetkan pedang. Tak ada sabetan pedang dan tusukan tombak yang melukai tubuhnya. Hingga menjelang berbuka puasa, sebatang anak panah musuh menusuk leher Said. Jatuhlah Said di atas tanah.

Abdul Wahid mendekat kepadanya dan berkata, “Selamat atas buka puasamu di jannah, seandainya aku dapat pergi bersamamu..”

Said berkata dalam keadaan sakaratul maut, “Segala puji bagi Allah yang telah menepati janjinya kepada kami.” Kemudian beliau meniupkan nafasnya yang terakhir. Allahu akbar!

Semoga kisah keshalihan Said bin Harits dapat menjadi pelajaran bagi kita. Kisah ini diceritakan oleh sahabat beliau Abdul Wahid bin Zaid.